Belajar Parenting dari Keluarga Alamanda (Kak Idzma dan Kak Lintang)


KALAU suami istri pasangan yang saling melengkapi, selalu support satu sama lain adalah hal yang biasa. Nah kali ini bukan kompak aja, tapi juga memiliki cita-cita besar untuk membangun lingkungan sekitar, kotanya, bahkan negara.

Itulah yang saya temukan saat bertemu dengan pasangan Idzma Mahayattika dan Lintang Dwi Febridiani. Keduanya adalah suami istri sekaligus partner yang memiliki visi misi besar. Bertempat tinggal di jalan Alamanda Bandung, mereka menamakan dirinya Keluarga Alamanda.

Peran Pendidikan dalam keluarga
Dalam mendidik Gaza, Filan, dan Bagas, Idzma dan Lintang menerapkan dan memfokuskan kepada iman dan belajar di usia awal, yakni 0-7 tahun.

Lintang kelahiran Jakarta, 12 Februari 1984 menyadari bahwa di usia 0-7 tahun tingkat curiosity (keingintahuan) anak itu sangat besar, sehingga Lintang mengajarkan kepada anak untuk merasa senang dalam belajar, serta membiasakan mempunyai imajinasi positif tentang ibadah. Misalnya Allah itu baik. Bukan mengajarkan hal yang ditakuti misalnya Neraka. Sehingga anak-anak merasa shalat, belajar puasa adalah hal yang menyenangkan.

Yang tidak ketinggalan selalu menjadi unik adalah keluarga Alamanda selalu membuat bermain dengan anak adalah hal yang menyenangkan. Idzma kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1983 ini bukan sekadar mengajak anak bermain, namun juga memfasilitasi bermain anak. Sebut saja dari mulai membuat tenda di depan rumah, membuat ayunan depan rumah dari bahan-bahan sederhana seperti ban motor bekas dan webbing, sampai bertualang ke berbagai tempat mengajak keluarga dan ada kesadaran ingin memberi pengalaman sebanyak-banyaknya kepada anak.

Keseruan bertualang bersama keluarga adalah bentuk melatih keberanian pada anak-anak. Hal yang perlu diteladani para orang tua agar bermain bersama anak menjadi menyenangkan, dan mereka akan semakin cinta kepada orang tuanya.


Tentang kapan waktu rutin Idzma dan istri dalam mendidik anak, keduanya selalu memanfaatkan momen belajar setiap waktu. Dari mulai membacakan dongeng kepada Gaza, Filan dan Bagas sejak kecil, sampai melihat fenomena sekitar. Dengan dongeng, akan mengkayakan pengetahuan anak, serta menambah kosakata setiap harinya. Selain itu dengan dongeng, akan membangun bonding (hubungan) yang erat antara orang tua dan anak, dan anak-anak jauh lebih mudah menangkap dibandingkan dengan yang tidak mendapat dongeng sehari-hari.

Saat belajar dengan memanfaatkan momen, misalnya ketika fenomena Gerhana Matahari, yang terjadi pada Rabu, 9 Maret lalu, Idzma dan istri mengajak anak-anaknya untuk memanfaatkan momen belajar tentang rotasi dan evolusi. Setelah itu dikembalikan kepada iman dan takwa. Pernah juga ke Bosscha, dan disana anak-anak bisa belajar tentang Bintang dan benda-benda langit lainnya. Sehingga dapat pula menggali ayat-ayat Al Quran tentang malam menghubungkannya dengan ilmu pengetahuan.

Dalam menelusuri fitrah bakat yang dimiliki oleh anak, Idzma dan istri memfasilitasi anak dan mengamati perkembangannya. Misalnya Gaza, aktif bergerak sehingga kinestetisnya yang dominan muncul. Gaza berkembang dalam motorik kasarnya. Selain itu sudah terlihat jago bernegoisasi. Maka dapat terlihat dominan Gaza cenderung berani.

Putri Lintang dan Idzma, yakni Filan lebih telaten, dan otak kanannya lebih menonjol. Berbeda dengan putra ketiga yakni Bagas yang senang langsung bertindak jika menginginkan sesuatu. Atas hal ini, orang tua wajib memfasilitasi dan mengamati perkembangan anak.

Sebenarnya awalnya Idzma dan Lintang mencari-cari pendidikan yang dapat memfasilitasi anak dan dapat mengembangkannya. Berawal dari Montessori yang ternyata dapat mengajarkan kemandirian kepada anak, serta tumbuh rasa percaya diri pada anak.

Kemudian mencari-cari pendidikan anak dengan Parenting Islami, yang merujuk kepada nubuwwah. Sehingga sampai akhirnya jatuh hati pada komunitas home education yang berbasis akhlak dan bakat.
“Kami memilih mendidik dengan home education karena tidak terlalu kebarat-baratan sekali, ataupun tidak terlalu kaku. Sehingga anak dipercaya sesuai fitrah. Membiarkannya tumbuh dengan keinginannya apa.” Tambahnya lagi bahwa, “Sejatinya manusia memiliki misi di dunia yakni sebagai khalifah. Khalifah bukan berarti semuanya menjadi presiden. Akan tetapi expert di bidangnya masing-masing seperti expert di Biologi, Olahraga, dan sebagainya yang bertujuan memakmurkan di bumi dan seseorang optimal dengan tugas tumbuh kembangnya,” tutur Lintang saat ditanya tentang home education berbasis akhlak dan bakat.

Lintang yang diwawancarai di Taman Film Bandung memberi contoh dengan tokoh Kolonel Sanders. Dia ditolak 1009 kali saat akan menawarkan resep ayam goreng buatannya dan mampu sukses pada usia 70 tahun. Kolonel Sanders mampu meraih sukses pada usianya telah senja. Namun semangat berjuangnya patut kita tiru. Saat ini KFC telah memiliki lebih dari 18.000 outlet yang tersebar di 120 negara. Colonel Sanders telah melakukannya dengan easy, enjoy dan excellent.

Ungkapnya lagi bahwa, “Tidak semua harus menjadi akuntan, polisi, sekretaris, penulis, guru, dan sebagainya. Untuk menemukan minat dan bakat anak yang tepat, anak-anak dapat dipaparkan dengan aktivitas mengajar, bercocok tanam, dan semua hal lain dapat mereka coba. Sampai, pada akhirnya, secara naluri dia memilih sendiri apa yang cocok menurut dirinya.”

Menurut Lintang pula bahwa peran pendidikan merupakan tanggung jawab yang besar bagi orang tua, bukan tanggung jawab sekolah. Jadi meskipun anak disekolahkan, bukan berarti tanggung jawab orang tua untuk mendidik sudah gugur. Tetap harus ada proses asah, asih, asuh. Sehingga bukan keluarga menguatkan pendidikan sekolah, namun sekolah yang menguatkan pendidikan di keluarga. Keluarga adalah tempat penanaman nilai, orang tua yang menentukan, tujuan Pendidikan anak-anaknya dan mau dijadikan apa mereka.

“Dan bila perlu dalam mendidik anak, orang tua mencarikan fasilitas dan sumber-sumber lain untuk mendukung proses pendidikan anak-anaknya, termasuk memilihkan sekolah yang sesuai, sesuai dengan tujuan pendidikan keluarga,” tutur Lintang.

Turun pada situasi bencana banjir di Bandung Selatan
Pada situasi bencana di Banjir Bandung Selatan, Keluarga Alamanda bersemangat ingin menebar manfaat lewat ilmu, bagaimana menguatkan peran keluarga saat terjadinya bencana.
Lintang, lulusan UI Depok dan juga sebagai Konselor Menyusui di AIMI Jawa Barat pada saat banjir Bandung Selatan mengedukasi ASI juga pemberian makanan bayi dan anak di GOR Baleendah. Bagi ibu menyusui, menyusui adalah menjadi pilihan terbaik bagi ibu dan bayi karena pada situasi bencana, begitu sulit mendapat akses bersih, mensterilkan alat-alat, dan proses penyiapan yang tidak higienis, dapat meningkatkan risiko diare, kurang gizi, bahkan kematian.

Idzma memberikan edukasi dan pelatihan ibu-ibu posyandu untuk PMBA darurat, dan inisiasi pendirian dapur bayi balita, serta edukasi standar gizi untuk dapur bagi balita ke kader dan rekan relawan. Serta mengedukasi dan konseling ibu menyusui di posko pengungsian INKANAS dan SKB.

Bergerak untuk pendidikan dan sosial
Idzma yang sedang menyelesaikan pendidikan S2 PAUD nya di UNJ, telah memiliki legal formal Kidzsmile Foundation (Yayasan Senyum Anak Indonesia) sejak 25 Juni 2010 yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Kidzsmile khususnya ingin membantu optimalisasi tumbuh kembang anak (0-12 tahun), dan juga mengedukasi para orang tua dan guru.

Awalnya, Idzma bergerak dari memiliki perpustakaan anak-anak yang dinamai Rumah Senyum, ingin menularkan semangat dan mencintai membaca kepada anak-anak sekitar. Bersama para relawan ini merintis Rumah Senyum tempat aktivitas anak di Kampung Tanggulan Dago Pojok. Lalu bersama dengan beberapa relawan Rumah Senyum, mereka sepakat membangun lembaga serius dalam dunia anak, maka dibentuklah Kidzsmile Foundation. Saat ini telah tersebar di 5 titik yakni di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Indramayu dan Padang.

Untuk orang tua, Kidzsmile mengedukasi para orang tua dengan membina anak-anak PAUD, yakni rutin berbincang mengenai mendidik dan mengasuh anak (parenting), bahkan di usia 0-2 tahun, orang tua dididik tentang pentingnya ASI, kesadaran bukan saja untuk para ibu atau bunda, namun juga untuk para Ayah, sehingga ada gerakan Ayah ASI yang mendukung penuh pemberian ASI kepada bayi usia 0-2 tahun.

Kidzsmile melakukan pendampingan pula kepada Guru PAUD, mereka dilatih, PAUDnya dibina dan diberi  bantuan berupa alat tulis, serta berdiskusi tentang pendidikan. "Beberapa PAUD yang telah diberi pendampingan yakni PAUD Tanggulang, PAUD di Pangalengan, serta PAUD Surya Dago Pojok." Tutup Teh Lintang menutup perbincangan siang itu. Sukses selalu Kidzsmile!

Comments

Bela Islami said…
Alhamdulillah bisa banyak belajar dari keluarga ini, yang terpenting selalu mengaitkan kegiatan anak-anak pada Allah.. Terima kasih sharingnya teh..

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan