YOU AND I

Thursday, May 07, 2015

Cerpen Sri Al Hidayati


SIANG terik sungguh menyiksa.
Aku dengar sekarang ini lapisan ozon terus-menerus mengalami penurunan dan efeknya memang terasa benar olehku. Wajah ini seperti gosong di panggang. Aku begitu lemas mengingat kejadian pagi tadi. Ingin rasanya tertidur pulas di kamar hingga saat bangun, aku tak mengingat kejadian menyebalkan itu. Namun melihat batu di hadapan, aku tendang batu kecil itu dengan sekuat yang kumampu. Bletak. Jauh.

Sepi benar jalan yang kulalui, barangkali orang-orang berpikir ribuan kali kalau benar-benar ingin keluar rumah. Kulirik jam di tangan kanan, rupanya telah pukul dua tepat. Itu artinya harus lekas-lekas ke rumah, lalu siap-siap untuk ujian hari terakhir besok. Hufh.

Aku membisu. Tak peduli teman-teman di jalan yang menyapa saat berjalan, wajah ini lurus ke depan, tangan sengaja kumasukkan ke saku celana. Topi putih kupakai, jaket coklat, tas putih dan seragam putih-abu yang melekat di tubuh ini.

Di benakku masih saja berputar-putar wajahnya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Benar-benar kurang ajar! Apa salah diri ini tiba-tiba ia membanting buku itu dihadapanku. Padahal buku itu adalah murni aku tulis untuknya.




Setumpuk puisi cinta yang aku rangkai di malam-malamku, pun juga seluruh energi yang kukumpulkan setiap harinya hanya untuk membuktikan bahwa aku memang sangat merindukan saat-saat pertemuan dengannya. Namun aku terkaget-kaget. Mengapa jadi begini!

Seluruh rongga dalam diriku ikut-ikutan menegang. Bagaimana ini? Ia bukannya menunjukkan rasa senang atas sikapku. Namun sebaliknya, ia begitu tega merobek-robek hatiku hingga ingin kumenangis dihadapannya. Namun sekali lagi, aku tak bisa melakukan itu.

Bagaimana bisa seorang Raden Narendra sepertiku menangis dihadapan seorang perempuan yang seharusnya dialah yang menangisi aku karena perempuan-perempuan lain mungkin saja aku terima cintanya.

Aku buka topi sesaat untuk selanjutnya kupakaikan lagi agar tak terbawa angin. Kedinginan karena botak. Baru saja kemarin yang lalu aku pergi ke salon untuk memangkas rambut yang kata Ibu Sofia, KETERLALUAN. Padahal aku ingin bergaya saja. Apa salah? Ingin rasanya berontak kala itu, tapi kekesalan harus kutelan sendiri. Lagi-lagi aku diberikan pilihan, otakku berputar dan mataku pun ikut memandang langit-langit kelas yang atapnya sedikit bocor.

Mm.. daripada harus menerima hukuman dipotong oleh Pak Bakti, lebih baik aku memangkasnya di salon. Berabe kalau Pak Bakti yang potong! Tak menyangka teman perempuan di kelasku tiba-tiba menjerit histeris begitu melihat tatanan rambut baru ini, aku pun hanya tersenyum sinis. Sebenarnya aku pun begitu.

Merasa sayang dengan rambut yang susah payah telah kuusahakan bagus-bagus untuknya. Sayup masih kedengaran bunyi penyesalan melihat rambutku dipotong. Mm.. dasar cewek!

Sehabis bel pulang sekolah, entah mengapa tak bosan-bosannya aku mengejarnya. Aku bukanlah preman atau pencuri. Aku hanya seorang yang tercuri hatinya oleh seseorang yang kudambakan itu.

Teman-teman sering menyebutku si bintang kelas, karena pretasiku yang terus menanjak hingga meraih juara umum. Mereka juga sering menyebutku si kapten, karena memang aku ditunjuk mereka sebagai kapten eskul futsal kami di sekolah.

Aku tak tahu bagaimana respon dirinya kala aku dirubungi teman-teman perempuanku yang meminta bantuan mengerjakan tugas seni rupa?! Teman-temanku yang lain sering memuji hasil karyaku.

Aku juga tak tahu bagaimana responnya kala aku diteriaki oleh perempuan-perempuan itu karena permainan bolaku mencetak gol.

Tapi aku masih heran, karena dia masih saja diam, diam, dan diam! Aku begitu malu sebenarnya bicara empat mata dengannya langsung. Sebenarnya sebelum menyatakannya pun, aku sudah tahu bakal begini. Dia pasti menolakku! Kalau dipikir-pikir tentu aku memang tak pantas untuknya. Aku sungguh bodoh meminta ia jadi pendampingku!

Aku sungguh jauh dari sempurna, terlampau berbeda latar belakang kami berdua. Tapi yang ingin kutanyakan, apa aku salah mencintainya? Apa aku salah menginginkannya?

Begitu sampai di kamar aku tak dapat menahan tangis. Terserah pada hujan di luar sana yang begitu derasnya, terserah juga pada awan yang ikut merasakan sakitku karena menganggap aku sebagai kawannya. Terserah juga pada si mbok yang mengetuk-ngetuk pintu menawarkan sebuah makanan lezat, ayam bakar yang khusus dibuatkan untukku dengan sambal begitu pun lalap di sana-sininya. Aku yakin rasanya enak benar.

Namun tak ada rasa keinginan sedikit pun selain meratapi kesedihanku yang berdarah-darah. Tak dapat aku lupakan makiannya yang begitu melekat di hati. Masih terngiang pula desisan mengejek dengan tatapan mata sinis yang menusuk-nusuk kalbu.

Kalau saja ia berada dalam dasar hatiku kala itu, pastinya ia akan melihat betapa seluruh yang ada dalam diri ku benar-benar menginginkannya. Namun itu sia-sia. Dan tak berguna. Aku bisa tersenyum. Kecut tentu. Aku mengangkat topi sebagai bukti ketegaranku, tak menangis di hadapannya.

Sejenak kuberanjak ke luar kamar dan begitu melihat kamar yang tertata rapi dengan suara alunan musik Jawa yang disetel oleh Mbok, aku jadi terhanyut di dalamnya. Suasana ini mengingatkan aku pada tempat kelahiranku.

Tiba-tiba terpikirkan lagi. Aku ingin menceritakan semua yang telah terjadi. Tapi pada siapa? Aku tinggal sendiri. Biar duka ini kukubur dalam hati saja. Tapi aku yakin ini bukan jalan yang tepat, karena sebenarnya masalah dan setiap masalah semestinya dihadapi bukan dihindari.

Maka kembali ke kamar, kuberanikan diri ini menatap fotonya dalam-dalam. Aku bungkus jiwa ini dengan seluruh energi cinta yang kukumpulkan. Dari utara, barat, timur, dan selatan kukerahkan seluruhnya. Dan semuanya berakhir, aku gapai handphone dan meneleponnya, namun tak segera juga ia mengangkatnya. Aku ragu dan mengulanginya lagi, hingga sebanyak tiga kali aku mengulanginya. Karena tak sabar aku pun memutuskan untuk mengirim pesan padanya. Aku menanyakan kabar padanya senja ini. Namun tak jua ada balasan.

Aku pun membanting handphone ke atas kasur. Aku segera naik ke atas genting untuk memandang kuasa-Nya. Sejenak kuberanikan diri menengadahkan kepala ke atas  langit dan bertemu dengan kawan, awan yang indah. Kuedarkan pandang ke seluruh jagad. Namun tak dapat kulihat rumah si gadis yang selalu berputar-putar dalam benakku,. Tiba-tiba si mbok beristighfar.

“Ya ampun Den, ngapain di sini? Ayo makan dulu!” ucapnya.

Aku pun menjawab dengan senyum. Terbersit dalam hati untuk menceritakan padanya. Betul juga mengapa tak terpikir! Aku masih punya teman di rumah ini. Kulihat bola mata itu. Ada tanda tanya besar dalam matanya.

Pasti ia mempertanyakan ada apa dengan wajahku. Wajah yang putih ini tak bisa mungkir dengan pertanyaan yang ia sodorkan padaku, toh mengaku atau tidak, aku memang terlihat sudah menangis. Maka kuanggukkan kepala.

Si mbok begitu sabar mendengarkanku.
Sekarang aku jadi berpikir, mungkin aku harus belajar mencintai segala sesuatu dengan sederhana. Seperti puisi Sapardi Djoko Damono. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
                                                                           *
Awal tahun pelajaran.
Aku dengar nada tap dance melengking dari bunyi handphone.

Tak bergegas mengangkat, kulihat nomor di layar sejenak yang segera aku berkerinyit karenanya. Nomor itu pernah sempat mengisi layar handphone-ku namun tak pernah kuangkat karena keburu tidur. Ya, biasanya setelah isya aku langsung tidur, dan baru bangun saat orang-orang masih terlelap tidur. Tak ada keinginan untuk menelpon balik karena rasa malas yang merajaiku.
Pun akhirnya aku angkat juga telepon, selepas sholat ashar.

Saat aku mengucapkan salam rupanya bersahut, dia… lelaki. Langsung saja ia memanggil namaku dan aku terkaget, membalas “Mm.. ini siapa?”
Setelah itu baru-lah ia memperkenalkan diri. Aku kaget saat dia ingin berbicara empat mata denganku, saat aku mencari-cari alasan menolaknya, lantas meluncurlah kata-kata dari dasar hatinya. Yang nyaris sempurna ia sembunyikan diam-diam dan aku tak mengetahuinya selama ini.

Aku mengaduh dalam hati. Tunggu! Aku mengingat-ngingat janjiku. Bila ada seorang yang inginkan diriku untuk dijadikan ia kekasih hati yang pacaran tujuannya, maka aku akan menolaknya. Setampan atau sesholehnya ia.

Dan berakhir-lah pembicaraan, sementara pikiranku melayang mengingat-ngingat siapa dirinya. Setahuku, kita berdua saling tak mengenal. Sudah begitu, mengapa ia nekad begitu? Bukankah ia tahu, aku kan berkerudung, anak ROHIS dan sudah berprinsip tidak akan pacaran! Bukankah Allah sudah menjelaskannya jelas-jelas!

Pantas saja terkadang kudapati ia mencuri-curi pandang namun segera menunduk tiba-tiba. Pernah terpikir namun segera kumenepisnya. Tapi, yang jadi pikiranku adalah apa yang ia sukai dari diriku yang seperti ini?

Aku biasa-biasa saja.

SMS-SMSnya, lantas kumpulan puisi yang aku tidak habis pikir ia melakukannya. Aku menggeleng kepala berulang kali. Hingga masih jelas sekali aku ingati kisah pagi tadi benar-benar di luar kontrol diriku. Aku sudah tak kuat lagi. Aku benar-benar sudah di luar kendali. Semua yang aku lakukan demi pelajaran untuknya merenungi segala sesuatunya. Aku pikir setelah usahanya ingin berbicara empat mata denganku gagal dulu, ia tak akan mengejar-ngejarku lagi. Tapi percuma, semuanya sia-sia. Ia bahkan berani to do point begitu. Dia itu cowok yang nekad sekali!

Terlepas dari itu semua, di luar dugaan ternyata aku terus memikirkannya. Bukan sengaja tentu, karena siapa yang mau terjerat virus cinta begini? Sudah membuang-buang waktu, tidak banyak berguna pula, aku bersikeras.

Selepas pulang sekolah, kuregangkan tubuh sesaat dan begitu melihat handphone, ingin rasanya curhat pada teman-teman. Betapa inginku bercerita. Maka jadi-lah aku mengirimi mereka pesan singkat itu. Banyak yang terkaget-kaget mereka saat kusodori sebuah nama, benarkah? Begitulah adanya. Sejak telepon itu datang pertama kali, aku tak menceritakannya pada siapapun. Aku meminta saran pada mereka agar apa yang aku pilih ini adalah suatu yang tepat.

Aku hanya sebatas tahu kalau dia belum lama ikut ngaji, kalau teman-teman bilang itu mentoring. Dan itulah sebabnya mungkin ia jadi tak bisa menahan diri. Mungkin karena pemahaman tentang islamnya masih minim, meski aku dan yang lain pun masih terlalu jauh dikatakan sempurna namun kita berusaha melaksanakan apa yang diperintahkan. 

Banyak miscall dan sms yang datang darinya senja ini tak kunjung kuhiraukan. Ah, sudahlah aku tak akan menghiraukannya, batinku.

Aku merasa dia benar-benar marah karena tak kuterima cintanya. Apalagi kumpulan puisi yang ia sengaja mempersembahkan-nya untuk ku tak kuterima. Sebenarnya aku mau-mau saja sih kalau saja Allah membolehkan.

Tapi ya bagaimana lagi, wong sulit.
Yang pasti kalau dia sungguh-sungguh, dia harus mau bersabar menungguku.
Aku menghembuskan nafas kini.

Aku terkaget-kaget dengan perkataan teman-teman kalau Narendra memang disukai banyak perempuan baik adik kelas, kakak kelas ataupun seangkatan. Dan banyak perempuan yang mengantri untuk dirinya, tapi Narendra sungguh aneh, dia tiis-tiis aja, begitu temanku bercerita.

Dan aku percaya hal itu, karena menurutku dia tidak jelek-jelek amat. Bahkan terlampau ganteng.
Bila mengingat perkataan teman-temanku pasti mereka para fans-nya semua, cemburu kalau tahu aku-lah yang dipilihnya. Mereka semua dikalahkan oleh aku. Astaghfirullah…aku beristighfar. Jangan sampai ada penyesalan dalam hati sekecil apapun.

Jangan buat aku menyesal seperti ini
Hanya saja, kenapa dia suka padaku?, Aku mulai memikirkannya lagi. Atau dia hanya ingin menunjukkan kalau dia suka, selepas itu dia bebas karena telah mengutarakannya. Sedang aku jadi tidak enak hati. Ampun deh! Mana ternyata ujian terakhir ini kita sekelas pula.

Mengapa ini terjadi pada akhir-akhirku di sekolah? Aku jadi tidak dapat khusyuk belajar.

Kita memang satu jurusan di Sosial. Kita tak pernah sekelas dan saling mengenal. Entah sejak kapan ia begitu memperhatikanku. Mungkin saat diadakannya suatu gelaran acara jalan-jalan bersama eskul lain dulu. Entah!

“Lin, dia tuh diam-diam memang suka merhatiin tauk!” ujar Tri, sahabatku.
Aku merasa tidak betah sekali di kelas. Maunya pergi jalan-jalan atau sekadar duduk-duduk di bawah pohon rindang.

Terbesit dalam hati, bagaimana perasaannya ya? Curi-curi dengar barusan, teman-temannya mengejek dirinya karena tahu aku menolaknya. Padahal aku diam tak membeberkannya pada orang kebanyakan. Untuk apa pula? Sombong? Aku jadi semakin tak enak hati. Dia begitu tidak ya?

Dalam kamar ini aku mengulum senyum. Kubenamkan kepala di meja. Ku pandangi foto angkatan ku beberapa saat yang lalu. Aku pun melihat wajah lelaki itu yang sebelumnya tak pernah kulirik.

Andai saja ia bisa memahami, seharusnya ia tak perlu mengejar-ngejar hingga begitu. Bila ia mengerti… pun ia pahami seharusnya ia mengisi masa mudanya dengan beragam prestasi. Kalau ia telah siap dan benar-benar menginginkanku, datang saja ke rumah untuk melamar. Hehehe… aku nyengir sendiri.

Aku teringat kisah pagi tadi, betapa sakit pasti dibegitukan. Kalau aku membalas smsnya, pastinya nanti dia kegeeran. Jadi ya, biarlah ia begitu, kuyakinkan lagi hal itu di hati. Suatu saat pasti dia akan mengerti mengapa aku begini. Karena aku begitu ingin melaksanakan perintahNya, karena kucintai Ia maka kuturuti kata-kataNya dan tak mengindahkan yang lain. Mungkin sesaat lagi ia akan mengerti. [ ]

sumber gambar dari https://biomastory.files.wordpress.com/2011/12/siluet3.jpg

You Might Also Like

2 komentar

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#