LANGIT PALESTINA

Cerpen Sri Al Hidayati

Palestina kehilangan tanahnya

Dari ciptaan ilahi Rabbi, di sudut sebuah kota terdapat dua petak rumah berdekatan satu sama lain. Keduanya hidup akur dan berdampingan, terlebih mereka merupakan saudara dekat.

Angin laut tampak menderu, menampar setiap pohon yang menjulang, menggoyang dedaunannya. Adapula daun yang berjatuhan, menimbulkan sejuta tanya pada Abdul, bagaimana merangkai puzzle agar dapat sempurna?

Abdul memandang pekarangannya. Ia dapat melihat mobil keluarga Khalid yang sejak petang  kemarin bersilaturahim kepada keluarganya. Mobil itu hampir setiap tahun berdiri kokoh hendak turut merekam momen penting dalam bingkai tradisi mudik di Indonesia, dan kerapkali ribuan orang dari penjuru tanah air bertolak mudik, merindukan suasana berlebaran di tempatnya masing-masing.

Sebuah rencana jahat telah menimpa keluarga besar Abdul. Hal ini diketahui pula oleh keluarga Khalid.  Sebenarnya benar saja dan boleh juga bila benalu ini tidak dipermasalahkan. Namun waktu yang terus berputar, menandakan bukan tanah di samping rumahnya saja yang akan diakui, tapi bisa juga pekarangannya. Rasa benci telah memenuhi hati Abdul. Gumpalan itu disebabkan bertumpuknya kekesalannya terhadap Hindun.
Hindun namanya, seorang istri dari keponakan Abdul sendiri bernama Hamdan. Sudah tahun ketujuh mereka menikah, dan telah dikaruniai tiga putra. Namun kedamaian itu telah retak dalam kedua keluarga besar tersebut.

Baru bulan kemarin, Abdul mendengar kalau Hindun angkat kaki dari rumahnya bersama dengan kekayaan yang ia miliki, seekor sapi. Ia pun menjinjing pakaian seadanya. Sesekali menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya akan berubah pikiran atas pertengkaran hebat yang secara tak sengaja, mengendap hebat pula pada putra-putra mereka yang saling berpegangan dan menangis karena suasana begitu terjadi lagi di hadapan mereka. Namun bukan bertengkar dengan orang lain, namun ayah dan ibu mereka sendiri.

Istri Abdul yang melihat Hindun tengah berjalan sendirian dengan kepayahan pula menarik sapi tersebut menimbulkan sejuta tanya baginya, Hindun diusir Hamdan?

Masih terekam di benak Abdul saat Hindun begitu senang menyumpah-nyumpah mertuanya yang baru saja meninggal karena kecelakaan berdarah yang membuat sejuta kesedihan pada desa tersebut, semakin nyata cita-citanya untuk menduduki rumah tersebut. Abdul menggelengkan kepalanya. Ia teringat dengan tanah Palestina yang ingin direbut oleh Israel.


Sebulan yang lalu kini tiada arti lagi. Hindun telah kembali ke rumah Hamdan. Abdul kesal. Ingin rasanya ia mengubur masalah tersebut, namun Hamdan saat ditemui seakan lupa perbincangan kemarin-kemarin. Kesepakatan dua keluarga besar pecah seketika, dan ini semua tentu tak lepas dari peran Hindun yang selalu mengasapi Hamdan dengan berbagai khayalannya. Usia Hindun yang lebih tua dari sang suami membuatnya semakin pongah dan semakin tidak tahu diri.

Abdul selalu terkenang dengan keponakannya tersebut yang muda dulu. Apakah ia tidak berkaca? Tidak cocok dari manapun Hamdan dengan Hindun. Persis seperti Israel yang bermuka dua pada Pemerintah Palestina, saat rakyatnya menjerit-jerit kesakitan perih dan terluka. Di sisi lain ada pihak yang terbuai dengan taring tersembunyi. Hamdan seperti disihir dan akhirnya manut saja pada Hindun. Bahkan dia seperti tidak mengenal saudara-saudaranya lagi. Tidak ada lagi silaturahim. Bukan atas kehendak Abdul, sebenarnya.

Dulu pernah Abdul berusaha mendekati Hamdan, tapi yang terjadi Hindun mempermalukannya di depan umum. Terjadi pertengkaran hebat. Kontan para tetangga merasa ada yang sesuatu yang janggal, lantas keluar dari rumah mereka, dan melihat pertengkaran tersebut bak melihat tontonan gratis.

Pak RT segera datang melerai. Berusaha menengahi, meski perang tidak berhenti, karena terus saja berbicara. Abdul tidak tahan karena letupan emosi Hamdan dan Hindun. Mata Hamdan tampak cekung, wajahnya tampak tirus. Mata itu seperti diperalat.

Baru saja beberapa minggu yang lalu Hamdan duduk bersama dengan keluarga Abdul, kabarnya Hamdan sudah kesal karena Hindun selalu menuntutnya ini itu, sebenarnya Hamdan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, sebelum mengusir istrinya ia berkata, “Paman saya sebenarnya baik, hanya saja kamu itu….”

“Ya Allah, Engkau yang telah menciptakan manusia sesempurna Rasulullah Saw. sepeninggal Rasulullah Saw. jauh tetap ada orang jahat dan tidak menyenangi kebajikan. Berikanlah kebaikan dan rasa dosa terhadap-Mu, Ya Allah,” ucap Abdul.

Abdul kembali mengingat-ingat cerita orang di sekelilingnya. Bahkan Ibu kandung Hindun pun tidak mengakui Hindun sebagai anaknya. Hindun tidak pernah melaksanakan sholat. Ibu Hindun tidak tahan dengan perlakuan Hindun dan mengusirnya dari rumah. Hindun pun merasa tidak perlu untuk kembali.

“Aneh rasanya keponakanku yang satu itu mengabaikan hal satu ini: untuk mendidik istrinya.” Ucap Abdul pada Khalid. Mereka berdua tengah duduk-duduk di depan teras rumah.

Memperbincangkan masalah sejak tiga tahun yang tidak selesai karena selalu saja berubah.

Hamdan harus sadar kalau tanah itu bukan milik orang tuanya, akan tetapi milik neneknya yang merupakan orang tua Abdul. Toh kesepakatan dari Ibu Abdul ialah dibagi rata untuk berempat. Abdul, Hamdan, selain itu ada Istri Khalid, adik dari Hamdan, dan Ayu, adik bungsu Hamdan. Mengapa Hindun jadi ikut campur?!, batin Abdul.

“Bahkan Hindun membuat ulah dengan membuat batas pada pekarangan rumah, entah alasan apa,” ucap Abdul sambil melihat pekarangan rumahnya yang semakin tipis, pada Khalid.

“Hamdan sudah tidak mengenal siapa lagi kami,” kata tersebut dilanjutkan dengan helaan nafas panjang dari Abdul. Obrolan dengan Khalid terasa sangat panjang, meski berat ia mengungkapkan, namun Abdul merasa dirinya telah lega karena dapat mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.

“Saya tentu tidak mengharapkan harta itu, demi Allah, Allah akan membalas yang terbaik,” kini ucapan Abdul berakhir dan segera membenarkan letak sandal, tidak lupa mengajak Khalid untuk pergi ke Masjid.
                                                                              *
Angin laut tampak menderu, menampar setiap pohon yang menjulang, menggoyang dedaunannya. Adapula daun yang berjatuhan, menimbulkan sejuta tanya pada Abdul, bagaimana merangkai puzzle agar dapat sempurna?

Sesaat ia ingin melupakan masalah tanah yang belum usai. Biarlah Allah yang Maha Adil yang Menjaganya.

Abdul mengikuti cerita dengan baik dari laptopnya. Referensi Harun Yahya menjadi idolanya akhir-akhir ini. Nabi Musa, Nabi penyabar, di saat Fir’aun dan tentaranya tidak mengakui kebesaran Allah Swt, Nabi Musa ditinggalkan oleh Bani Israel, dan Allah Swt menimpakan bencana kepada mereka, sehingga tidak mendapatkan tanah yang dijanjikan karena kekurangajaran mereka terhadap Allah Swt sampai 40 tahun dalam perhitungan Al Qur’an.

Sampai sekarang tanah yang dicaplok dan menghantam negeri Palestina terus diberikan dukungan dengan materiil dan immateriil berupa bentuk perjuangan sebagai relawan atau dokter. Sebuah pernyataan yang mereka pegang kuat-kuat yakni, “Bukankah kalau syahid, Allah akan menempatkan di surga?!”

Abdul terketuk hatinya, selalu mendoakan dalam salat-salatnya. Saat menonton film Valley the Wolves Palestine, melihat kekejian Israel yang menghancurkan rumah rakyat Palestina dengan orang-orang yang masih berada di dalamnya. Naudzubillah.

