GADHUL BASHAR

Kini kutahu berarti harus kulawan diriku sendiri, nafsuku, amarahku, yang buat jauh dari-Mu, Ya Allah... (dalam Nasyid Coba ku Buka, Fatih)

Di sebuah siang Jalasah Ruhiyah di kampus saya, mengupas Problematika Muslimah hal yang tak luput diulas ialah mengenai Virus Merah Jambu yang menimpa kalangan kader dakwah, adapun beberapa yang tumbang, berguguranlah mereka di jalan dakwah.

Berawal dari diskusi yang hidup (baca: oleh haru biru tangisan), berbeda dengan sesi berikutnya, saya pun tersenyum, narasumber sangat menguasai materi dan audiens seketika sesekali tertawa oleh pemaparan Ustadzah cukup santai, namun berbobot.

Ustadzah memaparkan definisi Merah Jambu, virus yang sangat membahayakan menimpa kader ikhwan dan akhwat. Dalam pemaparan beliau, Virus Merah Jambu terdiri atas tiga stadium yaitu pertama Pra-VMJ, kedua Pelaksanaan dan tahap ketiga Penyesalan.



Saat menimpa stadium pertama dan kedua, bagi mereka yang terkena virus ini akan terlena. Dunia hanya dianggap milik berdua. Tak sadar kalau orang di sekeliling mereka memerhatikan dan merasa aneh. Orang awam beranggapan kalau dalam diri mereka masih melekat label aktivis dakwah. Sehingga imej dakwah sendiri tercoreng.

Saat muncul berbagai pertanyaan dari sahabat, tentu bagi mereka yang terkena virus ini akan merasakan tahap yang menyakitkan yaitu penyesalan. Saat diingatkan oleh sahabat atau murabbi, ada yang marah dan menjauh. Ada pula yang menyesal, dan bertaubat memohon ampun kepada Allah Swt. Tahukah sahabat awal mula sebab itu semua?

Pandangan mata itu (laksana) anak panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis. Barangsiapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita, maka Allah mewariskan kelezatan di dalam hatinya hingga hari ia bertemu dengan-Nya. (HR Ahmad)

Ya semua berawal dari pandangan. Maka benarlah Allah Swt meminta kita untuk Gadhul Bashar. Gadhul Bashar dalam bahasa indonesia diartikan sebagai menjaga pandangan. Menjaga pandangan sangat penting untuk menghindari berbagai fitnah. Allah memerintahkan segala sesuatu tentu ada maksud dan hikmahnya. Bila tidak ditaati, akan mencelakakan dan menjerumuskan.

Wanita menjadi figur yang mulia bagi siapapun karena kita dilahirkan dari Ibu. Pada dasarnya yang menjerumuskan karena wanita yang dicintai belum menjadi mahrom, sehingga Allah Swt memerintahkan untuk menahan diri karena yang paling harus dilawan ialah melawan hawa nafsu diri kita sendiri.

Wanita berpikir. Ya seringkali wanita berpikir, bahkan hal sekecil apapun menjadi besar dan membuatnya was-was tidak menentu. Sedang lelaki fitrahnya dicipta untuk melindungi, mengayomi juga naluri lelaki-nya yang membuatnya tak tahan bila melihat perempuan mana sekali pun dalam keadaan sedih.

Tapi tentu, ini harus dicegah. Karena kalau keduanya mempunyai keterikatan yang lebih, maka tak mustahil mereka tengah berputar-putar dalam bara api cinta. Dan ini sungguh menyiksa.
Lha, kenapa menyiksa?

Mungkin kita tak merasa, bahwa pelan-pelan kita sudah masuk ke dalam perangkap dosa. Yang perempuan benar-benar menggantungkan dirinya pada si lelaki, juga si lelaki terus saja perhatian pada perempuan. Sehingga keduanya tak dapat menahan nafsu untuk tetap saling berkomunikasi lagi, untuk sekadar bercanda, bertemu dan ya.. tersiksa saat berpisah. Rindu ingin bertemu.

Mungkin semua itu indah saat dipandang mata, dan sesaat. Tapi apa dampaknya di masa yang akan datang? Sungguh sangat mengecewakan bila hari-hari kita diliputi angan-angan yang terus berkepanjangan. Bukankah angan-angan bukanlah mimpi?

Keduanya harus saling memahami, bahwa itu tidak benar. Dan setelah yakin keduanya harus mulai jaga jarak. Ya setidaknya untuk saling menahan keinginan untuk saling bertemu, untuk saling berkomunikasi sekalipun.

Terkadang walaupun sudah dibentengi dengan kata ‘akhwat’ atau juga ‘ikhwan’ juga tetap saja kalau soal cinta terkadang suka untuk mendahului atau melangkah lebih jauh.

Maka pembentangan keimanan mesti dibangun dan mulai dipupuk. Dari mulai selangkah, hingga langkah-langkah berikutnya. Dari mulai bacaan, tema-tema musik yang didengarkan, lantas ibadah-ibadah yang mulai kita lakukan secara istiqamah, semua harus kita tingkatkan. Dan juga pertahankan. Karena tak ada yang tahu, mau bagaimana dan dalam keadaan bagaimana pun, kita tak bisa menduga takdir Allah. Siapa tahu orang yang kita idam-idamkan kini, bukanlah jodoh kita kelak?

Untuk itu, sebagai akhwat memang sudah semestinya pula menjaga diri pula, tidak mengumbar aurat dan hal-hal yang dapat membuat sia-sia. Hati-hati akhwat kalau sms-an, facebook-an atau menerima telepon.

Menjaga izzah (harga diri) sebagai penyikapan yang terbaik. Peran akhwat sebagai anak di rumah, sebagai kakak, sebagai guru ataukah sebagai aktivis, dikemas dengan sholehah. Semua akan indah pada waktunya, sahabat. Insya Allah.



Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan