BERSAHABAT DENGAN AL QURAN


Berbicara tentang menghafal Al Qur’an sebenarnya berbicara komitmen. Tentang menghafal Al Qur’an sebenarnya sudah saya jalani seperti anak-anak kecil umumnya. Mengaji saban maghrib ke isya, kemudian kegiatan mabit dan rihlah kerapkali saya lakukan bersama teman-teman yang lain. Hafalan dari An Nas sampai Ad Duha telah dikuasai dan saat itu sudah merasa puas dan belum menambah hafalan kembali, karena belum tahu urgensi menghafal Al Qur’an.

Tentang pentingnya menghafal Al Qur’an, saya baru tahu urgensinya saat beberapa waktu ikut mentoring (halaqah) di SMA, dan saat itu saya tertarik untuk belajar di lembaga Al Qur’an –sesuai kata murabbi pertama saya.

Waktu-waktu yang telah lewat semasa kecil lebih banyak saya lewatkan dengan mendengar nasyid dan menulis sesuai hobi saya.


Kemudian kedekatan Al Qur’an saya rasakan saat menginjak kelas 2 SMA mengikuti kajian tahsin Al Qur’an yang saya ikuti di salah satu lembaga Al Qur’an. Masih teringat jelas saat itu saya ikut dari kelas pra tahsin dan (sempat) mengulang juga di kelas takhosus. Semangat yang luar biasa saya rasakan karena saya sekelas dengan orang yang mau dan niat menuntut ilmu. Terlebih peserta yang ikut pun banyak dari ummahat yang mau belajar Al Qur’an.

Dulu saya berpikir, daripada belajar di CD pembelajaran, kaset-kaset, dan macam sebagainya, akan lebih baik kalau belajar dari gurunya langsung. Hal tersebut dimaksudkan untuk tahu letak kesalahan, karena kata guru-guru halaqah Qur’an saya yang paling baik yaitu talaqqi. Saya juga berpikir: “Masa les piano, gitar, atau bimbel pelajaran bisa, tapi untuk yang satu ini ngga bisa?”

Hingga sampailah saya menapak ke level dua, level tiga. Saya pun mulai menjalani hari-hari bersama Al Qur’an bukan dari tilawah, dan membaca artinya, namun juga dengan menghafalnya dari seayat demi seayat.

Seiring waktu kuliah pun saya jalani, akhirnya di level 4 saya belum sempat ikut ujian karena berbagai kesibukan di kampus dan tidak cocoknya jadwal dengan di sana.
                                                                                    *
Saya hunting (baca: cari) siapa kira-kira yang mau mendengarkan hafalan Al Qur’an saya. Teman-teman satu kampus ada beberapa yang menyetor hafalannya pada ustadz. Saya belum pede kalau harus sama ustadz, begitu pikir saya. Saya akhirnya mendapat seorang teteh yang mau disetor hafalannya oleh saya. Beliau anak MATA, lembaga Qur’an di ITB, sampai beberapa bulan saya setor secara private kepadanya. Makasih teteh atas segalanya :)

Ujian untuk Al Qur’an yakni keistiqamahannya. Selang waktu sibuk, saya akhirnya belum menemukan tempat untuk setoran hafalan Qur’an lagi, hingga akhirnya saya mendaftar ikut kelas tahfizh di lembaga Qur’an yang sudah berubah namanya. Lalu bertemu dengan T’Lana. Beliau alumni dari Khusnul Khotimah, Kuningan dan bercerita kalau dulu syarat lulusnya adalah harus hapal 5 juz Al Qur’an.

WOW! Saya speechless dan kagum saat mendengarnya.
Menurut T’Lana, niat merupakan hal penting yang sangat membantu sampai akhirnya bisa hafal 30 juz Al Qur’an. Beliau pada tahun 2002-2003 mengikuti program 10 bulan akselerasi. Harus mempunyai target hafalan dan komitmen yang tinggi. “Akan terus lelah bila tidak lillah,” begitu kata-kata yang saya ingat sampai sekarang.

Tibalah gilirannya saat setor hafalan, saya deg-degannya minta ampun. Semua tenaga dikerahkan untuk setor hafalan yang terbaik. Saya sudah menggulang surat hafalan dalam tiap-tiap salat saya. Saat saya setoran hafalan, saya diingatkan oleh guru saya untuk memerhatikan panjangnya ketukan yang saya lontarkan (karena saya terbiasa menghafal dari mengamati audio mp3 murattal, sehingga panjangnya ketukan terkadang tidak diperhatikan-red).
Berarti bacaan yang telah saya hapal selama ini, akan saya perbaiki dari sekarang, ok harus kerja ekstra,” gumam saya saat itu. Ada kesimpulan besar, butuh persiapan yang matang dalam membaca, bukan saat mendengarkan saja. Hal tersebut akan saya ingat selalu.

Bertahan beberapa bulan, kemudian saya memutuskan fokus ke skripsi dan memutuskan tidak ikut halaqah Qur’an karena ada amanah baru yang sempat membuat saya perlu beradaptasi. Saat itu saya berpamitan dengan murabbi dalam halaqah Qur’an saya, dan saya berkomitmen masih tetap menghafal dan menyetornya di liqaan saya.

Seiring waktu, saya sadar hafalan saya bertambah, tapi tidak begitu pesat saat ikut kelas tahfizh,  dan atas kehendak Allah Swt saya lulus di akhir tahun 2011 dan mendapat kerja di Sygma (2012), dan tidak menyangka atas kehendak Allah Swt, saya bertemu lagi dengan murabbi dalam halaqah Qur’an saya yang dulu. :)

Sudah setahun lebih di kantor ada program tahfizh dan sudah setahun lebih pula hafalan saya bertambah. Saya belum ada apa-apa karena belum seluruh Al Qur’an saya hapal. Namun saya berusaha untuk menjaga Al Qur’an dan bermujahadah saat menghafalkan ayat dan menapak surat yang baru. Mohon doanya agar istiqamah. Aamiin.

Bandung, 7 September 2012
*terimakasih T’Lana, juga kepada Sygma yang telah memfasilitasi dengan adanya program tahfizh Qur’an ini. :)

Comments

Popular posts from this blog

Ustadz Hanan Attaki, Founder Pemuda Hijrah: Berdakwah secara Asik, Gaul, Tetap Syar'i

Ustadz Evie Effendi, Berdakwah secara Asik, Unik, dan Pantun yang Memikat Hati

3 Finalis Hafiz Indonesia 2017

Total Pageviews

Muslimah Blogger Community

Blogger Perempuan