Muslim Palestina yang terbiasa hidup dengan desingan peluru dan isak tangis mulai melempar batu-batu berharap menghancurkan tank-tank Israel bahkan menciutkan hati zionis Israel meski di tangan tentara tersebut membawa senapan laras panjang.

Bahkan amunisi sederhana dari botol yang diisi minyak dilemparkan. Sesaat mobil meledak. Sekali lagi, hal yang membuat geram tentara Israel. Sebuah cita-cita tertinggi dapat membebaskan tanah Palestina dengan hanya boleh dikalahkan oleh Islam.

Abdul teringat lagi dengan serangan Israel terhadap kapal bantuan Mavi Marmara untuk Gaza tahun 2010 lalu, pada pasukan Freedom Fotila Armada Kebebasan, itu hanya satu dari mata rantai kebiadaban Israel. Lantas bagaimanakah sikap PBB terhadap pelanggaran HAM ini? Bagaimana juga sikap pemimpin Arab dalam melawan kezaliman Israel?

Apakah kita takut mati? Baik disebabkan pembunuhan, kanker, semua sama. Kita semuanya menunggu akhir kehidupan kita. Tidak ada yang berubah. Jika maut disebabkan  dengan Apache¹ atau dengan berhentinya detak jantung. Saya lebih suka memilih Apache…. [Dr. Abdul Azis Rantisi]

Satu persatu pahlawan Palestina membayang, Rajawali Palestina yakni Dr. Abdul Azis Rantisi, murid Syeikh Ahmad Yassin yang merupakan Syeikh Ketua Syuhada Abad 20, kepalan tangan Rantisi dan semangat terbaca dari sorot matanya, semua itu membuat terenyuh dan menimbulkan rasa haru luar biasa.

Keduanya meski dibunuh, tetapi Zionis tidak mampu membunuh pemikirannya. Mereka menumbangkan tubuhnya, tapi fikrahnya menembusi jiwa-jiwa. Bermulalah darahnya menyirami pohon dakwahnya.

Abdul merenung dan terus kata tersebut menelusup ke relung hatinya yang terdalam. Bila ingat ini bulan Syawal, maka pikirannya mengawang saat Ramadhan kemarin, bahkan untuk merasakan makan yang enak pun, perasaan tersebut harus dikubur dalam-dalam oleh para tahanan Palestina.
                                                                            *
Saya tidak terima. Saya menyeka air mata dengan ujung kerudung saya. Ending film Valley of the Wolves Palestine tak seindah kenyataannya. Banyak cerita kebenaran mengenai kepedihan yang ditanggung rakyat Palestina, dan tidak ada yang bisa saya lakukan selemah mungkin berdoa. Air mata ini tak henti mengalir membaca artikel-artikel Paman Abdul.

Sudah seminggu lewat selepas mudik, Bandung lebih dingin dari biasanya. Saya mesti beradaptasi lagi setelah seminggu rasa panas yang menguap karena cuaca sangat berbeda jauh dengan di Bandung. Batuk hebat menyerang. Saya rasa ini kali pertama merasakannya sampai tidak tahan menahan air mata menahan rasa sakitnya, dan mata yang ikut memerah.

Akhirnya saya bisa berikhtiar membungkus diri dengan sweater berwarna cokelat kesayangan, meski Bunda menasihati untuk segera minum obat, saya hanya dapat berucap, “Sedang Shaum Syawal, Bu” ucap saya sambil takut-takut Bunda mengetahui saya sudah menangis, padahal kamar  ditutup. Oh, Mungkin karena suara batuk memang terdengar kencang, batin saya.

Saya masih ingat jelas saat Bunda amat sedih karena melihat kakaknya, Paman Hamdan  seperti orang asing di hadapannya. Saya pun merasa seperti itu. Hanya karena dunia, naudzubillah. Sungguh tak mengharapkan tanah itu sedikitpun karena toh Bunda dan Ayah sudah cukup dengan yang Allah berikan saat ini. Tapi keadilan tetap harus ditegakkan.

Ah sudahlah astaghfirullah, saya menutup muka beberapa saat.
Setelah cukup tenang, saya membuka data yang diberikan Paman Abdul. Selain artikel, cukup banyak video berdurasi singkat yang menumbuhkan rasa penasaran.

Ribuan orang mengiringi kepergian Sang Imam, pemimpin mereka, pendiri HAMAS, yang selalu menyalakan semangat untuk berjuang atas tanah mereka. Sebetulnya siapa yang merebut dan siapa yang memulai perang?

