Pengalaman Tes Sidik Jari untuk Mengenal Karakter dan Gaya Belajar Anak

Monday, August 19, 2019

Mengenal gaya belajar anak

Sudah hampir 2 bulan Aska sekolah. Banyak penyesuaian terutama bagi saya seorang Ibu. Sebagai seorang individu, saya senang karena pekerjaan saya sekarang bertambah mengantar anak ke sekolah. Ada perasaan senang karena dengan berjalan kaki bisa sekaligus quality time dengan Aska. Mengobrol sambil berjalan, melihat pemandangan yang indah. Terlihat gunung di kejauhan, dan di belakang saya berdiri juga gunung Manglayang.

Melihatnya sekolah, masih ragu apa bisa ya, soalnya Aska belum terbiasa makan sendiri. Selain itu nabung juga dan bekel masih suka saya riweuh. Saya ingin coba mulai besok ngasih bekel nabung dan kencleng, dan bekel sudah di tas. Saya tunggu di luar. Biar apa? Biar Aska mandiri.

Selama sekolah ada tes sidik jari pada Aska. Aska tes sidik jari dan ketahuanlah Aska anak kinestetik.

Baca juga: Bermain di alam terbuka membuat Anak lebih sehat, cerdas dan bahagia

Saya sudah menduganya ketika Aska kecil. Jadi perlu tenaga ekstra untuk mengajarinya. Selain itu gaya belajarnya Visual-Spasial. Berbeda sekali dengan saya yang orang Audio.

Sekilas tentang Gaya Belajar Anak
Menurut Irma Gustiana, M.Psi, Psi, psikolog anak, Gaya belajar adalah suatu cara pendekatan untuk memudahkan seseorang dalam mempelajari sesuatu hal. Umumnya ada 3 gaya belajar, belajar dengan cara mendengarkan (auditory), belajar dengan cara melihat (visual) atau dengan cara bergerak (kinestetik).

Gaya belajar seringkali tidak sama satu dengan yang lain, bahkan gaya ibu dan ayah dalam belajar bisa berbeda dengan putra putrinya. Dengan mengetahui gaya belajar anak sejak ia masih berusia dini, akan memudahkan orangtua untuk mengajak anaknya belajar. Sehingga anak merasa tidak dipaksa saat belajar. contoh jika ia dominan belajar dengan visual, maka akan lebih mudah mengajaknya belajar dengan tampilan gambar, video atau warna warni.

Gaya Belajar Visual
Gaya belajar Visual cenderung menyenangi kegiatan belajar dengan tampilan gambar, grafik, warna warni, video, foto. Dan sebagai orang tua, penting menstimulasi belajar dengan highlight pada bukunya dengan warna tertentu, menempelkan stiker, membuat video singkat mengenai materi yang sedang ia pelajari, mengajaknya melihat langsung (misalnya pabrik tempe, susu, dan sebagainya) atau mengajaknya menonton film-film terkait ilmu pengetahuan.

Anak yang Visual biasanya agak bosan jika pelajaran diberikan hanya dalam bentuk ceramah saja, sehingga cara belajar anak visual bisa dikombinasikan dengan gerakan dan lagu untuk meningkatkan motivasinya.

Gaya belajar Kinestetik
Anak dengan gaya belajar kinestetik cenderung senang bergerak, dan mudah bosan bila berlama-lama duduk. Maka yang harus dilakukan adalah menjadikan gaya belajar kinestetiknya sebagai kekuatan, misanya saat belajar mengenai Matematika, coba ajarkan ia untuk menghitung dengan cara melompat, memindahkan barang, menyusun, dan sebagainya.

Demikian pula, ia perlu pula untuk diajarkan tertib mengikuti aturan yang berlaku sehingga tidak menganggu dirinya dan orang lain. Jika mom masih alami kesulitan dalam mengasuh, ada baiknya konsultasikan dengan ahlinya ya seperti psikolog anak ataupun dokter tumbuh kembang.

Gaya Belajar Audio
Jika anak senang belajar dengan cara mendengarkan, umumnya senang mendengarkan orang lain cerita, atau menghafal sambil bersuara. Saat orangtua menstimulasi anak dengan membacakan buku cerita atau dongeng berarti orangtua sedang merangsang kemampuan auditorynya.

Nah dengan mengetahui pola kebiasaannya, akan lebih mudah untuk ajari anak belajar. Oh ya belajar dirumah cukup 30 menit saja perhari tetapi konsisten, agar muncul kebiasaan belajar yang baik.

Jika anak merasa bosan sekolah
Saat anak sekolah, di hari-hari pertamanya ia akan beradaptasi dengan lingkungan baru. Sehingga seringkali motivasinya masih belum stabil, jadi yang bisa kita lakukan adalah tetap memberikan ia semangat, ceritakan tentang hal menyenangkan yang dapat ia lakukan sekolah, berikan alternatif cara belajar yang menyenangkan misalnya dengan bernyanyi, bergerak-gerak, menggunakan video, warna dan lain sebagainya. Usahakan juga untuk mengkomunikasikan perihal ini kepada guru kelasnya, sehingga guru bisa membantu untuk memberikan dukungan positif pada si kecil.

Tes Sidik Jari & Karakter Anak
Aska lebih ke otak kiri, yaitu selalu ingin bertanya, selalu harus masuk akal dan kurang percaya pendapat orang lain. Kalau pedagang orang kiri atas udah rugi di awal.

Sedangkan otak kiri bawah itu karakternya tidak bisa dirurusuh, orangnya terorganisasi, rapi dan harus detail.

Karakter orang kanan atas adalah semakin nyaman mengetahui berbagai macam hal, seperti tukang dagang, fokusnya banyak. Semakin banyak dagangan, ia senang. Karakter otak kanan juga imajinasinya tinggi.

Sedangkan karakter kanan bawah adalah semakin emosional, pengennya ketemu banyak orang. Selain itu orangnya action terus, sensitive, kurang gerak alias mager.

Sekilas tentang karakter yang 4 Koleris, Sanguinis, Plegmatis, dan Koleris, orang tua mendapat penjelasan yang cukup jelas. Seperti orang ambivert pasti senangnya ada di rumah. Sedangkan extrofet inginnya di luar terus.

Orang Sanguin tidak konsen ke kerapihan. Sedangkan Melankolis fokus ke kerapihan.
Orang berkepribadian Plegmatis dan sanguin sering mengikhlaskan uang.
Orang berkepribadian Koleris dan Melankolik segala sesuatu pasti pake kuitansi. Sedangkan orang Sanguin dan Plegmatis  sering mengikhlaskan

Selain itu kepribadian Melankolis dan Plegmatis lebih ke Data, benda lebih ke membuat produk. Sedangkan Koleris dan Sanguin : Dirinya harus tampil. Kebanyakan yang mempunyai sifat ini Koleris Sanguinis, Sanguin Koleris Bukan akademik yang ditampilkan, tapi kepribadian.

Orang dengan kepribadian plegmatis melankolis adalah orang yang kalem. Sedangkan Sanguin dan Plegmatis itu biasanya Adventure, Mediasi.

Kebanyakan orang yang Koleris berprofesi sebagai guru. Sedangkan Koleris dan Melankolis berprofesi sebagai Dokter.

You Might Also Like

0 komentar

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#