Mutiara

Wednesday, January 24, 2018


Satria menghembus nafas panjang. Ia membetulkan topi di kepalanya. Hari ini, ia sudah cukup kelelahan mencari bahan berita untuk tayang di Koran besok. Asap kendaraan tertiup menusuk ke hidung. Ia berjalan sejenak ke warung kopi langganannya.

Bekal kamera DSLR yang selalu mengiringinya kemanapun ia pergi, membuatnya semakin tertantang untuk bisa menguasai fotografi. Menulis bukan saja soal tulisan, tapi juga foto peristiwa yang bisa 'hidup' menggambarkan suasana.

Aroma kopi menggugah rasa penatnya sejenak. Ia kemudian membuka handphone, membaca pesan-pesan masuk, dan kembali dengan kopinya. Sementara Bu Euis masih membuat kopi untuk pelanggan yang lain.
*
Muti baru pulang dari kampus dan membuka laptopnya. Di jejaring sosial sedang ramai meributkan profesi wartawan dan blogger. Muti tergerak untuk berkomentar, kesal karena laki-laki yang tak dikenalnya itu, berteman di sosial media, menyepelekan para blogger.

Muti sadar betul, dirinya bukanlah penulis handal, apalagi bisa dimuat di media massa. Bahkan tahun lalu, dari sepuluh tulisan cerpen dan lima resensi yang ia kirim ke media massa tidak ada jawaban yang sesuai keinginannya.

Ya, Muti berharap ada berita baik bahwa tulisannya lolos dan layak terbit. Namun hanya satu sampai tiga email saja yang membalas, itupun pemberitahuan bahwa naskah dikembalikan. Maka, Muti tak berhenti menulis. Ia kemudian mencoba menulis blog.

Yang ia sukai saat menulis blog adalah tak perlu menunggu editor meloloskan naskahnya, cukup tulis di draft, memasukkan gambar dan video, jika perlu, dan publish. Maka tulisan bisa dibaca sampai ke ujung dunia. Dalam lubuk hati Muti ingin terus menulis hal-hal lain.

Saya agak keberatan dengan pernyataan Anda yang mengatakan bahwa blogger itu kebanyakan hanya berisi curhat dan kelasnya di bawah wartawan, karena blogger menulis di blog bisa dilakukan oleh siapa saja. 

Kirim.
Cukup puas Muti mengungkapkan uneg-unegnya. Sekarang waktunya Muti mencari bahan dan ide menuliskan hal-hal apa yang ingin ditulis seminggu ke depan.
*

Semenjak keputusan menulis di blog, Muti menulis beberapa postingan yang menjadi top pembaca dan paling banyak dicari. Cukup mudah agar tulisan akhirnya dibaca banyak orang. Pertama, penting mencari tahu apa saja yang paling banyak dicari dan di klik di mesin pencari.

Kedua, mulailah menulis. Muti terbiasa menulis dari hal-hal yang terjadi di sekitar. Tentang Ustadz ustadz yang dikenal lewat Youtube dan diterima oleh remaja yang gaul dan funky. Muti juga terbiasa menulis ulasan tentang penghafal Quran Cilik yang viewernya tetap banyak dari tahun ke tahun.

Hal yang mendukungnya dalam menulis adalah ia tersenyum bahagia saat wifi kencang, serta mendapat komentar-komentar positif dari pembaca tentang hal-hal yang mereka baca dari rumah virtualnya itu.

Mencoba fokus lagi dengan membuat domain sendiri karena kini tulisan di blog sekarang cukup menjanjikan. Selain bisa ‘dipercaya’ client, juga sering mendapat undangan di event blogger, dan mengulasnya, dan Muti senang bisa kopdar dengan teman-teman blogger lain.

Rasa perlunya bertemu dengan teman, menampik hal bahwa penulis berada di jalur sunyi. Ia juga manusia sosial yang senang bertemu, bertatap dan akrab dengan lainnya. Sehingga tak heran kebanyakan blogger adalah perempuan, sementara wartawan kebanyakan laki-laki.

Dalam mengulas sebuah objek juga sering mendapat kritikan, yakni blogger cenderung subjektif, sedangkan wartawan objektif. Muti tidak mau terjebak dengan hiruk pikuk perbedaan tersebut, dan ingin mencoba menulis lebih baik lagi. Itu saja.

Dari tempat yang Muti pijak dan layar yang ditatap, Muti mengetik huruf-huruf, merangkai menjadi sebuah kalimat, dan berharap menjadi ladang pahala baginya. “Jika mendapat uang darinya, itu adalah bonus.” Pikir Muti.

Kelak Muti ingin bisa menulis dan diterbitkan di penerbit-penerbit major, sebuah cita-cita yang ingin dirangkai setiap tahunnya. Meski nyatanya baru buku antologi yang menghiasi ruang perpustakaan rumah. “Hingga raut wajah menua, aku ingin tetap menulis.” Sering kata-kata itu bergaung di telingamu.

*

Satria bangun dari tempat tidurnya dan masih mengumpulkan nyawa. Jam sudah menunjukkan lebih dari jam 07.00. ia mengambil handuk, mandi dan bersiap ke kantor.

Sebagai wartawan, ia masih tetap harus datang ke kantor dan absen jari. Di kantor, teman-temannya rata-rata juga serupa, datang untuk absen, ke meja mengambil tanda pengenal, lalu pergi ke lapangan mencari berita.

Sore pulang kantor dan mengolah data untuk dimuat di Koran esok hari. Tak jarang sampai malam, baru dapat berita.

Kali ini Satria sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke Jakarta mencari berita. Di tasnya sudah membawa beberapa potong baju, dan juga botol minum. Kemarin saat bosnya menanyakan tentang kesiapan Satria pergi ke Jakarta beberapa hari ke depan, Satria iya-kan, meski di dalam hatinya ia menjerit ingin merasakan liburan akhir pekan.

Usai berpamitan dengan rekan kerja, Satria dan beberapa wartawan lain pergi ke Jakarta. Meski dari berlainan media. Sejatinya Satria menjalin pertemanan dengan mereka, dan banyak terbantu dengan hal-hal topik yang bisa diangkat menjadi berita.

Sejak resmi menjadi wartawan sejak 8 tahun yang lalu, Satria sering merasa idealisme juga bisa dipertaruhkan dengan profesinya tersebut. Ada juga tawaran-tawaran yang menggiurkan berupa 'amplop' diberikan kepadanya. Jika tidak mengangkat hal yang menjadi bumerang bagi segelintir orang.

Satria membuka sosial media. Ia melihat banyak orang berkomentar tentang status yang diunggahnya tempo hari. Satria membaca satu persatu komentar yang ditujukan kepadanya. Matanya tertuju pada nama: Mutiara Maryam Qonita.

Satria stalking, mencari tahu siapa perempuan itu. Pastinya seorang blogger. Satria juga mengunjungi rumah blog gadis tersebut. “Tulisannya bagus-bagus,” begitu Satria menyimpulkan.

Mutiara lebih banyak menulis dari segi pemikirannya dan dari tulisan ia tahu, “Ia sepertinya telah lulus sekolah menulis karena dari segi teknis menulis, ia cukup mapan,” batin Satria. Satria pun berjanji pada dirinya sendiri kelak ingin bertemu dengan Mutiara.

*



Muti sempat merasa jenuh karena tak ada kritikus atau semacam editor, atau manajer yang menegur tulisannya. Yang Muti coba pikir positif adalah semoga tulisannya bisa terus bermanfaat bagi visitor (pengunjung). Muti hanya bisa mengecek banyaknya pembaca dari jumlah statistik setiap harinya.

Muti bisa menghitung-hitung bahwa dalam satu hari, yang berkunjung ke blognya mencapai 1000-2500 view. Jika sedang ramai atau menulis hal update, bisa sampai 2500 per hari. Sebuah tantangan baginya untuk menaikkan visitor mencapai 5000. Dan itu artinya, Muti mesti setiap hari menulis dan menguploadnya ke blog. Tapi ia tak ingin asal menulis. Tetap menulis dengan kualitas.

Muti juga tertarik saat berbincang dengan teman-teman sesama blogger bahwa dari ngeblog juga bisa dapat penghasilan, yakni dengan menggunakan google ads. Dan, akhirnya Muti semakin hari semakin tertarik saja dengan dunia blog. Bukan dengan mengandalkan SEO. “Tapi benar-benar pure karena tulisan kita bagus,” ungkap narasumber saat Muti menghadiri cara meningkatkan traffic blog.

Sore itu, Muti sedang melihat kalender di kamar dan mencatat jadwal-jadwalnya mengisi di komunitas menulis. Muti dengan aktivitas harian yang padat di kampus, tetap inginkan kesejukan dan obrolan-obrolan ringan seputar dunia literasi.

