RUKUN BAIAH HASAN AL BANNA (part 1)


Buku yang menyentuh, banyak kisah inspiratif di dalamnya, dengan gaya bahasa mudah dipahami, detail cerita bisa membuat hati makin CINTA dengan sosok Nabi Muhammad, para sahabat, sampai tokoh tokoh yang diceritakan oleh penulisnya.

Nah, kali ini saya ingin berbagi garis besar buku ini yang menjelaskan detail tentang rukun baiah. Selamat membaca!

Al Fahmu, rukun ke-1
Maka, ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang Haq) melainkan Allah. (Muhammad, 19)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al Isra, 36)

Yang kami maksud Al Fahmu adalah Anda yakin bahwa fikrah (pandangan) kami adalah fikrah islamiyah yang solid dan tangguh, serta Anda memahami Islam seperti apa yang kami pahami dalam duapuluh prinsip (al ushuul isyrin). [Hasan Al Banna]



“Benarnya kepahaman dan baiknya tujuan merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Tiada nikmat yang lebih utama setelah nikmat Islam melebihi kedua nikmat tersebut. Dengannya seorang hamba dapat terhindar dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang buruk tujuannya dan jalan orang-orang yang sesat (orang-orang yang buruk pemahamannya).

Sebaliknya mereka akan menjadi orang-orang yang diberi nikmat, yaitu orang-orang yang baik pemahaman dan tujuannya. Merekalah orang-orang yang terbimbing ke jalan lurus, yang kita semua diperintah untuk memohonnya setiap kali shalat. Benarnya kepahaman merupakan cahaya yang disemayamkan Allah dalam hati hamba-Nya. Dengannya, seorang hamba dapat membedakan antara yang haq dan yang buruk, yang haq dan bathil, petunjuk kesesatan, penyimpangan dan kelurusan..” (Ibnul Qayyim)

Baca juga: Rukun Baiah Hasan Al Banna (part 2)

Al Ikhlas, rukun ke-2 
Umar ra. masuk masjid dan melihat Muadz bin Jabal sedang menangis di sisi kuburan Rasulullah saw. Umar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Muadz?” Muadz menjawab bahwa dia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya sedikit dari riya adalah syirik. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa yang tersembunyi yaitu orang-orang yang apabila mereka tidak ada maka orang merasa kehilangan dan apabila mereka hadir maka mereka tidak diketahui. Hati mereka bagaikan sinar petunjuk yang selamat dari debu yang pekat.” (HR Thabrani)

Yang saya maksud dengan ikhlas adalah bahwa seorang al akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah Swt. mengharap keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan begitu ia telah menjadi tentara aqidah, bukan tentara kepentingan yang hanya mencari kemanfaatan dunia.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS Al An’am, 162-163)
Dengan begitu seorang al akh telah memahami slogan “Allah tujuan kami.” Sungguh Allah Mahabesar dan bagi-Nya segala puji.” (Hasan Al Banna)

Al Amal, rukun ke-3
Yang kami inginkan dengan amal adalah hasil atas ilmu dan ikhlas, seperti yang disebutkan dalam Al Quran Al Karim. “Dan katakanlah, Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan.” (QS At Taubah: 105)

Adapun urutan amalnya adalah:
1. Mengoreksi dan memperbaiki diri
2. Membentuk dan membina rumah tangga islami
3. Memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
4. Membebaskan tanah air dari penguasa asing
5. Memperbaiki pemerintahan
6. Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada umat Islam.
7. Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah Islamiyah ke penjuru alam. (Hasan Al Banna)

Al Jihad, rukun ke-4
“Yang kami maksud dengan jihad adalah suatu kewajiban yang waktunya membentang (tidak berhenti) sampai hari kiamat. Kandungannya adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. :
“Barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau minimal tidak pernah punya niat untuk berjuang, maka kematiannya adalah dalam keadaan jahiliyah.”

Urutan jihad yang paling rendah adalah perang mengangkat senjata di jalan Allah. Sedangkan di tengah-tengah itu adalah jihad lisan, pena, tangan, dan berkata benar di hadapan penguasa tiran.
Dakwah tidak akan pernah hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Karena kedudukan dakwah yang begitu tinggi dan bentangannya yang luas maka jihad merupakan jalan satu-satunya untuk dapat menghantarkan dakwah menuju tujuan. Jihad adalah pengorbanan paripurna dalam mengokohnkan posisi dakwah. Balasan yang akan diperoleh para pengemban dakwah adalah pahala yang besar di sisi Allah Swt.

Dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. (QS Al Hajj: 78)

Dengan demikian, semoga para aktivis dakwah memahami hakikat doktrin yang terukir dalam darah daging kami bahwa Al Jihad Sabiluna (jihad adalah jalan hidup kami). (Hasan Al Banna)

At Tadlhiyah, rukun ke-5
“Yang kami maksud dengan tadlhiyah adalah pengorbanan jiwa, raga, harta, waktu, dan segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Sesungguhnya di dunia ini tidak ada jihad tanpa adanya rasa pengorbanan. Anda jangan merasa bahwa pengorbanan Anda akan hilang begitu saja tatkala meniti jalan fikrah kami ini. Yakinilah bahwa setiap pengorbanan pasti akan mendapatkan ganjaran yang melimpah dan pahala yang besar. Barangsiapa tidak mau berkorban dengan kami, maka sungguh ia berdosa.”

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan balasan surga…” (QS At Taubah: 11)

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kami usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya…” (QS At Taubah: 24)

“…Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah…” (QS At Taubah: 120)

“…Maka jika kalian patuhi (ajakan) itu, Allah pasti akan memberi kalian pahala yang baik..” (QS Al Fath: 16)

Allah Swt. telah menegaskan hal itu dalam banyak ayat Al Quran. Dengan memahami ini, maka Anda akan memahami doktrin kami “Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi.” (Hasan Al Banna)

to be continue....

Sumber: buku Teladan Tarbiyah dalam Bingkai Arkabul Bai'ah

Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan