WITH QURAN LOVE QURAN

Friday, March 27, 2015


Aisyah Keenan Azzahra (6 bulan)


Enam bulan yang lalu, tepatnya 23 September 2014, saya melahirkan seorang perempuan cantik yang putih, tembem dan lucu. Aktivitas saya yang biasanya bekerja pada perusahaan yang berbasis Quran, libur selama 3 bulan (cuti) memenuhi kebutuhan bayi saya terhadap ASI.

Status baru sebagai new mom membuat saya melewatkan hal yang biasa saya lakukan yakni berinteraksi  dengan Al Quran. Di masa nifas, saya banyak menghabiskan waktu dengan mendengar tilawah dari hafalan yang selama ini saya hafal, agar tak benar-benar hilang. 

Semasa cuti, ada hal yang saya rindukan dari kantor. Waktu bersama Al Quran adalah hal yang selalu saya nantikan. Mungkin kalau dibandingkan dengan para hafizh, saya kalah jauh. Saat membaca, menghafal, ada rasa damai bersama Al Quran. 

Usaha untuk menambah hafalan saat cuti kantor belum dapat saya penuhi. Di situ saya merasa sedih. 

Tak terasa, tiga bulan masa cuti pun berakhir. Dengan agak berat hati, saya akhirnya mulai aktivitas saya untuk kembali bekerja. Sebagai ibu baru, berat rasanya meninggalkan bayi yang lucu dan sudah mampu  berceloteh. Tapi saya kembali meluruskan niat saya. Saya pun menitipkan Aisyah Keenan (sekarang berumur 6 bulan) pada neneknya. 

Tibalah saat masuk kantor, di hari Jumat, saya berkumpul dengan teman-teman kelompok tahsin tahfizh. Saya pun bermujahadah lagi di juz 27. Meski sedih karena baru bisa menambah hafalan saat pagi akan setornya, atau dari kemarin harinya, saya coba untuk terus menambah beberapa ayat setiap setor. 

Ada teman kantor yang nyeletuk, “beda ya teh saat ngafalin pas masih single dengan udah punya baby?” saya pun tersenyum. Sebenarnya hal tersebut bukan juga menjadi alasan. 

Baru saja saya diingatkan oleh teman bahwa sesibuk apapun, kita dapat berinteraksi dengan Al Quran kalau memiliki niat yang kuat. Selain itu ada pengorbanan yang mesti kita lakukan saat akan menghafal Al Quran, yakni salah satunya dengan mengurangi jam tidur. 

Sebenarnya saya agak ragu dengan hal ini, Bisa tidak yaa? Bagaimana kalau malam Aska, panggilan kecil putri saya, terbangun? Bagaimana dengan jadwal perah di malam hari? Apakah bisa?, dan lain sebagainya.  Batin saya pun bergejolak. 

Tapi jujur, saya rasakan ketenangan bersama Al Quran. Ingin terus berinteraksi dengan Al Quran. Alhamdulillah saya dapat bekerja di kantor yang dapat mendukung aktivitas karyawannya untuk selalu bersama Al Quran. Setiap hari tak lepas dari nilai-nilai Al Quran. 

*
Aska dan Abi
Bersama dengan suami, ada hal yang kami terapkan kepada si Kecil agar ia dapat mencintai Al Quran juga sejak dini. Setiap pulang kantor dan bertemu dengan Aska, saya selalu mendawamkan beberapa surah pendek kepadanya. Tanggapan Aska saat saya membacakan, Aska memerhatikan wajah saya dan seperti mengamati apa yang saya baca. 

Berbeda dengan Abi nya. Selepas shalat isya di masjid, suami saya memangku Aska, dan membacakan Al Quran dihadapan Aska yang dipangku. Aska yang tampilannya sudah agak mengantuk dan sedikit lelah karena seharian main pun, memerhatikan abi nya membaca Al Quran. 

Kami yakin, kelak hal ini akan membuahkan hasil untuk Aska nanti.. Maka dari itu, hal ini harus diteladani dari kedua orang tuanya untuk terus meningkatkan interaksi dengan Al Quran. Tidak dengan membaca saja, namun juga dengan tadabbur, menghafal, dan mengamalkannya. insyaAllah. Allahummarhamna bil Quran.

*Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi blog #AkuDanQuran

You Might Also Like

0 komentar

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#