NEGERI CINTA

Cerpen Sri Al Hidayati

Aku mungkin bukanlah orang yang mengerti tentang sebuah perjuangan mendapatkan cinta. Tapi inilah kisahnya, orang yang selalu berjuang dan ingin menceburkan dirinya dalam cinta. Cinta ya cinta. Ia memang patut dikejar.

30 hari mencari cinta. Akankah bulan penuh rahmat ini akan kembali?

Aku sangat ingin mendapatkan cinta sempurna itu. Aku berasal dari negeri yang jauh sekali. Negeri yang memang mungkin orang kebanyakan tak mengenalnya. Itulah Negeri Sunyi.

Mungkin mendengarnya saja orang-orang akan malas dan menjauh darinya. Orang yang memang kurindukan saat ini berada di negeri Cinta. Aku ingin sekali kesana.

Mula-mula biasa saja, bahkan diingatanku yang kuingat hanyalah negeri yang kutinggali ini bersama dengan keluarga besar, dan juga para tetangga.

Sekarang, sudah saatnya mungkin aku berkemas. Aku memang ingin ke Negeri Cinta. Aku sudah mencoba mengajak keluargaku untuk ikut bersamaku. Namun sayang mereka menolakku segera. Mereka bilang aku ini ngaco. Entahlah, aku pun bingung jadinya. Aku menerka-nerka, apa kesalahanku mengajak mereka ke negeri Cinta? Disana segalanya ada.

Tersedia.


Namun, sudahlah, daripada berdebat yang membuatku bertengkar hebat dengan mereka, baiknya aku diam saja. Aku sendirian kesana juga tidak apa-apa. Aku ingin menemukannya dan akan kubuktikan pada mereka bahwa yang kulakukan itu, benar.

Mulailah aku bersiap-siap. Aku ingin membawa bekal yang banyak. Aku pikir-pikir sekali lagi, kuingat-ingat bekalku sedikit saja, maka aku mengurungkan niat kembali. Aku ingin mengumpulkannya terlebih dahulu.
Maka aku bergiat sekali dalam bekerja. Bisa dikatakan aku sangat semangat mengumpulkan bekal. Biar kata keluargaku aku orang aneh, aku tak peduli. Kutunjukkan pada mereka, kalau aku bisa.

Hingga tibalah saatnya aku sudah teramat merindukan Negeri Cinta. Aku tak bisa menundanya lagi. Aku sudah cukup menahannya sejak lama. Sebenarnya aku merasa tak pantas kesana, aku malu membawa bekal hanya segitu saja.
Namun entah mengapa jadinya aku tetap saja malah berangkat. Aku berpamitan dengan keluargaku. Meski ada rasa berat di hati, namun kulanjutkan saja.

Aku segera tersenyum begitu keluar dari Negeri Sunyi. Kutemukan hal baru dan hiruk pikuk kota sungguh membuatku aneh juga.

Begitu berjalan, aku sungguh kaget karena banyak kutemukan hal yang aneh dihadapanku. Ya, aneh sobat. Entah apa yang terjadi di dunia ini sampai saling memakan bangkai saudaranya sendiri, lantas pula bertebaran sekali kejahatan di depan mataku ini.

Aku tak sanggup mengatakannya kecuali mengelus dada sambil menggeleng penuh mohon ampun. Aku menggeleng kepala karena bukan satu negeri saja yang aku lewati dan begini keadaannya. Dari satu tempat ke tempat lain kutemukan hal berbeda yang membuatku pening.

Terkadang aku rindu untuk melihat keluargaku. Namun aku segera menepis hal itu dan kembali mengarahkan tujuanku pada Negeri Cinta. Kuyakin Negeri Cinta tidak seperti negeri yang kulalui.

Di jalan, tak kusangka akan bertemu dengan saudaraku. Rupanya ia juga sama sepertiku, ingin pergi ke Negeri Cinta. Maka, meski belum pernah bertemu dengan saudaraku sebelumnya, kami langsung akrab membicarakan segalanya. Ia juga sama sepertiku amat merindukan dapat pergi ke Negeri Cinta. Namun belum juga kesampaian, karena kesibukan mencari bekal.

Tibalah saatnya ketika kami berpisah. Aku kembali melanjutkan kembali perjalananku.

Negeri Cinta, kapan aku bisa kesana? Berapa lama lagi aku harus melangkah? Kakiku telah berdarah-darah terus saja berjalan. Aku cukup lelah, letih. Namun kuyakin semua ini akan terbayar begitu melihatmu kelak, Negeri Cinta. Negeri Cinta, tunggu aku!

Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan