URGENSI TARBIYAH OLEH HAFIDZ ARY

buku berisi tweet hafidz ary tentang indonesia tanpa JIL
26 Mei 2012 yang lalu, bertempat di sekolah tercinta, ada kajian tentang Urgensi Tarbiyah diisi langsung oleh aktivis Anti JIL, Hafidz Ary.

Mengapa kita memilih agama ISLAM? Apa karena diturunkan dari orang tua? Pernahkah terpikir bahwa ISLAM memiliki konsep yang sempurna?

Jika ada yang mengatakan semua agama itu baik, apa respon kita itu? Non-sense. Itu adalah upaya pendangkalan IMAN. Kita hanya mengakui Islam itu adalah agama yang paling benar karena kita hanya memiliki satu Tuhan, yaitu Allah Swt.







Yang dijadikan kebenaran itu ukuran siapa? Yang harus kita jadikan ukuran BENAR adalah dari Al Quran dan As Sunnah. Dan benar-salah itu standarnya Islam.

Pentingnya Tarbiyah itu adalah kita mengerti tentang Islam sendiri. Amal ibadah yang kita lakukan berefek sampai Yaumil Akhir. "Capeknya ngga seberapa, tapi nikmatnya subhanallah tak terhingga. Itulah surga." Jadi penting beramal di dunia, untuk mendapatkan kenikmatan surga kelak.

Lalu bagaimana dengan konsep pendangkalan iman? Pikiran kita sedang dihajar. Sedang digerogoti lho dalam Islam. Seakan agama itu tidak penting. Padahal ia adalah pedoman atau arahan. Sesuatu itu penting karena ada parameter. Saat ini objek dakwah kita pun terus diserang. Kita harus hati-hati.

Konsep sosial yang hancur apa? Yaitu ZINA. Ia mendatangkan azab, bencana, kerusakan dan merusak generasi. Sebuah bangsa akan punah lama-lama. Di Jepang, tanah kosong itu banyak, dan Jepang tahun 2030 bisa jadi merupakan kota Musnah. Eropa 2050. Muslim 4,3 terus naik. Amerika turun.

Di Indonesia kita sering melihat kalau pagi-pagi jogging, anak dibawa di stroller. Sedangkan Kang Hafidz bercerita perihal dirinya yang jalan-jalan ke Taiwan dan sering lihat kereta dorong, isinya bukan bayi ataupun anak kecil, tapi anjing. Saking konsep memiliki anak disana itu ribet ga mau repot. Jadi kedepannya kita bisa melihat, mereka akan memiliki generasi yang menipis, sedangkan muslim akan terus meningkat. Karena konsep anak itu rezeki dari Allah Swt. Banyak anak banyak rezeki, dan lainnya.

14 abad yang lalu, ISLAM Berjaya di bumi. Selama 23 tahun Rasulullah saw. berdakwah dan islam mengekspansi dakwahnya. Abu Bakar 2 tahun, Umar bin Khathab 10 tahun, Utsman bin Affan 12 tahun, dan dilanjutkan oleh Ali bin Abi Thalib, Umayyah, dan dilanjutkan oleh Turki Utsmani.
2/3 abad Islam menguasai dunia dengan gerakan damai. Persia 12 abad dan Romawi juga perlu 6 abad.

Tarbiyah memiliki IZZAH akhirnya. Yang awalnya Arab Jahiliyyah, hina dan bodo. Tingkat aborsi di Indonesia menghabisi 26.000 calon bayi. Di sisi lain, seorang pemuda muslim, Usamah bin Zaid menaklukkan Romawi. Jadi bagaimana potret generasi kita? Maka kita harus memiliki IZZAH, cari ilmu, terapkan islam dalam keseharian, dan menjauhi kejahiliyahan.

Tarbiyah dengan banyak membaca, sehingga kita banyak tahu. Menumbuhkan tradisi ilmu di tengah-tengah masyarakat Islam Menggunakan sarana-sarana informasi dan telekomunikasi semaksimal mungkin dalam merespon globalisasi. Tugas selanjutnya adalah merapikan akhlak.

PR kita sama-sama banyak. Kebenaran bagi sebagian orang itu relatif. Seperti misalnya orang Cina menurut mereka benar itu anak hanya 1, lebih tidak boleh. Orang Amerika sebelum menikah sudah punya anak, atau malah membenarkan membolehkan aborsi. Nauzubillah. Maka kebenaran itu harus dititikberatkan dalam Islam. Dalam Islam menikah dulu, memiliki anak, dan mendidik anak sampai jadi anak yang shaleh. Itulah yang benar.

“FPI itu respon, bukan akar masalah yang menjadi penyulutnya. Misalnya Prostitusi.” ujar Kang hafidz. Maka tarbiyah memiliki jalan untuk memiliki Izzahnya hingga islam bisa kembali Berjaya di bumi ini. Kita bisa belajar dari sejarah Islam. Wallahu’alam.

Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan