D I K S I


Meskipun belum pernah sekalipun membaca kisah rekaan semacam "Sepotong Senja untuk Pacarku", perempuan muda itu sangat menikmati turunnya senja. Apalagi sepotong senja yang menggantung di langit Pantai Klayar. Warna jingga seperti jeruk Sunkist raksasa yang diremas di langit dan cairannya menciprati langit yang bersih tanpa segumpal pun awan. 

Lalu langit yang telah diciprati warna jingga itu, dengan gembira membagi warnanya untuk tetangga terdekatnya, yakni semesta lanskap yang didalamnya berhimpun ornamen alam nan mempesona: hamparan pasir putih, deburan ombak, batu-batu karang, tafon --ragam batuan yang terbentuk karena abrasi air laut, serta laguna yang diapit gugusan batu karang dengan ombak yang mengalun lembut dan pecah berderai saat menepis karang, dan menciptakan sebaran mutiara air yang bertebaran di udara. 

Bahkan langit itu juga dengan bahagia berbagi teja jingga kepada para pengunjung pantai yang tengah sibuk menikmati pesona lanskap. Ada yang dengan mata telanjang, duduk terpekur dengan mata meluncur ke langit; ada juga yang tengah mencoba merekam indahnya panorama dengan peralatan-peralatan yang dimiliki, mulai dari kamera digital hingga kamera profesional. 

Semua terciprat jingga. Semua berpesta senja. 

Dan perempuan muda itu, untuk kesekian kalinya ternganga. Jingga adalah warna kesukaannya. Sejak belia, sejak matanya mulai mampu membedakan berbagai jenis warna, detak jantungnya akan bertambah cepat, yang berefek pada desiran kencang pada aliran darahnya, jika sepasang netranya menumbuk warna jingga. Baju baju yang sekali diberikan akni pada saat lebaran, juga selalu jingga. Sepatu murahan, sandal jepit, tas, pensil, duskrip, penghapus, buku-buku, hampir semua berwarna jingga. 
(Akik dan Penghimpun Senja, Afifah Afra) 

Saya baru saja membaca habis buku Mei Hwa milik Afifah Afra. Sedangkan yang menjadi prolog tulisan saya ini adalah tulisan Mbak Afra dalam judul bukunya Akik dan Penghimpun Senja.

Saya takjub ada penulis muslimah yang bisa menulis dengan hebat. Selain takjub dengan cerita, kerapkali saya membaca novel-novel beliau pemakaian diksi di dalamnya pun benar benar bagus.

Dan tentu saja, pemakaian diksi selalu menjadi hal yang menarik untuk dibaca. Diksi yang berarti pilihan kata.

Saya akan merefresh ilmu yang saya dapatkan 11 Juli 2009 lalu dalam sebuah forum kepenulisan, bahwa secara ketepatan, diksi berkaitan dengan isi/pesan dalam proses komunikasi. Diksi terbagi menjadi:
1. Denotasi dan Konotasi 
Denotasi menunjukkan adanya hubungan antara konsep dan kenyataan. Selain itu lugas, apa adanya. Contoh Perempuan itu ibu saya.

Sedangkan konotasi muncul akibat asosiasi perasaan atau pengalaman kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar.
Konotasi juga kias, tidak langsung.
Misal Ah, dasar perempuan!

2. Sinonimi 
Sinonim adalah kata yang memiliki makna yang sama atau hampir sama.  Secara denotatif sama, tetapi secara konotatif berbeda. Contoh pemakaian kata mati bisa beragam maknanya bila memakai kata lain meninggal, wafat, gugur, mangkat, mampus, berpulang.

3. Umum dan khusus
Kata bermakna umum memiliki makna yang luas.
Kata bermakna khusus memiliki makna yang terbatas.
Contoh: Kendaraan, mobil, sedan.

4. Perubahan makna
Penyempitan seperti kata sarjana, pendeta, ustaz ulama.
Perluasan seperti ibu, bapak, saudara, berlayar.
Ameliorasi seperti perempuan.
Peyorasi seperti babu, jongos, atau kuli.

Kesesuaian 
Berkaitan dengan situasi pembicaraan dan kondisi komunikan (pendengar atau pembaca).

Baku dan takbaku 
Kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah di dalam bahasa Indonesia. Sedangkan kata takbaku tidak bercirikan bahasa daerah atau bahasa asing.

ilmiah dan populer 
  • ilmiah adalah kata yang biasa digunakan di lingkungan ilmuwan dan dunia pendidikan pada umumnya. 
  • Populer adalah kata yang biasa digunakan di kalangan masyarakat umum. Misalnya kata ilmiah menggunakan kata dampak. Sedangkan kata populer menggunakan kata akibat dan kendala.

Kata percakapan dan kata usang 
Kata percakapan memiliki ciri kedaerahan, tidak ajeg menggunakan akidah, sering disingkat. Contoh nggak, ngerti, dapet, sikon, gini, gitu. Sedangkan kata usang adalah kata kata atau ungkapan yang telah sangat lama digunakan tau diketahui umum. Contohnya makan garam, panjang tangan, dan makan hati.

Tertarik untuk menggunakan diksi baru? Caranya mudah sebenarnya, banyak baca, banyak baca, banyak baca. (sebuah renungan juga untuk saya). Kapan terakhir baca buku? Yuk, mulai menulis dengan diksi baru.

#ODOP
#ODOP2
#bloggermuslimahindonesia

Comments

Dian Ravi said…
Tertarik! Wah langsung dapat ilmu lagi. Berasa diingatkan pelajaran jaman sekolah dulu. Terima kasih, Mbak. Pas banget memang mau mulai belajar menulis diksi lagi.
Masya Allah, Aisyah suka diksi dan pemilihan kata yang indah, terimakasih untuk ilmunya kak.. ^^
Salam kenal..
Kalau sudah baca bukunya Mbak Afra, pasti bertemu diksi yang keren. Bagus. Dan nyastra. Saya juga suka baca buku beliau. Terima kasih tambahan informasi tentang diksinya ...
qonita sinta said…
Saya juga suka banget sama karya beliau, Mbak. De Winst & De Liefde favorit saya... ;)
Sri Al Hidayati said…
salam kenal mba dian, mba aisyah, alhamdulillah iya mba khulatul.. waah saya belum baca karya beliau De Winst dan De Liefde nnti coba hunting2 insyaAllah :)

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan