Nice Homework#3 Matrikulasi Membangun Peradaban dari Rumah Batch#4 Bandung

Menikah. Satu kata yang mengubah segalanya. Dari mulai anak rumahan yang hidup serba enak tinggal di tengah kota. Aktivis yang sibuk dengan berbagai agenda kegiatan. Dan sejak itu menikah, lembaran hidup baru dimulai.

Hai sayang, mungkin saat taaruf dulu kaget yaa dengan pernyataanku bahwa diri ini ga bisa masak. Bisa sih masak mie, masak air. Haha.

Dan sejak menikah, malu karena memulainya dari awal. Untunglah dirimu tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Saat menikah, masih bekerja, dan belum menunjukkan peningkatan berarti dari bidang memasak.

Sejak mulai hamil sampai melahirkan, dan 3 bulan cuti, kemudian masuk kantor lagi, mulai terasa mengganjal tidak bisa duduk enak di kantor karena memikirkan si kecil. Dan dirimu tau itu.

Alhamdulillah saat si kecil 9 bulan aku resign dan bisa mengurus anak di rumah. Dan saat itulah kehidupan dengan status baru dimulai.
*
Tinggal jauh dari kota membuatku selalu ingin me time ke Bandung, tentu kau tahu hal itu.


Hal yang sering tidak aku sadari adalah kebaikan kebaikan yang kau lakukan seperti mengizinkan pergi ke beberapa tempat satu hari di saat week end. Adalah hal yang luar biasa. Bila dibandingkan dengan istri istri lain, mungkin aku lebih beruntung. Dan aku harus sangat bersyukur dengan hal itu.

Kau tau, aku anak kota yang sering jajan. Depan rumah sebuah sekolah dasar, dan di sebelah sd itu persis pasar. Jalan 5 menit sudah sampai monumen. 15 menit bisa sampai Salman. Tempat favoritku.

Dan setelah menikah, aku harus menyadari, tinggal jauh dari tempat kuliner membuatku mesti struggle dan kreatif. Memasak setiap hari meski malas, karena tidak ada warung nasi. Kalau ada mesti turun sekitar 20 menit menggunakan kendaraan motor.

Aku harus bersyukur dengan hal itu. Alhamdulillah, di tahun kedua setelah resign, aku sudah memiliki daftar menu yang sudah kukuasai. Meski mungkin terkadang masak masakan seputaran itu. Belum bisa lebih banyak.

Aku ingin lebih banyak memasak masakan yang enak untukmu dan keluarga kita. Alhamdulillah ibumu begitu baik mengajarkanku memasak dari awal. Untuk bisa menguasai satu menu masakan, tak bisa langsung nyerap, aku perlu beberapa kali melihat dan mempraktekannya.

Bangun pagi, aku bisa mendengar suara alam dengan jelas. Aktivitas pekerjaan tak begitu banyak disini bisa membuatku lebih kreatif lagi. Untuk mendapat bumbu masak seperti bawang daun, sereh, daun pandan, dan salam cukup memetik di depan rumah karena tersedia. Tak perlu beli.

Sering terkadang dihinggapi rasa sepi jika dibandingkan dengan di rumah orang tuaku yang memiliki 6 orang anak, dan  tak henti sepi karena dekat dengan TK, SD dan pasar. Lalu lalang kendaraan begitu ramai. Tak seperti disini.

Aku tak hendak membandingkan, aku hanya ingin menceritakan apa yang ada di hatiku saat ini. Terkadang aku berpikir ingin menambah punya anak agar Si Kecil ada teman, dan rumah tak begitu sepi.

Terkadang untuk belanja sehari hari mengandalkan penjual 1 org saja membuatku tak ada pilihan jika Si Mang tak berjualan.

Kemudian dirimu hadir menguatkan dengan berkata, "kalau si mang ga jualan bukan kiamat."

Haha. Iri karena dirimu terkadang mengirimi foto makanan enak enak saat bekerja di kantor sementara aku di rumah harus bereksplorasi dulu, di antara pekerjaan domestik yang banyak ingin dikerjakan.

Dirimu tak mempermasalahkan jika tak ada makanan sama sekali. Bahkan kau ahli Shaum. Akhirnya aku mulai kreatif jika mamang ga jualan. Beli menu kalengan kalau mamang ga jualan, dst.

Ternyata yang aku pikirkan kebanyakan soal perut. Tentang pekerjaan terkadang pun aku galau mau lanjut bekerja atau tidak, kau tahu tentang hal itu.

Terkadang aku cemburu kepada ibu bekerja (working mom) yang bisa memanfaatkan waktunya untuk aktualisasi diri, terutama memanfaatkan potensi yang mereka miliki.

Tapi rasa itu hilang timbul kalau melihat Si Kecil, rasa tak tega meninggalkannya bekerja amat dominan.

Apa yang membuatku bertahan? Sebenarnya karena aku percaya ini yang Allah gariskan dan ini jalan untukku dapat menempuhnya.

Yang patut disyukuri adalah kau memfasilitasiku untuk selalu bisa produktif di rumah. Menulis, usaha kecil kecilan jualan keripik balado online, kemudian acara masak masak di TV jadi penyemangatku untuk bisa berinovasi. Tapi seringnya lebih banyak nontonnya dibanding prakteknya. Haha.

Aku juga dikenalkan dengan menu menu baru yang tidak ditemukan di rumah dulu. Sering adik ipar menampilkan banyak memasak masakan pasta dan berinovasi dengan baking yang membuat saya takjub. Dan aku masih suka dengan masakan nusantara.
*
Memiliki rumah sendiri adalah impian setiap keluarga, alhamdulillah Allah Swt. mudahkan di tahun kedua kita menikah. Meski mungkin tidak seperti pada umumnya, kau telah membicarakannya sejak taaruf dulu untuk tinggal bersama Ibu yang kini sudah berstatus janda.

Sering aku cemburu kepada Ibu, kau anak yang sholeh selalu ingat ibu dan meminta ibu ikut denganmu menjalani masa tuanya. Tentang hadits memuliakan ibu, seorang istri tentu sebaiknya mengalah.

Terima kasih atas 4 tahun ini. Izinkan aku menua bersamamu.

Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan