Pelibatan Keluarga dalam Mendidik Anak

Saturday, March 24, 2018

Sumber gambar: http://indonesia.ucanews.com

Pagi hari matahari bergeser menampakkan sinarnya. Sebagian anak-anak sudah terjaga dan bersiap menyambut hari untuk berangkat ke sekolah. Di sudut desa lain, anak-anak lainnya ada yang tidak terpikir untuk bersekolah, memilih mengencangkan ikat pinggang untuk membantu mencari penghidupan.

Realitasnya, diantara kita ada yang masih beranggapan pendidikan hanya milik sebagian kalangan yang 'berduit' dan orang yang 'berpunya'. Sehingga masih banyak di negeri yang lebih memprioritaskan hari ini makan apa, dibandingkan membekali anak-anaknya dengan pengetahuan atau memberi ruang bagi anak untuk belajar. Bahkan melibatkan anak dengan sadar atau tanpa paksaan mereka untuk membantu mencari penghidupan.

Tabel data anak putus sekolah tahun 2016/2017

Ironis, di satu sisi anak perlu belajar, namun ia sudah berdikari. Maka kesia-kesiaan jika ada yang berleha-leha ketika sudah difasilitasi pendidikan yang terbaik oleh orang tua, namun disia-siakannya.

Mendidik tugas orang tua atau sekolah?
Orang tua A berharap anaknya sekolah sukses, dan akhirnya mendapat jabatan tinggi di kantor tempatnya bekerja kelak. Orang tua B mendidik anaknya dengan menempatkan anaknya di tempat-tempat bimbel agar anaknya menjai juara, terbaik dalam semua bidang studi, tanpa pernah bertanya apa ia suka atau tidak.

Tapi di sisi lain ada orang tua C yang tidak memilih sekolah untuk anaknya, akan tetapi menerapkan pembelajaran homeschooling di rumahnya. Adapula orang tua D telah memiliki visi, misi sendiri dan tetap menyekolahkan anak-anaknya, namun tak begitu saja menyerahkannya 100% pada sekolah, orang tua tetap ikut berperan di dalamnya, bahkan harus lebih perhatian dan tahu bakat serta kemampuan anaknya.

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian 
Istilah homeschooling saat ini sudah membumi, dan tak sedikit yang menjalankan homeschooling di rumah, tanpa sekolah formal untuk anaknya. Pelibatan keluarga menjadi sentral mendidik dengan kurikulum yang telah ditentukan.

Saya tertarik dengan orang tua yang fokus mendidik anaknya di rumah, dan itu ternyata salah satunya pun teman saya. Meski telah berjauhan jarak, saya bisa terikat dengan adanya sosial media. Menyaksikan rangkaian hari beliau bersama si Kecil dan selalu mengambil makna dari setiap peristiwa. Hal yang jarang dapat dilihat di sekolah formal, seperti belajar langsung dari alam, mengamati berbagai binatang, belajar dari berbagai tempat baru, dan seterusnya.

Dari kompas.com (16/03/2018), Minat Orang tua Pilih Homeschooling Meningkat
Yulianti Hendra, pengurus Jakarta Homeschool Club mengungkapkan, "Beberapa alasan umum para orangtua memilih jalur homeschooling, misalnya karena kurang puas dengan sistem pendidikan di Indonesia atau kurang sesuai untuk anak mereka. Salah satunya karena kurikulum yang dianggap terlalu berat. Di samping itu, beberapa orangtua memilih homeschooling untuk anak berkebutuhan khusus. Variasi umur anak memulai homeschooling beragam. Namun, menurutnya banyak orang tua yang mulai cari tahu saat anaknya di Taman Kanak-Kanak (TK) atau bahkan sejak awal memiliki visi untuk memilih homeschooling."

Di Amerika Serikat, pernah ada survei oleh National Center of Education Statistics (1999) mengenai alasan sebuah keluarga memilih homeschooling.
Tiga alasan tertinggi sebuah keluarga memilih homeschooling adalah:
1. Memberikan pendidikan yang lebih baik di rumah (48.9%)
2. Alasan agama/keyakinan (38.4%)
3. Lingkungan yang buruk di sekolah (25.6)

Di sisi lain, bagi mereka yang tak berfokus pada homeschooling pun tetap dapat melibatkan diri untuk mendidik anak di rumah, dengan membiasakan membacakan dongeng, akan mengkayakan pengetahuan anak, serta menambah kosakata setiap harinya. Selain itu dengan dongeng, akan membangun bonding (hubungan) yang erat antara orang tua dan anak, dan anak-anak jauh lebih mudah menangkap dibandingkan dengan yang tidak mendapat dongeng sehari-hari.

Bisa juga dengan dengan memanfaatkan momen, misalnya ketika fenomena Gerhana Matahari, anak-anak dapat belajar tentang rotasi dan evolusi. Juga dari kecil, dikenalkanlah anak dengan semua pilihan belajar dari mulai musik, seni, memasak, bercocok tanam, otomotif, seni peran, dan sebagainya. Dan selanjutnya anak dapat bebas memilih apa yang disukainya.

Fakta lain banyak orang tua yang saat ini selektif dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya, agar terhindar dari dampak negatif sekolah, seperti terjerumus dalam pergaulan yang salah, dan juga adanya trauma bulying, dsb.

Bahkan orang tua lain untuk meminimalisir hal tersebut, membekali anak-anaknya dengan pengetahuan bekal agama yang baik, hal-hal yang dilarang.

Anak tetap ikut sekolah, namun orang tua juga tetap mendidik anak di rumah, sesuai visi misi keluarga. Hal-hal yang bisa diajarkan di sekolah yang dapat melekat pada anak, yakni:
1. dapat bertemu dengan berbagai macam karakter, budaya
2. anak dapat dikenalkan dan ditumbuhkan kecintaannya pada negara
3. memiliki rasa ikut bertanggung jawab membela negara dan cinta tanah air.

1. Pelibatan keluarga, Kesadaran orang tua dalam mendidik anak
Saat ini, grup parenting (ilmu mendidik anak) sudah begitu banyak. Mulai ada kesadaran orang tua untuk ikut mendidik anak (selain menyekolahkan mereka).

Dalam parenting, para pakar akan memberi ilmu praktis seputar mengelola waktu, memenej rumah tangga, sampai menghadapi problematika rumah tangga, -terutama sekali mendidik anak sesuai tahapan usia perkembangannya.

Saya mengikuti komunitas Institut Ibu Profesional, dan banyak hal yang bisa saya dapatkan dari sana seperti ilmu bunda cekatan saat di rumah, dan juga dalam mendidik anak. Orang  tua dapat melibatkan diri mendidik anak dari dasar, yakni misalnya di usia anak 0-6 tahun, untuk kecerdasan spiritual, yakni menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, mengenal ciptaan Allah, membangkitkan kesadaran Allah sebagai pengasih dan penyayang sebagai pencipta dan pemberi rezeki.

Dalam kecerdasan menghadapi tantangan usia 0-6 tahun anak mampu mengontrol dirinya dan bisa menerima jika tidak semua permintaan dikabulkan. Untuk kecerdasan intelektual usia 0-6 tahun yakni membangkitkan logika dasar dan nalar, mengasah rasa ingin tahu, dan memahami ekspresi ibu, belajar bersama alam, memiliki imaji positif tentang alam dan kehidupan serta proses belajar.

Banyak hal yang bisa saya pelajari dan adapula tantangan yang mesti dicapai oleh seorang ibu, diantara pekerjaan domestik, juga ada target tantangan dalam mendidik anak seperti mengetahui seperti melatih gaya belajar kinestetik anak, melatih gaya belajar audio anak, dan visual anak, melatih kemandirian anak, tantangan membaca 10 hari pada anak, dan seterusnya.

2. Pelibatan Keluarga dalam Mendidik Anak 
Setiap keluarga pun memiliki kebijakan masing-masing seperti tidak memiliki TV di rumah, memiliki rak buku perpustakaan pribadi koleksi buku anak, dan seterusnya. Terutama sekali penting memberikan asupan gizi yang baik untuk otaknya dengan membanyakkan waktu untuk membaca buku, dan mengurangi penggunaan gadget untuk anak.

3. Pelibatan Keluarga, Orang tua dekat dengan anak
Orang tua pun dituntut untuk dekat dengan anak-anaknya, sehingga orang tua adalah teman yang menyenangkan sehingga tak ada istilah anak broken home atau kurang kasih sayang. Anak tak melupakan jati dirinya (darimana ia berasal dan darimana ia tumbuh dan dididik).

Peran orang tua juga yang tak lepas adalah selalu berusaha berkomunikasi yang baik dengan anak dan menjelaskan agar anak tak melupakan jati dirinya, darimana ia berasal, tumbuh dan dididik, serta yang terpenting adalah kelak menjadi anak yang berguna bagi keluarga, bangsa, negara dan agama.


Dalam mendidik anak, perlu juga berbagai sumber belajar yang akurat sesuai Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Berikut referensi yang dapat orang tua berikan pula untuk anak di rumah Rumah Belajar Kemdikbud.go.id Goals anak menjadi anak yang terdidik, berpengetahuan, dan mencintai tanah air bangsanya.

#SahabatKeluarga

You Might Also Like

0 komentar

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#