30 Menit Lebih Dekat Bersama Bu Septi Peni Wulandani, Founder Institut Ibu Profesional


Alhamdulillah akhirnya ikut grup IIP Bandung Batch 4 bisa dapet ilmunya langsung dari foundernya, ibu Septi Peni Wulandani. Meski hanya 30 menit, tapi seneng bisa dapet ilmu dari beliau.

Pertama, hal yang memotivasi Bu septi sampai bisa membentuk IIP adalah permasalahan beliau sebagai ibu rumah tangga, dan keyakinan beliau bahwa mungkin tidak hanya Bu Septi saja yg
memiliki masalah yg sama. Maka ketika Bu Septi bisa menyelesaikan tantangan hidup beliau, insya Allah bisa membantu ibu-ibu lain yang senasib dengan saya untuk mendapatkan solusi.✅


Sehingga kita bisa lihat dengan adanya IIP ini menebar manfaat sekali untuk Indonesia. Subhanallah.

Selain itu, menurut Bu Septi, peran hidup tidak bisa diarahkan atau menurut
keinginan orang lain. Hanya Allah sang Maha Pencipta, yang paham untuk
apa kita diciptakan, maka yg paling bisa mengubahnya adalah kita
sendiri dan DIA.

Contoh kasus Teh Dwina yang ingin menjadi bussiness woman, namun keluarga ingin teh dwina jadi PNS, maka apakah kita akan bahagia
menjalani hal tsb? apakah kita termasuk yg survive diantara tantangan
yg ada, dll? Kalau iya, artinya mungkin itu peran hidup kita. Kalau tidak, maka segera switch.

Seperti yang kita tahu, Bu Septi juga tidak memberikan pengetahuan anaknya lewat sekolah full. Anak anaknya memilih melanjutkan homeschooling, dan elan anak ketiganya malah sama sekali tidak mau sekolah, dan memilih homeschooling. Seperti yang kita tahu apalagi anak anaknya sukses dan di usia belasan tahun sudah ke Jepang dengan membawa projectnya yang berhasil.

Menurut Bu Septi, sebelum belajar homeschooling, maka di keluarga mesti menjalankan home based education terlebih dahulu. Hal ini yang harus dikuatkan. Setelah anak-anak masuk usia sekolah, mereka boleh memilih *schooling* atau *homeschooling* silakan pilih, setelah itu komitmen dengan pilihan. Menurut Bu Septi juga, "Ingat di Homeschooling itu belajar bersama, bukan mengajar."

Lalu bagaimana kerja tim antara Bu Septi bersama suaminya? Bu Septi memiliki memiliki prinsip, "for things to change, I must change first", sehingga bu Septi lah yg harus berubah dulu, sebelum meminta suami/anak berubah.
Selain itu ceritakan saja terus kebahagiaan perubahan diri kita ke suami, lama-lama suami akan banyak ikut terlibat sesuai misi keluarga. Bagaimana bu ibuk apa yang sering diceritakan ke suami? Hihi.

Suami Bu Septi, Pak Dodik juga berkata, "Jika kita menjalankan dengan senang hati maka pasangan pun akan otomatis
mengikuti."

Bagaimana agar suami dekat dengan anak? Maka Bu Septi mengutip perkataan suaminya, seperti ini, "Bunda, apabila suami saat ini belum mau terlibat, mungkin karena bunda berkeinginan untuk berbagi beban bukan berbagi kebahagiaan." Nah lho haha.. kalau saya gimana ya ke suami.
"Maka ceritakan saja terus bahagianya ketika kita bermain dengan anak-anak. Siapa orang yang tidak ingin bahagia?, lama-lama pasti suami akan ikut
berproses bersama dlm mendidik anak.


Bu Septi juga berbagi tentang cara bersabar ketika menghadapi anak anak dlm kondisi badan capek. Bu Septi mengatakan, "kalau badan capek, istirahatlah. Break dr segala rutinitas.

Pekerjaan rutin bisa didelegasikan, pekerjaan yg dinamis dipegang sendiri, seperti mendidik anak dll. Kemudian saat mengasuh anak, jangan di atas terus, bersikaplah spt teman bermain mereka." Pas banget, kan! Alhamdulillah.

Menurut Bu Septi lagi bahwa membahagiakan suami itu cukup dengan TAAT padanya. yang lain itu bonus. Cobalah banyak-banyak beraktivitas belajar dengan anak-anak. Karena merekalah waalid (anak-anak ideologis/kandung) kita.

Sebagai aktivis sosial, Bu Septi telah memperoleh berbagai penghargaan atas kemampuan leadership dan perubahan yang dilakukannya, diantaranya adalah:
* Pemenang Danamon Award 2006 sebagai “Individu Pemberdaya Masyarakat”.
* Ashoka Fellowship 2007 sebagai “Woman of Enterpreneur”.
* Tokoh Pilihan Majalah Tempo 2007 sebagai “10 Tokoh yang Mengubah Indonesia”
* Penghargaan Menpora 2007 sebagai “20 Pemuda yang Mengukir Prestasi”.
* Nominator International Enterpreuner of the year dari Ernst and Young tahun 2007
* Ikon 2008 Majalah Gatra untuk bidang ilmu pengetahuan dan Teknologi
* Kartini Award versi majalah Kartini, 2009
Saat ini, mbak Septi mengembangkan beberapa inisiatif pendidikan dan kegiatan sosial, antara lain:
* Jarimatika, metode pembelajaran matematika.
* Abaca-baca, metode belajar membaca.
* Jari Quran, metode belajar Al Quran.
* Padepokan Lebah Putih , sekolah formal ramah anak.
* Komunitas Belajar Cantrik , komunitas para orangtua homeschooling.
* Ibu Profesional, gerakan pelatihan dan pemberdayaan para ibu.

Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan