Ayah Bang Imad Mendidik Imad Kecil

Saturday, June 10, 2017

Sedari kecil, Ayahnya memberikan pelajaran agama berupa tafsir dan tajwid Al Quran setiap shalat shubuh. Berbeda dengan metode yang dipakai saat pesantren, yakni sorogan, metode yang digunakan adalah diskusi. Ayahnya membacakan beberapa ayat, lantas menjelaskan asbabun nuzulnya (sebab-sebab turunnya ayat) dan tafsirnya.

Kisah-kisah tokoh besar Islam yang sangat berpengaruh juga diselipkan dalam diskusi. Bang Imad lahir 1931 dengan nama lengkap Muhammad Imadduddin. Ayahnya Haji Abdulrahim. Adiknya 1944, Abdullah Abdulrahim jadi anggota DPRD Langkat.

Ustadz Abdullah menjelaskan bahwa setelah Indonesia merdeka, yang dibutuhkan oleh Negara dan masyarakat adalah para insinyur. Setelah merdeka mau apa? Membangun bangsa ini.



Kunjungan Pak Hatta ke Bendungan Asahan telah mengubah niat Imad semula menjadi dokter. Bendungan Asahan ini akan dapat dibuat pembangkit listrik yang menerangi seluruh Sumatra. Listrik, urat nadi kehidupan suatu bangsa. Tanpa listrik kemajuan bangsa tidak akan pernah terwujud. Tanpa listrik, sebuah Negara modern tidak akan lahir.

Otong Kosasih, rector ITB asal Majalengka tidak setuju dengan pendirian masjid kampus. Keluarga Otong memprotes. Otong marah karena dianggap menghalangi Islam maju. Sehabis memarahi mahasiswanya termasuk Imad. Sehabis memarahi, 2 hari kemudia, mertua rector meninggal. Sejak itu Pak Otong berubah.

Bahkan mahasiswanya yang aktif di Masjid yang membacakan Al Quran ketika mertuanya wafat. Sejak saat itu, banyak usulan Imaduddin dan kawan-kawannya berhubungan dengan kreativitas keislaman mendapat respon positif.

Bangunan fisik Masjid Salman selesai dibangun pada 1972, dan digunakan pula untuk shalat pada tahun tersebut.

Ayah Imad seorang lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir. Uniknya, beliau memanjakan Imad dipenuhi kebutuhan materinya, tetapi bagaimana membekali anaknya itu dengan pengetahuan. Oleh karena itu, masa kecil Imaduddin dipenuhi dengan peraturan-peraturan agar belajar keras, bahkan sekeras mungkin.

Imaduddin bisa menerima cara Ayahnya memanjakan dirinya tidak dengan materi, tetapi dengan didikan keras soal agama dan ketekunan belajarnya.

Pada tahun 1962, Bang Imad mengkritik Hatta. Ia kecewa karena Bung Hatta meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden. Soekarno makin merajalela. Soekarno tidak mau mendengar perkataan orang lain, kecuali Bung Hatta.

Bung Hatta tidak marah. Ia tersenyum. Bahkan Hatta berkata, “Islam bukanlah gincu, tetapi garam. Gincu mampu mengubah warna, tapi tidak mengubah rasa, sedang garam mampu mengubah rasa.”

Bang Imad ditangkap pada 23 Mei 1978 pukul 22.30 oleh Soeharto yang tidak terima dengan ceramah Imad saat mengisi ceramah di UGM Yogya, yang mengatakan “Orang yang mendirikan kuburan sebelum mati adalah Firaun.” Seperti kita tahu, Soeharto membangun kuburannya di Istana Giri Bangun. Sedangkan Firaun membangun Piramida Mesir.

Ismail Raja Faruqi pembunuhan keluarga oleh Yahudi. Amerika khawatir gerakan dakwah Ismail. Ceramahnya tentang Islam sangat ilmiah. Imaduddin mengidolakan Ismail Raja Faruqi. Argumennya tidak terbantah.

Bang Imad jatuh sakit dan sembuh di tahun 1998.

“Perkembangan hidup kita seperti anak tangga,” ujar Buya Hamka. Ada satu saat ketika salah satu kaki kita sudah meninggalkan anak tangga yang di bawah.

Kaki melayang sejenak di udara. Boleh jadi juga terpeleset dan jatuh. Itu risiko. Tetapi, kalau takut menghadapi risiko, kita tidak pernah beranjak dari anak tangga terbawah.

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik perbuatannya. Seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umurnya, namun buruk perbuatannya.” (HR Bukhari)

You Might Also Like

0 komentar

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#