Wajah anak mungil tersenyum dalam wafatnya. Tidak ada keluhan dari bibir Sang Ibu, yang ada rasa ridho melepasnya. Anak usia sekolah berlari berani dan mantap langkahnya melempar batu ke tank-tank Palestina, meski besar resikonya yaitu meninggal. Namun baginya, syahid merupakan cita-cita tertinggi.

Zionis Israel menangkap para nelayan Palestina yang sedang mencari ikan. Padahal nelayan mencari sejauh 2 mil dari pantai, karena Israel mengizinkan melaut sejauh 3 mil. Pada kenyataannya tentara Israel menangkap perahu meski nelayan tidak melanggar apapun. Cukup banyak kesepakatan manusia yang dibingkai janji namun dilanggar pula.

Siapakah yang lebih adil perhitungannya kelak Allah Swt dalam Hari Perhitungan?
Pembunuhan massal saat Perang Vietnam menggunakan napalm dipakai dalam pengeboman di Irak, lalu Fosfor di Falujjah dipakai jelas-jelas dilarang, dan kini Zionis menggunakan senjata kimia terlarang berupa fosfor putih di Palestina.

“Saat bom dilepas dari pesawat ini akan terlihat bersinar memancari sinar biru, terbentuk awan yang efeknya timbul pada radius 150 meter dan membunuh bukan saja manusia, tapi juga hewan. Saat terkena fosfor, maka bukan hanya membakar daging, namun juga ke tulang.

Ia tidak membakar pakaian, tapi kulit di bawah pakaian. Masker pelindung tidak berguna karena gas tidak membakar masker. Ia akan melubangi wajah. Jika menghisapnya, tubuh akan melepuh dan tenggorokan paru-paru akan sesak dan membakar dari dalam. Ia bereaksi pada kulit, oksigen dan air. Cara satu-satunya menghentikan efek membakar dengan lumpur basah,” ucap seorang tentara dalam dokumentasi video tersebut.

Tak sadar membuat saya banjir tangisan. Saat tidak peduli, seharusnya saya ingat bahwa Palestina merupakan Negara pertama-tama mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, setelah pengakuan dari Mesir. Hal tersebut menginspirasi mereka. Bahkan persaudaraan seiman dan seislam telah benar-benar mengikat hati muslim. Terlebih dunia telah mengetahui sejak tahun 1945 pun, Indonesia merupakan Negara dengan Muslim terbesar di dunia.

Ibu-ibu Palestina terlebih membuat saya semakin kagum. Mereka tegar meski kehilangan putra-putranya, Allah Swt menggantinya dengan menitipkan pada rahim Ibu Palestina dengan jumlah terus-terus-terus bertambah dan mencengangkan Zionis dan membuat mereka tidak habis pikir.

Allahu Akbar….
Allah Maha Besar….
Anak-anak Palestina diajarkan untuk berpegang pada pedomannya, Al Qur’an dan As Sunnah. Terakhir HAMAS melantik 15.000 hafidz Palestina dan mereka merupakan pemuda yang akan memegang amanah besar: Hidup Mulia atau mati syahid memperjuangkan Palestina.

Bagaimana kabarmu Wahai Langit di Negeri Palestina? Bukakanlah Ya Rabbi keagungan-Mu. Tidak ada kompromi untuk Zionis dan para sekutunya.
Selang dua jam terhanyut dalam doa, saya merasakan hal yang berbeda. Saya tidak merasakan batuk-batuk seperti sedia kalanya. Allahu Akbar.

Teringat akhir para penguasa yang tidak mengimani Allah Swt. Kisah Namrud yang dengan angkuhnya ingin membunuh Tuhannya Ibrahim, dengan menggunakan panah memanah ke atas langit. Tentu saja hal tersebut tidak akan sampai benar-benar ke langit. Beberapa saat kemudian, Raja Namrud kemasukan nyamuk pada hidungnya. Bahkan ia tidak dapat menolong dirinya sendiri. Mengapa mereka tidak belajar dari sejarah orang-orang terdahulu?

Tiba-tiba Bunda membuka pintu, “Maryam, sudah saatnya berbuka shaum…”
“Iya Bunda, terima kasih….”
“Kamu menangis sayang?” tanya Bunda membuat saya tersadar.
Saya menunjuk video Palestina yang masih diputar, lalu mengacungkan bendera Palestina yang saya punya saat aksi dulu, dan menggoyangkannya. Love U Palestine. Bunda pun tersenyum.

Bandung, Syawal 1432 H
Umat muslim bergeraklah untuk Palestina mu

Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan