Cerpen: Anak-Anak Digital

cerpen anak-anak digital

Karya Sri Al Hidayati

"Bun, kenapa membolehkan anak main gadget?" tanya seorang kawan yang mengenakan baju gamis berwarna cokelat. 

Cici hanya mengulum senyum. 

Cici adalah mahasiswa Teknologi Pendidikan dan terbiasa berkutat dengan bahasa pemograman. 

Ketika orang-orang dewasa melarang anaknya bermain games, justru Cici punya pandangan berbeda. 

Terlebih kini ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Ia juga punya sebuah ide besar di kepalanya yang bisa menjadi project yang bisa melibatkan anak-anaknya dalam project besar itu.

Ia mengajak anaknya bukan jadi seorang gamers atau pemain, tapi pembuat game karena terbiasa bersahabat dengan logika dalam menerapkan game yang akan dibuat. 

Cici menjelaskan detail tentang logika yang dipakai dalam membuat game. Nino dikenalkan dengan coding atau bahasa pemograman. Bukan hal seperti bahasa html, php, java, phyton, crt, tapi yang lebih sederhana dulu.

Nino belajar logika sederhana untuk memberi instruksi, misalnya menggerakkan objek ke kanan, kiri, atas, bawah, belajar logika pada sumbu x dan y. Pembelajaran "Jika Maka" juga dipelajari. 

Suatu hal yang mengagumkan anak usia 8 tahun sudah dilibatkan dalam game sederhana, seperti burung terbang mencari makanan, tokoh anak SD yang mencari jalan pulang tapi dihadang oleh anjing misalnya. Selain itu game pingpong, dan roket di luar angkasa.

Anak yang tumbuh dengan didikan orang tua yang sudah terarah dan punya ilmu mendidik, tentu lebih berdaya dan anak bisa punya goal dalam hidup. Anak juga akan merasa senang selalu mendapat motivasi dari orang terdekatnya.

Nino selalu diajak berdialog tentang capaian-capaiannya, dibimbing dan diarahkan. 

Berbeda dengan anak-anak lain, tidak seberuntung Nino, anak-anak digital tumbuh bersama gadget di sisi mereka. 

Anak-anak terbiasa waktunya diisi dengan scrolling sosmed, chatting, main game atau tiktokan. 

Anak-anak yang belum punya arahan mengisi konten mereka dengan ide gila jika tak punya akhlak dan adab.

Mereka generasi Z tumbuh bersama gadget di sisi mereka. Terlebih pandemi melegalkan mereka bersinggungan dengan smartphone atau android tanpa filter.

Orang tua yang harus lebih banyak paham memberikan arahan pada mereka. Mengiringi tumbuh kembang dan mengulas setiap tingkah laku mereka. 

“Mbak Cici, boleh tidak membiarkan anak berinovasi bermain gadget atau baiknya membatasi penggunaannya dalam waktu tertentu dan dipantau oleh orang tua?” teringat pertanyaan seseorang pada Cici kala memberi seminar.

Teknologi dari hari ke hari terus berkembang baru dan dinamis. Cici melihat di satu sisi anak-anak digital dapat berprestasi di bidangnya jika tekun. Tapi ia juga kerapkali miris saat melihat anak-anak digital hanya ‘cangkang’ saja yang terlihat menyenangi gadget, bukan esensi. 

Mereka pandai bermain gawai, namun gaptek saat duduk di depan komputer atau laptop membuka program-program dan mempelajarinya.

Pernah suatu hari, ketika Cici pulang berbelanja di pasar, Cici melihat anak-anak ngariung dengan satu gadget. Sekitar 10 meter ada lagi pemandangan serupa itu. Bocah laki-laki berkumpul untuk melihat konten tiktok, atau bermain game. 


anak-anak digital

Muncul kegelisahan dari hati Cici, demi konten, anak-anak nekat menghadang truk di malam hari, demi konten anak-anak membully temannya sampai berujung maut. 

Seakan bukan esensi dari penggunaan gadget itu, tapi sekadar gaya-gayaan tanpa tahu cara untuk memaksimalkan penggunaannya dalam belajar. 

Hal yang menyakitkan bagi Cici dan dorongan itu begitu kuat—untuk merangkul anak-anak itu.

*

Nino membenamkan kepalanya di meja pada saat jam istirahat. Tak lama ada seorang teman yang menimpuk kepalanya dengan buku. Nino pun mengaduh. “Aduh!”

Nino melihat ke kanan dan ke kiri. Ia masih mengumpullkan nyawa sejenak. 

“Ayo, kita kumpul!” kata Dudi, teman les coding Nino. Dudi satu sekolah dengan Nino, hanya beda kelas.  

Nino lalu berkumpul dengan temannya sesama teman les coding di kantin. Mereka serius tapi santai—sambil mengisi perut dengan makanan—membahas project yang akan mereka buat. 

