Review Event Netizen Bandung Bareng MPR RI: Menanamkan Cinta 4 Pilar MPR RI Kepada Anak Bangsa

Bu Raras, Bu Siti, Bang Aswi dan Mas Andri mengisi acara Netizen Bandung ngobrol bareng MPR RI

HARI Sabtu lalu, 20 mei 2017 ada agenda ngobrol santai bareng MPR, pagi-pagi sudah 'sarapan berita' asik mengenai MPR. Tentu sayang untuk dilewatkan.

Antusias para Netizen Bandung patut diapresiasi. Acara bertempat Hotel Novotel, di Ruang Voltaire lantai 3 telah ramai para blogger beserta insan media hendak meliput acara dan mendokumentasikannya sejak pagi.

Jam menunjukkan pukul 08.30 saat saya tiba. Kala mendaftar di tempat registrasi, hal yang saya khawatirkan terjadi. Saya batuk batuk. Hal ini sempat membuat saya berpikir ulang untuk ikut rangkaian acara ini. Semoga saat acara bisa kompromi, batin saya, hehe.

Suasana ruangan formal, terbagi menjadi beberapa lingkaran. Satu meja lingkaran terdiri dari 6 orang, sampai lebih. Sebelum acara dimulai, penting memanfaatkan momen ini untuk berbincang dengan teman-teman sesama blogger.

Acara dimulai pukul 09.00 pagi. Para blogger telah berganti memakai kaos bertuliskan Netizen Gathering www.mpr.go.id. Sesi ngobrol santai tentang MPR dipandu langsung oleh Mas Andri, dari Humas MPR RI. Dan narasumber adalah Bu Siti Fauziah selaku Kepala Biro Humas MPR, Bu Raras dari Biro Humas MPR, serta Bang Aswi dari perwakilan Blogger Bandung.

Acara Netizen Bandung ngobrol bareng MPR RI ini hendak mensosialisasikan 4 pilar MPR RI, dan mensukseskan keempat pilar tersebut. Apa saja 4 pilar MPR RI?
1. Pancasila sebagai ideologi Negara
2. UUD 1945 sebagai konstitusi
3. NKRI sebagai bentuk Negara, dan
4. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara.

Bu Siti, Bu Raras dan Bang Aswi memaparkan 4 Pilar MPR RI

“MPR RI telah mensosialisasikan 4 pilar ini di berbagai kota di Indonesia, seperti kota Solo, Makassar, Palembang, Yogyakarta, dan Bandung pada hari ini,” ujar Bu Raras. “Dalam progress selanjutnya yakni Lampung dan Kalimantan.” Tambahnya lagi.

MPR gencar mensosialisasikan hal ini, “sehingga tidak terkesan dimiliki oleh 1 kalangan, tapi seluruh rakyat.” Papar Bu Raras lagi. 

MPR bukan lagi menjadi lembaga tertinggi Negara, dan sejajar dengan lembaga pemerintahan lainnya, seperti yang tercantum di bawah ini:
Pasal 1 ayat (2) yang semula berbunyi: “Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.” , setelah perubahan Undang-Undang Dasar diubah menjadi “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.”

Mengutip dari Wikipedia, dengan demikian pelaksanaan kedaulatan rakyat tidak lagi dijalankan sepenuhnya oleh sebuah lembaga negara, yaitu MPR, tetapi melalui cara-cara dan oleh berbagai lembaga negara yang ditentukan oleh UUD 1945.

Ketua MPR 2014-2019 adalah Zulkifli Hasan, didampingi wakil ketua MPR yaitu E.E. Mangindaan, Hidayat Nur Wahid, dan Oesman Sapta Odang.

Setelah Reformasi, MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan umum. Keanggotaan MPR diresmikan dengan keputusan Presiden.

Anggota MPR sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah/janji secara bersama-sama yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam sidang paripurna MPR.
Tugas dan wewenang
  1. Mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar
  2. Melantik Presiden dan Wakil Presiden hasil pemilihan umum
  3. Memutuskan usul DPR untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya
  4. Melantik Wakil Presiden menjadi Presiden
  5. Memilih Wakil Presiden
  6. Memilih Presiden dan Wakil Presiden
Bang Aswi atau yang dikenal dengan sebutan ‘sosok itu’ berbagi cerita tentang isu kebhinekaan di daerah yang bisa kita ambil contoh baiknya. Secara, di ibukota kan sedang ramai isu penista agama dan menjadi polemik.

Bang Aswi bercerita tentang daerah-daerah seperti Ambon, yang Bang Aswi ketahui langsung dari pelaku sejarahnya, bahwa kebhinekaan itu memang benar-benar terjadi. Hanya saja terkadang media tidak mewartakan yang sebenarnya. Sehingga ada dari mereka yang aktif memberitakan lewat social media seperti facebook, twitter. Ada juga kasus-kasus seperti di Ambon itu diselamatkan di kampung Pemuda Muslim.

Ada yang aktif berhubungan dengan teman-teman Nasrani. Muslim tersebut mengatakan, “Mereka yang sering bertikai (misal di Jakarta) belum belajar dari beta,” tentang menjaga keutuhan bangsa dan Negara.

Lalu moderator, Mas Sandi yang sering disebut Bang Sammy (karena sekilas mirip itu lhoo artis) mempersilakan Pak Purwadi, selaku sepuh blogger dari MPR untuk berbagi dengan para netizen.

Pak Purwadi mengingatkan untuk tak melupakan asal seni tradisi kita

Pak Purwadi, sosok yang mencintai budaya Indonesia. Terlihat dari penampilannya yang khas memakai blankon di kepala mencirikan kebanggaannya terhadap kebudayaan Indonesia. Jarang ada orang yang seperti ini, bukan?

Beliau mengatakan bahwa, “Pak Ridwan Kamil ketika pulang bertugas dari daerah daerah, kemudian kembali ke kantornya, beliau memakai udheng. Kita bisa belajar darinya, bahwa dimanapun Kita berada, jangan melupakan asal, seni tradisi kita.” Ujar Pak Purwadi.

Menanamkan Cinta 4 Pilar MPR RI kepada Anak Bangsa 
Kemudian bincang-bincang berlanjut dengan Tanya jawab. Dan menanyakan bagaimana menanamkan cinta terhadap 4 Pilar yang bisa diupayakan dari kecil?

Bu Siti menjawab dengan urutan tingkat bagaimana 4 Pilar bisa dikenalkan kepada anak dengan lomba mewarnai, lomba menggambar.

Bu Siti pun berkisah pernah sangat terkesan sampai sekarang dengan seorang anak SD yang menggambar burung Garuda yang sayapnya hampir putus dan sedang merajut sayapnya.

Sedangkan untuk SMA menanamkan 4 Pilar bisa lewat cerdas cermat, ataupun menghafal UUD 1945 di luar kepala, 173 pasal ayat dihapal di luar kepala.

Pak Ma’ruf Cahyono mengatakan bahwa tes P4 dimenangkan oleh daerah-daerah, malah. Keren, ya! Padahal lawannya ibu kota dan kota-kota lain. Hebat! Keren! Tes P4 dimenangkan di Kalimantan.
Untuk menanamkan 4 pilar pada mahasiswa, bisa lewat wayang (seni budaya), syair, pantun, gurindam, tari-tarian, maupun cerita.

Ternyata MPR pernah membuat komik berisi 4 Pilar MPR RI, lho! juga film, pernah dengar film Seteru yang tayang di bioskop tahun ini? Film tersebut memperkenalkan secara garis besar tentang 4 Pilar.

Lalu Netizen menanyakan tentang akses informasi tentang ke-MPR-an, dan sudah ada di www.mpr.go.id selain itu informasi bisa didapatkan di PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi). Sebagai informasi, PPID berfungsi sebagai pengelola dan penyampai dokumen yang dimiliki oleh badan publik sesuai amanat UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.


Setjen MPR RI, Ma'ruf Cahyono menyampaikan hal-hal mengenai MPR yang begitu sudah hafal di luar kepala. hebat!

Acara bincang-bincang selesai, diselingi dengan makan snack dan minum teh/kopi yang disajikan oleh pramusaji. Kemudian acara berlanjut diisi oleh Setjen Ma’ruf Cahyono, Setjen MPR. Beliau banyak menyampaikan tentang peran MPR, wewenang  MPR, kemudian menceritakan tentang isi buku yang diberikan yaitu buku hijau dan biru.
paririmbon

Buku hijau yaitu buku Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1960 sampai dengan tahun 2002, untuk memberikan informasi tentang materi dan status hukum.

Buku biru berisi  buku Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 tentang susunan naskah resmi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Pak Ma’ruf Cahyono pun mengungkapkan bahwa tanggal 31 Mei 2017 ini akan diadakan Konferensi Etika. Mengenai Etika ini, terdapat di Ketetapan MPR RI Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.

Di Ketetapan MPR RI Nomor VI tersebut dijelaskan mengenai pokok-pokok etika kehidupan berbangsa meliputi : 1) Etika Sosial dan budaya, 2) Etika Politik dan Pemerintahan, 3) Etika Ekonomi dan Bisnis, 4) Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan, 5) Etika Keilmuan dan 6) Etika Lingkungan.

Seperti yang kita ketahui, saat ini zaman globalisasi, apakah terasa mulai bergeserkah nilai murid kepada guru? Atau anak kepada orang tua? Dengan menyapa seperti teman sendiri. Maka tetap perhatikan etika menyapa dan menghormati mereka.

Etika Sosial dan Budaya bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur, saling peduli, saling memahami, saling menghargai, saling mencintai, dan saling menolong di antara sesama manusia dan warga bangsa. Sejalan dengan itu, perlu menumbuhkembangkan kembali budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Untuk itu, perlu juga ditumbuhkembangkan kembali kebudayaan keteladanan yang harus diwujudkan dalam perilaku para pemimpin baik formal maupun informal pada setiap lapisan masyarakat.

Etika ini dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kembali kehidupan berbangsa yang berbudaya tinggi dengan menggugah, menghargai dan mengembangkan budaya nasional yang bersumber dari budaya daerah agar mampu melaksanakan adaptasi, interaksi dengan bangsa lain, dan tindakan proaktif sejalan dengan tuntutan globalisasi. Untuk itu, diperlukan penghayatan dan pengamalan agama yang benar, kemampuan adaptasi, ketahanan dan kreativitas budaya dari masyarakat.

Pak Ma’ruf juga memaparkan tentang MPR menjadi pengawal ideologi pancasila, MPR memiliki mimpi memasyarakatkan 4 Pilar berbangsa dan bernegara. Serunya, Pak Ma'ruf menutup dengan pembacaan puisi yang langsung mendapat respon positif dari Netizen.



Acara pun ditutup dengan berfoto, dan makan siang. Terima kasih MPR RI dan Blogger Bandung! Semoga tulisan ini menginspirasi untuk lebih mencintai tanah air dan tak lupa 4 Pilar MPR RI yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Aku Cinta Indonesia!***

Comments

Uwien Budi said…
keren mbak, thanks for sharing
sy4r0h said…
Senangnya bisa ikut kegiatan seperti ini, wawasan jadi bertambah dan rasa nasionalisme meningkat. Semoga di Jawa Timur ada acara seperti ini
Novia Syahidah said…
Itu komik 4 Pilar bisa didapat dimana ya Sri? Tertarik saya, ntar suruh anak2 baca.
Shona Vitrilia said…
Teteh ikut? Aku mupeng teh, tapi masih ada bayi jadi sabar dulu aja hihi..
sosialiasi 4 Pilar via seni dan budaya kayaknya paling ideal. abisnya orang seneng hiburan, sambil mereka terhibur sambil diselipin nilai-nilai 4 pilar. Hehehehe.
Amy Zet said…
Keren sosialisasinya. Pas banget ya momentnya sama kejadian ituh, hehehe. Semoga makin banyak yg sadar pentingnya 4 pilar ini. Aamiin..
Ini yang saya pelajari juga waktu diklatpim. Semoga terus bisa disosialisasikan 4 pilar ini ☺

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan