CERPEN: MOTOR, CINTA PERTAMAKU

Aku menghela nafas. Motor tak bisa menyala karena air hujan amat deras dan merendam mesin motor. Kutelepon Ayah berharap Ayah datang segera membantu. Sebenarnya aku tak yakin Ayah akan datang, karena biasanya Ayah pasti akan menolak dan berharap aku dapat mengatasi masalah sendiri.

“Ya, coba saja diselah lagi,” ucap Ayah.

Jas hujan masih melindungku dari hujan yang tinggal gerimis. Kumajukan motor sampai motor tidak terendam air. Aku coba diamkan motor beberapa saat. Sambil memandangi sekitar lalu lalang kendaraan berjalan, dan pernah kulihat motor lain berhenti, kini motorku yang berhenti.

Alhamdulillah motor menyala lagi mesinnya. Senyum terurai dari bibirku yang telah menggigil kedinginan.

Segera ku pulang ke rumah, karena telah lelah bekerja seharian. Ibu telah menyiapkan makanan, ditambah baso ceker. Menu makan baso ceker adalah tepat karena dimakan selepas hujan menambah nilai nikmatnya. Lupalah segala penat dan membuatku merasa nyaman.

*
Hari ini hari Minggu. Aku dan Lily telah memutuskan untuk berlibur. Kami ingin jalan-jalan mengitari Bandung, tepatnya pergi ke Alun-alun Bandung. Sebelumnya Ayah telah mengajariku agar menggembok motor agar lebih aman, terlebih di tempat-tempat ramai. Kemudian setelah sampai di Alun-alun, turun, kugembok motor. Lily tengah asyik dengan gadgetnya. 



Kami berdua memandangi keramaian di Alun-Alun Bandung dengan setting tepat dekat Masjid Raya Bandung, menambah ruang publik yang indah karya walikota Bandung. Setelah bernarsis ria mendokumentasikan dalam kamera handphone, kemudian menikmati jajanan cimol dan tahu bulat, kami pun berniat pulang dan segera ke parkiran. 

Tak disangka ada pemuda yang sedang mengetok-ngetok gembok tepat di sebelah motorku. Kubiarkan saja karena mungkin dia sedang mengoprek sesuatu. Tapi kuperhatikan motorku tidak ada gemboknya. Ya ampun….

Badanku langsung panas dingin karena kutahu karena aku telah salah menggembok motor. Lantas saja aku memohon maaf karena kesalahan fatal yang telah kulakukan. Dia yang tahu motornya yang telah digembok –mungkin karena melihatku seorang perempuan- tidak jadi marahnya. Wajahnya kusut karena memendam kekesalan mungkin. Lalu dia berkata, “Teh, abdi teh ti tadi nungguan nepi ka sa jam.1

Aku masih menunduk pandangan malu. Lily yang berdiri di belakangku tak dapat menahan tawa saat pemuda itu pergi. “Hahahaha bodor si teteh mah…” ucapnya sambil tak berhenti tertawa. Aku terlanjur lemas karena menahan malu. Ada-ada saja.

*
Siang ini, suasana kota mendung tak seperti biasanya. Aku sudah khawatir sore nanti akan turun hujan. Dan hujan pun datang saat bel pulang kantor berbunyi. Karyawan lain ada yang menyayangkan mengapa hujan datang saat akan pulang kantor. Beberapa lagi telah memakai jas hujan, siap untuk pulang, serta masih ada yang asyik bekerja sekedar membuka jejaring sosial media sampai menunggu hujan reda.

Kalau bos di kantor tak perlu merasa khawatir karena mereka memakai mobil dalam berkendara. Tak kepanasan, tak kehujanan. Tinggallah aku memilih menerobos hujan karena maghrib ingin sudah di rumah.

Sepanjang perjalanan aku berdoa agar hujan segera berhenti, dan yang terpenting motorku tidak macet lagi. Namun Allah berkehendak lain. Motor antikku terendam banjir lagi. Kupikir 10 menit sudah bisa aktif lagi, namun kini tidak bisa-bisa. Rasanya ingin menangis karena lagi-lagi motorku bermasalah.

Tiga orang seumuran mahasiswa datang dan bertanya. Rupanya aku sedang berada di kosan mahasiswa. Tapi mau gimana. Tadi orang yang di tengah jalan membantu mendorong motorku kesini. Lalu kujawab bahwa motorku mati saat terendam banjir. Warna airnya tadi juga cokelat sampai sebetis. Hufhh..

Mereka pun mengoprek, dan mengambil sesuatu dari motornya, kemudian menggantinya pada motorku. Ucap salah satu dari mereka, “Teh, ini busi yang lama simpan saja. Tadi sudah diganti sama yang saya.” Dia mengucapkannya dengan nyaris tertawa, dan membuatku bingung.

Saat akan kuberikan uang sebagai ucapan terima kasih mereka menolaknya. Aku pun mengucapkan banyak terima kasih dan pamit.

Baru saat aku tunjukkan ada Ayah, Ayah langsung tertawa melihat busi yang gosong dan nyaris habis. Beliau berkata, “Oh, pantesan..”

What?! Ekspresinya begitu saja?

Lantas aku pun beristirahat di kamar sambil merasa bahagia karena telah dibantu oleh mahasiswa tadi.
*
Aku sebenarnya ingin ganti motor. Kuutarakan pada Ayah. Aku ingin motor yang bagus, tapi aku juga ngga mau yang matic. Dulu pernah saat SMA saat akan ada event sekolah, motor yang kunaiki terjebur ke kolam, motor punya teman yang baru dibeli dua bulan. Aku jadi merasa bersalah.
Pamanku yang montir segera membetulkan motornya. Tapi mungkin beda banget setelah terjebur ke kolam jadinya. Hiks.

Ayah menceramahi agar aku harus mengubah dulu cara pandang memakai motor. Kalau mau motor bagus ya matic, mesinnya juga kencang. Kalau mau motor dari ASTRA Honda motor.

“Kalau mau nyicil, segini harganya…” ucap Ayah.

Aku melongo karena harganya lumayan, sedangkan gajiku tak seberapa.

Namun membunuh rasa traumaku pada motor matic tak bisa kulupakan. Kelebatan saat orang-orang datang dan menarikku dari air dan juga mengangkat motor dari kolam kecil masih jelas di ingatan.
Akhirnya pilihanku jatuh pada motor gigi merk Supra X 125 yang second, karena harganya pas di dompet. Biarlah lambat yang penting selamat.

Sebelum melakukan perjalanan, tak lupa menggunakan safety first seperti sarung tangan motor, memakai sepatu saat berkendara agar terlindungi bila suatu saat jatuh, helm pun tak lupa kupakai.
Kupanaskan motor sambil mengelap motor. Baru satu tahun memakai motor sudah banyak yang kurasakan. Tetiba teringat setahun yang lalu, bos di kantor menantangku agar membawa motor ke kantor. Otakku lalu mandeg. Selama inilah hal yang paling aku takutkan.

Mungkin beliau ingin agar aku bisa mandiri, kemana-mana bisa mobile bergerak, juga yang terpenting berhemat dibandingkan naik angkot.

Di kantorku banyak perempuan seusiaku yang berkendara juga ke kantor. Bukan saja dengan motor. Ada juga yang berkendara menggunakan mobil. Mengantar jemput anak sekolah, membawa belanjaan saat pergi ke supermarket, membawa bayinya di depan saat berkendara motor, atau bertemu rekan bisnis.

Aku pun mengutarakan niatku kepada Ayah. Ayahku pun memilihkan motor yang mudah untukku. Sedari kecil, Ayah tak pernah mengajariku naik motor. Ayah melepasku agar aku belajar motor sendiri.

Hari pertama membawa motor ke kantor, hatiku deg-degan sungguh luar biasa. Melewati jalan besar baru kali pertama. Helm yang telah kubeli kemarin ditemani oleh adikku, Lily. Sedangkan SIM C sudah kupunya sejak minggu lalu.

Saat memakai motor, kunyalakan lampu sen kanan atau kiri saat akan berbelok. Yeay.. pengalaman pertama yang sangat berkesan.

Setelah setahun memakai motor, seringnya kedinginan karena terkena angin dan harus terus “on”, kalau lengah sedikit bisa kita jatuh atau menabrak. Ingat aturan mainnya, agar berkendara dengan aman dan nyaman.

Pernah dengar pengalaman teman-teman dalam berkendara, ada dari mereka yang setengah tidur saat membawa motor. Kalau begitu adanya bisa-bisa jatuh atau tertabrak. Lebih baik istirahat dulu, tidur sebentar. Lalu lanjutkan perjalanan.

Aku lihat jam di tangan menunjukkan pukul 07.00. baik, aku telah siap. Aku naik ke atas motor, dan menghemat waktu agar tak terkena macet, maka otak langsung tersetting melawan jalan-jalan kecil.

*
Pamanku telah tiba kemarin. Aku bersama Ayah, Ibu dan satu orang adikku, Lily tiba subuh tadi. Perjalanan Bandung – Jawa membuat kami kelelahan. Rupanya paman memilih transportasi dengan motor dari Bandung. Apa? Tak salah kudengar? 

Paman memilih transportasi dengan motor dibanding dengan bus, kereta api, atau travel. Sesuatu yang crazy menurutku. Paman membonceng istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Ayah bilang nanti kalau pulangnya bareng Ayah saja dengan mobil, minimal anak-anaknya. Kasian anak kecil perjalanan jauh begitu naik motor.

Tentu ia sering berhenti saat perjalanan dalam rentang Bandung kota – Jatinangor – Sumedang – Cirebon – Brebes – Tegal – Semarang kota – Grobogan. Tapi risikonya berkendara dengan mobil lebih lama sampainya. Yang penting ingat dengan rambu-rambunya, jalan saat lampu hijau, berhenti saat lampu merah, yang lebih baik lagi tidak ngebut-ngebutan, tidak naik ke atas trotoar, tidak sering mengklakson motor karena hal tersebut sungguh mengganggu.

Berita kecelakaan berseliweran di media cetak, TV dan online. Terlebih saat musim hujan, jalan lebih becek dan jalan berlubang tidak terlihat, maka sangat berpotensi kecelakaan lebih besar.

Dari Handphone ku ada berita Iqbal, teman satu sekolahku, kakinya patah dan masuk Rumah Sakit. Katanya terserempet dengan bis besar. Aku beristighfar dalam hati. Setelah nanti tiba di Bandung, aku coba akan menengoknya, mudah-mudahan cepat pulih. Kabarnya Iqbal terserempet dengan bis saat akan perjalanan mudik.

Parahnya saat waktu waktu mudik seperti itu, kendaraan yang berpotensi kecelakaan dan meninggal adalah motor. Selain kondisi fisik harus prima dan butuh konsentrasi tinggi, juga pastikan telah menggunakan safety first terlebih dahulu.

*
Sudah lewat dari seminggu setelah mudik. Aku akan pergi ke Rumah Sakit janjian dengan teman-temanku untuk menengok Iqbal.

Sebelumnya aku belok dulu untuk mengisi bensin di pom bensin. Namun perasaanku mengatakan seperti ada yang memerhatikanku. Kulihat di arah depan rupanya seperti orang yang telah kukenal. Itu mahasiswa yang telah membantuku tempo hari. Aku pun tersenyum padanya. Dia bertanya apa kabar kepadaku. Selain itu apa aku tinggal di daerah sini. Aku jawab iya. “Aku tinggal di ujung jalan itu,” ucapku.  Dia pun berpamitan. Sepertinya dia kelihatan lebih muda dua tahun dariku, batinku. Ya sudahlah. Aku melanjutkan perjalananku pergi ke Rumah Sakit. Sementara hatiku tengah berbunga-bunga kini. []







[i] : "Teh, saya sudah dari tadi disini selama sejam." (Teh panggilan kepada perempuan di Sunda.)

*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi menulis fiksi: tertib, aman dan selamat bersepeda motor di jalan #Safety First 

*Diselenggarakan oleh Yayasan Astra Honda Motor dan Nulisbuku.com 



Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan