PELANGI

Thursday, May 07, 2015

Cerpen Sri Al Hidayati

Cerpen "PELANGI"
Suatu pagi saat akan pergi ke kampus, melewati PKM, saya melihat begitu banyak orang-orang berkumpul berdemo. Saya lihat diantara mereka ada Yasin yang memimpin orasi. Yasin dengan kepalan tangan dan toa di tangannya, saya hampir-hampir tersenyum. Baru saja kemarin demo di depan Gedung Sate. Padahal jam 13.00 ada kuliah. Tapi anehnya yang buat saya geleng-geleng kepala, tidak terlihat wajah lelah sehabis demo. Gubrak.

Dalam HP ada mp3 nasyid, saya kembali berjalan sambil mendengar lagu Justice Voice terbaru di album baru-nya Save Our Masjid, ada lagu Ketika Cinta Tak Bertasbih. Wah, subhanallah saya dengarkan syairnya baik-baik sebelum pergi ke kelas. Hm, like this-lah dengan musiknya yang syahdu dan penuh perenungan. Saya pikir lagu parodi, tapi mungkin dari judulnya saja yang meleset dari Ketika Cinta Bertasbih.

Hembusan angin menyapa, menyelimuti relung hati
Bergetar kalbuku, saat menatap wajahmu
Galau hatiku terasa, tak ingin kehilanganmu
Apakah ini cinta, cinta yang sejati
Hidupku merasa hampa, tanpa kau disampingku
Tuhan tolonglah diriku.....
Cintaku hanya untukmu. kuberikan sepenuh hatiku
Ketika cinta Tak Bertasbih, kepadaMu Duhai Kekasih 





Saya terus melangkah menyusuri jalan Siliwangi menuju Simpang. Siang amat terik, namun yang memilih jalan seperti saya hanya beberapa orang saja. Sisanya badan jalan dipadati oleh kendaraan, begitu merayap sampai membuat saya lagi-lagi harus menggeleng-gelengkan kepala. Ya Allah….

Sudah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk perbaikan jalan. Memang harus bersabar, tapi agak kasihan juga bagi mereka, para sopir angkot. Hufh, saya hanya bisa menarik nafas panjang….

Baru tiga hari ini saya jalan dari Siliwangi menuju Simpang dan naik angkot Riung Bandung. Yang semestinya harus bersabar ialah angkot     Caheum-Ciroyom dan juga Caheum-Ledeng. Hampir setiap hari ruas jalan tersebut dipastikan macet karena perbaikan jalan yang ada di pertigaan Simpang sebelum McD.

Sebelumnya mungkin keadaan dibuat macet saat-saat jam kantor, jam siang dan saat jam pulang kantor. Tak sedikit yang sudah tidak sabar dan memutar balik angkotnya mencari alternatif jalan lain.

Yang jadi pertanyaan besar bagi saya dan orang-orang yang sering berkutat dengan jalan pulang atau pergi pun sama: kapan perbaikan jalan ini selesai? Yang dibikin kegerahan pastinya adalah orang yang tidak sekali dua kali jalan ke daerah ini.

Tak jarang, daripada memilih duduk dan menunggu sampai jalan, ada yang pergi duluan dengan berjalan kaki. Saya bisa terlebih dahulu sampai di rumah, ketimbang menunggu macet yang pernah menghabiskan sejam saudara-saudara!

Ada yang lebih parah. Trotoar tempat jalan, dipakai oleh pengendara motor meluncur dengan cepat. Saya hanya bisa nyengir. Kalau saya boleh berkata: Jangan sampai orang-orang menggerutu lebih banyak lagi. Hehehe….

Kalau mobil besar biasanya rata-rata banyak yang memutar arah.
                                                                             *
Saya melihat sepanjang Siliwangi, nampak lowong sekali. Saya berseri-seri, benarkah ini? Saya percaya tidak percaya. Ruas jalannya kosong. Tidak ada kendaraan. Yang ada hanya orang-orang berjalan. Semua orang berjalan dan nampak sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang berjalan sambil membaca buku, ada yang jalan sambil tersenyum dengan teman di sebelahnya, karena mereka sedang asyik bercerita. Ada yang terburu-buru berlari sambil melihat jam di tangannya sekilas.

Tiba-tiba ada yang menabrak saya. Rupanya seorang anak kecil, es yang ada pada tangannya terhempas. Saya menelan ludah. Diam. Segera membungkuk dan mengusap kepalanya. “Adek, maaf ya?”
Ia memonyongkan mulutnya. Hampir meneteskan air mata.

“Oh iya es-nya ya? Kakak ganti, ya…” ucap saya sambil membenarkan letak kerudung. “Bagaimana?”
“Gak usah” ucap gadis kecil itu berlari jauh tak kelihatan lagi.
Saya menggosok-gosok mata. Masa secepat itu?

Sementara di samping saya orang-orang masih sibuk dan saya melihat es yang bertengger di atas aspal. Hufh, saya menarik nafas panjang. Sambil melihat ke awan. Tidak bisa melihat secara langsung, karena sedikit terhalang pepohonan yang menyejukkan.

Saya sudah mengecewakan sebuah hati yang lugu. Saya teringat adik saya yang masih kecil-kecil. Saya teramat merindukan mereka sekarang.
                                                                          *
Saya terus berjalan menyusuri jalan Siliwangi menuju Simpang. Badan jalan nampak berisi. Jalan sudah hampir diresmikan tidak akan macet lagi. Saya mencari gadis kecil itu, kapankah lagi akan bertemu. Saya akan memberikan sebungkus es untuknya. Siapa ya kakaknya, ups salah, nama adiknya.
                                                                         *
Oh rupanya jalan belum juga berakhir perbaikannya. Kemarin jalan yang kiri diperbaiki, sekarang malah jalan yang kanan pun diperbaiki! Hasilnya tetaplah membuat badan jalan begitu macet. Fiuh, nyebelin banget dikira udah beres, batin saya.

Saya pun berjalan lagi dan di belakang saya ada yang berlari dan menyenggol. Ingin rasanya memarahi dan melempar menggunakan sepatu. Tapi saya hembuskan nafas tanda harus bersabar. Siapa sih adiknya!?
Hasil pengumuman PLP telah dipajang. Saya selama kemarin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sambil menyalurkan hobiku dalam menulis. Senja masih agak lama dan mata masih berair, rupanya saya sakit mata.

Saya membawa motor ke tempat PLP. Cukup jauh juga letaknya di daerah Dago. Rumah saya tinggal di daerah Jatinangor. Pengalaman awal-awal membawa motor, pegal juga ini lengan. Hm, saya pun harus terus beradaptasi. Mungkin memang belum terbiasa saja. Kesannya malah jadi amatiran, hehe.

Sebulan, dua bulan, tak terasa waktu berlalu. Di bulan yang ketiga, saya sudah cukup beradaptasi dan merasa baik-baik saja, saat akan pulang ke rumah, tak saya sangka motor mogok di jalan. Haduh, tak tahu ini motor apa-nya yang salah. Saya pun kikuk. Bingung siapa yang seharusnya saya  mintai tolong. Haduh. Coba ingat-ingat. Saya ingat di daerah ini ada rumah teman saya seangkatan: Yasin.

Suasana Ramadhan begitu kuat. Siang terik diuji bukan menahan dahaga saja, akan tetapi juga menahan emosi juga. Saya berusaha menenangkan diri di cuaca yang panas, saya sms Yasin kira-kira ‘ngerti’ motor gak? Tak beberapa lama Yasin pun membalas: sekarang dimana?

Aku bilang, “Di Dago Biru”
Ia pun meng-sms: ya sudah lurus saja. Rumah saya Dago Biru No. 8. Saya pun membawa motor saya seperti yang ia sarankan. Di hadapan saya telah ada rumah dua tingkat dengan pagar. Warna rumah Yasin ungu muda. Mm, warna yang bagus banget. Pagarnya pun berwarna ungu.

Saya pun memencet bel. Berharap Yasin segera membantu memperbaiki motor. Yang keluar rupanya seorang Ibu. Dalam hati aku bergumam, “Dimana Yasin???”

Lalu beliau sambil menyunggingkan senyum, pun bertanya padaku, “Aisyah ya? Teman Yasin?”
“Iya. Yasin-nya ada, Bu?” ucap saya sambil menyalami beliau.
“Yasin katanya masih di jalan menuju ke sini. Sudah masuk saja dulu, Nak?”

“Iya bu, terima kasih,” saya pun membawa motor masuk ke garasi. Sambil menunggu, Ibu Yasin  pun mengajak berbincang. Saya jadi benar-benar tidak enak. Saya lihat jam di tangan saya, baru 5 menit rasanya lama sekali. Terdengar radio MQ 102.7 FM mengalun.

Ibu Yasin pun membuka obrolan, begitu ramah. “Sudah semester berapa sekarang, Nak?”
“Mm, semester 6 Ibu…”
“Oh iya, sama dengan Yasin ya…”
Saya pun mengangguk.

“Bagaimana sudah mencari pendamping hidup?”
Saya yang mendengarnya terkaget dan diam tidak tahu harus berkata apa.
“Kalau belum dengan Yasin saja?”
Serasa wajah memerah, degup jantung semakin berdetak kencang. Badan berubah menjadi panas dingin. Astaghfirullah apa ini…..

“Sebenarnya Ayah saya menginginkan hal yang serupa Ibu, menginginkan saya untuk cepat menikah. Hanya saja mungkin Allah sampai saat ini belum menakdirkan saya dengan siapapun. Yasin juga saya yakin memiliki kriteria calon istri yang bisa jadi bukan saya yang tepat, hehe” ucap saya.

Ibu Yasin pun menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Iya betul juga, kalau begitu Ibu nanti akan tanya pada Yasin. Ibu harap kamu, Nak”
“Ah Ibu ini bisa saja,” ucap saya sambil menggeleng kepala.
Aduh stop, batin saya.

Lalu Ibu Yasin bercerita tentang masa kecil Yasin. Saya diceritakan mengenai Yasin kecil, saya juga tidak tahu untuk apa hal ini diceritakan dan mengapa jadi panjang begini. Tapi ya sudah, saya simak cerita Ibu Yasin dengan sebaik mungkin. Sampai akhirnya, Yasin pun datang. Fiuh.

“Assalamu’alaikum Ibu” ucap Yasin sambil menyalami ibunya. “Gimana Aisyah? Apa yang rusak?” ucapnya.
“Gak tau Yasin, coba deh liat dulu” ucap saya sambil melihat ke depan rumahnya.

Di luar, rupanya Yasin telah membawa temannya yang ‘mengerti’ motor. Di tangan temannya, ia  telah menyiapkan alat-alat. Ia pun meminta izin untuk melihat apa yang salah dari motor tersebut.

Dari arah samping kanan saya tiba-tiba ada seorang putri kecil datang dan menyapa Yasin. “Kakak”
Apa? Itu kan!?
Adiknya.
Ia menatap saya, mungkin ingat, mungkin lupa.
Untuk beberapa waktu, akhirnya saya diminta untuk menunggu sampai waktu untuk berbuka. Aduh merepotkan banget saya.
                                                                           *
“Udah neng Aisyah, nginep di sini aja sekalian?” ujar Ibu Yasin.
Saya terdiam. “Ya Allah cukup....”
Sementara Yasin termangu.
“Iya Kak, menginap saja...” ujar adik Yasin.
Sementara Ibu Yasin menatap dengan senyum merekah. Saya ingin menepuk dahi. Astaghfirullah.... [ ]

You Might Also Like

0 komentar

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#