Profil Ustadz Budi Ashari, Lc: Mengupas Tajam Sejarah Peradaban Dunia dan Sejarah Islam

Ustadz Budi Ashari

Sekilas pembawaannya dalam berceramah tegas, lantang, dan tajam mengupas suatu hal: dari mulai peradaban Islam, pendidikan islam, sampai tokoh-tokoh dalam sejarah Islam. 

Sarat keilmuan yang luas, cerdas memandang dari sisi yang jarang diungkap. Menyimak ceramah beliau selalu dapat ilmu baru. Masya Allah 

Wajahnya pun sudah tak asing menghiasi pagi kita, menjadi host dalam program acara “Khalifah” Trans 7. 

Beberapa waktu ini, ceramah Ustadz Budi Ashari membuat saya tercengang. Ini ceramah tahun 2017, namun saya langsung teringat di film Korea yang sedang hipe sekarang (2021) “Squid Games”. 

“Apa indahnya sebuah peradaban membangun Gedung luar biasa (baca: Colloseum) kalau hanya untuk menyaksikan manusia yang dicabik-cabik oleh harimau atau singa. Dimana mulianya? Kemudian menyaksikan manusia tersiksa ditonton bersorak sorai. Awalnya untuk menghukum budak yang lari, namun lama-lama mereka ketagihan. Itu laki-laki, perempuan, para petinggi negeri ketagihan menonton kekejian seperti itu? ... Ini memang masyarakat sakit, dan itu nular sampai hari ini. Lama-lama manusia ... kalau jauh dari syariat, lama-lama dia menikmati sesuatu yang keji. Wong masuk akal nggak sih? Singa yang makan haqnya misal kijang. Ini singa makan manusia? Wallahi ... ini bukan peradaban.” 

Ustadz Budi Ashari memandang sesuatu dari kacamata Islam. Saat Ustadz berceramah itu, saya langsung teringat dengan film Squid Games-- bahwa memang betul digambarkan bahwa para VIP bertopeng itu menonton, menyaksikan kompetisi manusia saling bunuh dan bersorak satu sama lain. Menjagokan orang yang sedang di ujung maut hidupnya. 

Para VIP ini senang melihat orang lain tercekik dengan kematian. Sorot mata senang melihat orang lain menderita, bahkan berada di ujung kematiannya. Naudzubillah. 

Terngiang yang Ustadz Budi Ashari katakan, “Apa ini peradaban?” 

*

Masa Kecil Ustad Budi Ashari

Masa kecil SD dan SMP Ustadz Budi Ashari dihabiskan di Jawa Timur dan melanjutkan pendidikan di LIPIA Jakarta. Ustadz Budi Ashari pun meneruskan belajar ke Pusat Peradaban Islam yakni di Universitas Islam Madinah Fakultas Hadits dan Studi Islam, Saudi dan menjadi salah satu lulusan terbaik dengan predikat cumlaude. 

Ustadz Budi Ashari berkata bahwa peradaban yang paling rendah adalah karya seperti yang terlihat, bersifat materill (fisik) ini paling rendah. "Lebih mulia mana manusia dengan batu? Manusia dengan binatang atau tumbuhan, lebih mulia mana? Tentu manusia. Allah muliakan manusia." Kita mengenal ilmu astronomi, ilmu falaq, ilmu bahari, dan lain-lainnya. 

Ustadz Budi dan Mishary Al Rasyid

Di atas peradaban yang paling rendah, ada yang lebih tinggi dari itu yakni peradaban dengan interaksi sesama manusia. Yakni peradaban yang berhubungan dengan manusia. Kita mengenal ilmu berhubungan dengan manusia yakni sosiologi, antropologi, ilmu Pendidikan, Psikologi. Dibandingkan dengan fisik, peradaban dengan interaksi sesama manusia itu lebih mulia. 

Masya Allah saya merasa takjub bahwa ternyata ada peradaban yang paling tertinggi diantara semuanya yakni Peradaban tentang Ketuhanan atau Rububiyah. Peradaban paling tinggi yakni akhlak manusia dengan Tuhan-Nya.

Ustadz Budi Ashari pun menyinggung ketika Persia bertemu Kisra, ada aturan jarak bicara. Yakni yang berhak bicara dengan jarak 5 meter itu dibolehkan hanya para dukun-dukun, tokoh-tokoh spiritual dan panglimanya. Lebih jauh lagi, jarak 10 meter yang boleh bicara dengan Kisra yakni Pengusaha, Pedagang. Baru jarak 15 meter dari Kisra itu baru orang asing dan orang lain yang boleh bicara. Selain itu, Ustadz Budi Ashari pun berkata bahwa mulut juga wajib ditutup supaya aroma mulut tidak menyakiti Kisra. 

Peradaban itu, peradaban?