Ia menandai dengan spidol merah, jadwalnya mengisi ada di pekan ketiga di bulan Februari. Sebenarnya berat baginya mengisi ruang diskusi, tapi ada kewajiban bahwa setiap pengurus komunitas menulis tersebut untuk menghidupkan diskusi.

Akhirnya Muti mencoba memberanikan diri. Sejak jauh-jauh hari, Muti telah mencari literatur, referensi untuk menghidupkan ruang diskusi menulis tersebut. Biasanya ia akan pergi ke beberapa perpustakaan dan membaca buku, kemudian menarik satu garis lurus untuk dituliskan dalam satu buah artikel yang akan menjadi panduannya dalam memulai diskusi.

*
Hari itu tiba, saat brosur Muti sudah tersebar di sosial media. Muti mengisi kajian menulis, ia seorang blogger aktif yang tumbuh dari didikan komunitas menulis terbesar di Indonesia.

Diskusi berjalan lancar sampai ada seorang lelaki yang bercerita, Ia seorang blogger yang hidup dari menulis dan ia senang karena bisa jalan-jalan ke luar negeri dari menulis.

Penanya lain bertanya, "Bagaimana kalau blogger menulis layaknya wartawan?" Hal tersebut mengejutkan bagi Muti, karena blogger dan wartawan sama-sama memberitakan pesan. Muti merasa menciut karena ia merasa kalah saat menulis di media massa. Namun Muti tertantang untuk mencobanya.

Hal tersebut menjadi sebuah ‘hantu’ bagi Muti karena tak berhenti memikirkannya. Muti lupa bertanya, siapakah nama laki-laki itu. Hingga ada pesan yang masuk ke handphone-nya.

Hallo Muti. Kenalkan saya Satria, yang tadi bertanya di forum diskusi menulis.

Sontak Muti menutup mulutnya. Wajah profil ini, “Orang ini yang dulu aku kritik dan berkomentar karena pernyataannya tentang blogger!” teriak Muti dalam hati.

Lalu Muti menjawab sapaan Satria tersebut dan mengatakan ingin berguru pada Satria. Malam itu langit cerah, hati Muti tak keruan karena kuatir hal tersebut akan menjadi masalah untuknya.
*

Sedang tak jauh dari tempatnya berada, Satria baru saja pulang. Kamarnya pecah bagai diserang angin badai menghamburkan segala isi di dalamnya.

Satria baru dari pulang dari Jakarta siang tadi. Demi bisa ikut acara menulis Muti, pujaan hatinya, ia pulang dan berdandan memakai parfum yang maskulin, dan menyisir rambutnya, rapi.

Setelah empat hari menghabiskan waktu mencari berita dan wajahnya kusut, tak terurus. Siang tadi ia meminta izin pamit ke atasan, membersihkan diri untuk tampil sebaik-baiknya.

Kini ia rebahkan badannya sejenak, ketika bunyi pesan masuk, ia duduk dan menjawab pertanyaan dari Muti. Bagai gayung bersambut, Satria siap berbagi ilmu selama menjadi wartawan.

Setelah diskusi lewat chat, Muti masih terjaga. Ia berpikir tentang kata-kata Satrio. Ia jadi paham bahwa pekerjaan wartawan menantang karena sering berhadapan dengan tekanan dan hal yang suka atau tidak suka, harus dihadapi. Mungkin juga membahayakan dan cukup mengancam. -atau juga penuh godaan.

"Berbeda sekali dengan apa yang sering kutulis. Aku lebih sering menulis hal-hal yang aku suka, dan cenderung menghindar jika harus menulis hal-hal yang cukup menantang." ujarnya berbicara sendiri.

Muti tersenyum dan merasa senang bertemu Satrio. Muti pun mengucap terimakasih.

Satria membaca pesan terakhir Muti malam itu, dan beranjak mengambil kopi dan ingin menyeduhnya -sebelum berniat tidur dengan kamar yang belum sempat ia sentuh –bereskan.

Saat duduk setelah mengaduk kopi dalam tegukan pertama, tak tersadar Satrio melihat sebuah foto keluarga. Foto dirinya, bersama istrinya -dulu dan putrinya, saat liburan ke wahana bermain, beberapa tahun yang lalu. Marwah kala di foto itu, masih berumur setahun. Tetiba ia merasa tercerabut, merindukan putri kecilnya. []

*Tulisan ini diikutkan dalam lomba Blog Competition Menulis Cerpen "Seribu Kisah Blogger Syar'i yang Tetap Cool"


You Might Also Like

0 komentar

Beautynesia Blog

beautynesia blogbeautynesia

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#