Tepat saat pulang sekolah, ada yang meledek Nino. Orang yang menghadang Nino bertubuh bongsor, gayanya bossy. Nino mengabaikannya dan pura-pura tidak dengar. 

“Belajar coding itu tidak keren!” ujar Ben, anak bertubuh bongsor itu adalah teman satu kelas Nino.

Entah kesal karena apa, kali lain Ben menjegal kaki Nino saat berjalan. Terkadang merampas apa yang Nino bawa. Nino tak tahan menghadapi anak itu. Nino pun bercerita pada Cici.

Cici menggelengkan kepala, dan raut mukanya berubah murung. Cici pergi ke depan kulkas dan mengambil minum jus mangga untuk menjernihkan pikirannya. 

Pilihannya, ia tidak berencana melabrak anak itu atau mendatangi orang tua pembully, apalagi menyumpahinya memarahinya. Cici punya cara elegan menghadapinya. 

Ibu tunggal itu bertemu dengan Ben langsung, menyapanya dengan ramah seolah tak terjadi apa-apa, dan mempertemukan Ben dengan Nino meminta keduanya membeli makanan apa saja yang mereka mau sepuasnya. 

Setelah itu, Ben yang sebelumnya terlihat ngebossy menjadi akrab dengan Nino. Malah Ben senang main ke rumah Nino.

Ben banyak bertanya pada Cici. "Tante, bagaimana bisa menjadi seperti Nino yang jago membuat game?" 

Hal itu membuat senyum merekah di pipi Cici. 

Ah, ternyata anak itu iri dengan yang dipunyai Nino. Terkadang anak-anak yang menindas itu menganggap itu hanya lelucon, mengerjai temannya yang lain, tanpa berpikir mental orang yang dibully. 

"Ingin belajar seperti Nino ya? Kalau mau kumpulkan teman-temanmu yang mau belajar. nanti Tante bakal ajari," ujar Cici dengan tersenyum manis. 

Cici selalu membekali Nino untuk bisa melawan jika dibully, harus berani berkata tidak dan jangan takut. Anak juga harus bercerita tentang apa saja yang terjadi di sekolah sehingga mereka dapat menangani masalahnya, tanpa menyembunyikan dari orang tuanya.

*

Hari yang ditunggu telah tiba. Ben telah berhasil mengumpulkan anak-anak yang mau belajar Bahasa pemograman sederhana. Mereka rata-rata bingung dengan logika dan maksud dari yang dikatakan Cici.

Cici masih maklum karena ini pertemuan pertama tidak bisa langsung membuat program game sederhana. Masih bentuk perkenalan umum. Sekilas Cici melihat anak-anak di hadapannya ada yang telah memakai kacamata. 

Ia seperti mengingat masa lalu, saat dirinya telah memakai kacamata sejak kecil karena tidak bisa melihat dengan jelas, rabun jauh, tulisan tidak terbaca. Pandangan seperti kabur kalau kacamata dilepas. Teknologi selalu mengalami perubahan, termasuk pengobatan mata lasik untuk menangani rabun jauh. 

Cici tersadar, kembali dari lamunannya ketika Nino memegangi lengan Cici. “Bu, Nino hebat kan?” Nino semangat memberi tahu teman-temannya tentang games yang sudah pernah dibuatnya. Cici geli sendiri karena kuatirnya Nino jadi sombong karena merasa lebih hebat. 

“Nino jangan sombong ya!” Cici terkekeh. 

Agenda terdekat lomba coding anak, Nino dan Dudi sudah membuat sebuah proyek yang mereka buat dan menampilkannya pada tim penguji. Sebelum mengumpulkannya pada panitia, Nino dan Dudi mendiskusikannya dengan Cici sebagai guru les coding mereka. Cici meminta Nino dan Dudi tim untuk memperbaiki letak-letak kekurangan sebelum dikumpulkan. 

Nino kecewa karena ketekunannya siang dan sore untuk menyelesaikan project bersama kawan-kawannya belum sempurna. Tapi ia sadar kalau mengerjakan coding itu butuh ketekunan dan kesabaran dalam mengerjakannya. 

Pada saat lomba coding anak tiba, banyak tim yang lebih hebat dari Nino. Nino merasa takjub dan melihat hasil karya yang keren-keren. Inovasi teknologi masa depan akan terus mengalami perkembangan. 

Ia menjadi lebih bersemangat dan terpacu untuk lebih baik lagi. 

Anak-anak digital dapat berinovasi. Mereka tumbuh bersama dengan zamannya. Hanya ada dua hal: satu hal yang dapat membawa mereka ke arah kesuksesan atau terjerumus dalam kesia-siaan. 

Menemani tumbuh kembang anak-anak digital penuh tantangan. Tidak bisa hanya satu arah. Memberi pemahaman kepada mereka untuk senantiasa dalam koridor dan memfasilitasi bakat mereka adalah setengah menuju kesuksesan. []


*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba cerita pendek yang diadakan oleh amikom.ac.id

lomba menulis amikom


No comments