"Istana Kisra itu megah Pak, megah. Saking mewahnya dikelupas karpet Istana Kisra itu mahal. Peradaban itu luar biasa. Tapi begitu interaksi sama manusia?” 

"Islam tidak pernah mengajari itu. Rasulullah apa berinteraksinya harus jarak jauh 15 meter? Tidak." ungkap Ustadz Budi Ashari tegas.

Bahkan Umar pun menegur Amr bin Ash karena anaknya memukul orang Yahudi. Orang Yahudi mencari keadilan sampai bertemu Umar. Umar tak segan berkata untuk memukul anak Amr bin Ash Seorang Gubernur Mesir, “Bahkan kalau pukul Bapaknya pun saya ridha,” kata Umar. 

Lantas Umar berkata, “Sejak kapan kau perbudak manusia? Dulu ibu-ibu mereka melahirkan anak-anak mereka dalam keadaan merdeka.” Itu Islam. 

Pembina Yayasan Al Fatih, Depok ini pun menjelaskan bahwa, “Sedangkan Yunani yang menjadi rujukan Barat dan diagung-agungkan selama ini, mereka berpikir tentang Kota Khayalan dan membagi kota menjadi 3 kasta yakni kasta tertingginya adalah kasta filsuf, kemudian kedua para tentara dan pedagang, dan paling bawah kasta budak. Mereka berpikir tentang kota Khayalan, tapi ujung-ujungnya harus ada budak. Filsuf udah mikir macam-macam tapi ujung-ujungnya negeri khayalan tuh harus ada budaknya. Ini peradaban?” 

*

Ustadz Budi Ashari kelahiran Tulungagung, 17 April 1975, ini beliau memiliki kegelisahan dengan pendidikan kita. Ustadz Budi menyadari bahwa pemuda kita ini 'kosong'. “Mereka tidak punya keyakinan pijakan yang kuat tentang agamanya. Mereka jauh dari Al Qurannya, Akhirnya mereka lebih senang dengan hal yang sia-sia.”

Ketika orang tua berlepas tangan, pendidikan diserahkan ke sekolah, maka Sekolah merasa tugasnya sudah dilakukan, tetapi lihat produknya hari ini. Degradasi moral atau akhlak meresahkan, karena Pendidikan kita berorientasi pada nilai dan akademis, tanpa mempertimbangkan akhlak. Hal inilah yang menjadikan latar belakang lahirnya Kuttab Al Fatih.

Baca juga: Mengenal Sekolah Kuttab Al Fatih

“Ciri islam itu tidak suka yang sia-sia. Umur menghasilkan karya, efektif, mereka orang besar di usia awal. Ibnu Khaldun belajar sampai 17 tahun. Usamah bin Zaid seorang panglima,” ucap suami dari Alfi Zulhidayati ini.  

Sekian perkenalan dengan Ustadz Budi Ashari, Lc ini. Ustadz Budi juga memiliki motto hidup, "Jangan pernah merasa beristirahat, sebelum sebelah kaki menginjakkan kaki ke Surga." Tulisan Profil Ustadz Budi Ashari, Lc ini sebagai Langkah dakwah saya sebagai penulis yang ingin menyebarkan kebaikan lewat tulisan, dan kita bisa melihat dakwah Ustadz Budi yang berfokus pada Sejarah Islam dan Peradaban Dunia yang dapat kita gali hikmahnya sampai hari ini. Bahwa Peradaban dan Sejarah Islam bermuaranya satu, yakni memiliki cahaya keimanan yang menghujam di hati, cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ustadz Budi Ashari juga menulis beberapa buku seperti: Inspirasi dari Rumah Cahaya, Remaja Antara Hijjaz dan Amerika, Sentuhan Parenting, dan beliau juga mensyiarkan Parenting Nabawiyah dalam mendidik anak dengan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Untuk tahu update beliau bisa dilihat di akun Instagram beliau akun @budiashariofficial. Saat ini pengikut beliau di Instagram mencapai 100k. Untuk channel Youtubenya belum ada tapi ceramahnya bertebaran bisa kita simak ceramah beliau. Semoga bermanfaat. 

Selanjutnya menurut teman-teman saya nulis tentang Budi Ashari lagi nggak ya, soalnya saya baru menjelaskan tentang Peradaban, belum tentang Sirah nya yang Ustadz Budi Ashari kupas bisa jadi bahan tulisan juga. Atau ada usulan saya mengupas profil Ustadz lain. Comment di bawah ya. Terima kasih 

Baca juga: Para Penyair di Zaman Rasulullah 

Baca juga: Kaum Khawarij dari Zaman Rasulullah saw., Kekhalifahan, dan Saat Ini

1 comment

  1. Saya satu di antara sekian pengagum ustaz budi ashari. Beliau dalam menerangkan suatu topik sangat lugas dan spesifik serta relevansinya dengan keadaan hari ini

    ReplyDelete