Hutan dan Penganekaragaman Konsumsi Pangan

Thursday, February 13, 2020

Teman-teman di daerah teman-teman masih banyak sawah atau ladang nggak? Bagi mereka yang tinggal di perkotaan mungkin sedikit yang bisa menikmati pemandangan sawah. Atau bagi mereka harus pergi ke daerah pedesaan dulu baru menemukan.

Alhamdulillah setiap pagi sambil mengantar anak ke sekolah, saya bisa menikmati pemandangan seperti ini.


pemandangan dari jarak 500 meter dekat rumah

jalan-jalan sore gak lupa berfoto dulu

Di tengah kota biasanya sudah jarang menemukan petak ladang atau sawah, bahkan pohon. Bila terlalu banyak pohon ditebang, akan ada lebih banyak karbon dioksida di udara. Karbon dioksida menahan napas, sehingga bumi kita menjadi lebih panas. Hal ini dapat menyebabkan masalah-masalah yang serius bagi bumi.

Di sisi lain, terkadang saya berfikir, mengapa ya Indonesia yang sumber daya alamnya kaya di Indonesia, penghasil beras pun terbesar, namun mengapa ya masih impor? Simak selengkapnya tulisan saya ya.

Ribuan pohon di hutan tropis ditebang atau dibakar untuk tanah pertanian, jalan, bangunan atau pertambangan. Setiap detik, satu daerah di hutan tropis seukuran lapangan bola dirusak. Bila sudah tidak ada pohon lagi, hujan menghanyutkan tanah. Banjir yang membahayakan bisa saja terjadi. Banyak tanaman dan hewan kehilangan rumah mereka dan menjadi punah. (Hutan Tropis, hlm 26)

Beberapa suku tertentu menebang pohon-pohon dan membuat tanah pertanian untuk menanam tanaman pangan. Ini disebut tanah pertanian tebas dan bakar. Tanah ini diolah dan ditanami selama beberapa tahun. Kemudian mereka pindah ke tempat baru. Hutan tumbuh lagi di atas tanah yang ditinggalkan tersebut.

Pohon-pohon dan tanaman-tanaman ditebang dan dibakar untuk membentuk sepetak tanah. Para petani suku tradisional membiarkan tanahnya beristirahat. Mereka pindah ke tempat lain dan membiarkan hutan tumbuh kembali.

Hutan Sumber Pangan 

Penduduk hutan tropis tahu cara untuk mendapatkan kebutuhan dari hutan tanpa harus merusaknya. Mereka tahu bagaimana menyiapkan akar-akar untuk dimakan, dan tahu bagian-bagian mana dari tanaman yang dapat digunakan sebagai obat. Mereka tahu buah beri mana yang tidak beracun.

Dulu sumber pangan masyarakat primitif era purba menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam. Untuk menopang hidup satu orang saja diperlukan tidak kurang dari 4000 Ha lahan perburuan dan areal untuk memungut hasil hutan. 

Ketergantungan pada lahan ini berangsur-angsur menurun sejalan dengan perkembangan pengalaman dan pengetahuan masyarakat tersebut. Pengawetan makanan bermula pada periode Neolitik jaman batu sekitar 8000 SM yang kemudian dikenal dengan era transisi, yaitu ketika masyarakat primitif beralih dari cara bercocok tanam yang selalu berpindah ke cara bertani yang menetap. Beberapa ahli arkeologi menyatakan bahwa era transisi ini telah berlangsung sebelumnya yaitu 12000 SM. (Pangan dan Gizi Ilmu, hlm 68)

Bercocok tanam yang menetap memerlukan persediaan pangan sekurang-kurangnya untuk satu musim tanam. Selain itu diperlukan sejumlah benih, kemudian ada masa-masa kritis atau paceklik, bencana alam serta gangguan binatang buas. Maka mulailah disadari perlunya penyimpanan hasil panen.

sumber foto: pixabay

Pangan merupakan komoditas yang strategis, mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Pangan tidak berarti strategis dan ekonomi, tetapi pangan juga sangat berarti dari sisi pertahanan dan keamanan, sosial dan politis.

Jadi ketahanan dan ketentraman suatu negara ditentukan oleh ketersediaan pangan, dan karena pangan tak dapat diabaikan dalam kebijakan ekonomi suatu negara. Contohnya terjadi pada masa awal Orde Baru di Negara kita dan pengalaman bekas negara Adidaya Uni Soviet.

Dibandingkan dengan negara berkembang lain, posisi Indonesia dalam pangan global adalah unik. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat.

No  Negara  Luas Wilayah (Km2) Jumlah Penduduk
1 China  9.572.900  1.274.915.000
2 India  3.166.414  1.029.991.000
3 USA  9.918.323  286.067.000
4 Indonesia  1.922.570  212.195.000
Sumber: Webster New International Atlas

Dari bagan tersebut terlihat bahwa dari struktur pangan masyarakatnya, komposisi pangan penduduk Indonesia relatif tidak beragam dan sangat didominasi oleh beras. Adapun konsumsi gandum masih kecil dibandingkan beras, dan lagi gandum tidak diproduksi di dalam negeri. Berbeda dengan China atau India, yang antara jumlah konsumsi serta produksi gandum dan berasnya relatif berimbang.

Sehingga hal tersebut memberi alasan politis yang sangat kuat bagi upaya kemandirian pangan dengan peningkatan produksi beras yang memperoleh prioritas utama dalam pembangunan pertanian.
Hasilnya memang sangat menggembirakan. Produksi beras di Indonesia tumbuh cepat dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding negara-negara produsen beras seperti Thailand, China dan India. Namun di sisi lain pola konsumsi yang didominasi beras ini juga memiliki kelemahan karena rawan bila terjadi gangguan pada produksi beras domestik.

Untuk itu, kebijakan yang ditempuh adalah berupaya memantapkan ketersediaan pangan, meningkatkan ketahanan pangan, memantapkan harga pangan dan meningkatkan keamanan dan mutu pangan, di samping juga terus mengembangkan penganekaragaman konsumsi pangan dan pengembangan kelembagaan pangan. (Kebangkitan Petani, hlm 90)

Negara pengimpor beras terbesar di dunia?

Dunia mengenal Indonesia sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Salah satunya adalah lewat keberhasilan Indonesia menjadi negara yang mampu berswasembada beras di tahun 1984/1985 lalu. Namun Indonesia disebut sebagai Republik beras karena dikenal juga sebagai sebagai salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia.

Tingkat konsumsi masyarakat terhadap beras, yang dari waktu ke waktu memperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan, sebagai dampak dari pertambahan jumlah penduduk. Termasuk dengan perbedaan perhitungan konsumsi yang selama ini digunakan.

Masyarakat yang kritis kemudian bertanya-tanya, mengapa produksi beras yang surplus dan mampu memenuhi kebutuhan, tapi mengapa harus impor beras? Pak Entang dalam bukunya menjelaskan mungkin dalam produksi yang surplus ini belum mampu mengisi cadangan beras secara nasional, mengingat adanya argumen Pemerintah yang telah menjadikan kekurangan cadangan nasional sebagai jawaban pamungkas kenapa kita melakukan impor beras?

Pembangunan pertanian khususnya pangan rupanya sangat membutuhkan paradigma baru. Di tanah merdeka ini, pangan, lebih khususnya lagi beras, semata-mata bukanlah hanya sekadar komoditas bahan pangan utama, namun beras pun merupakan komoditas politis dan strategis. (Kebangkitan Petani, hlm 87)

Untuk itu, kebijakan yang ditempuh adalah berupaya mengembangkan penganekaragaman konsumsi pangan dan pengembangan kelembagaan pangan.

Penganekaragaman pangan

Pentingnya penganekaragaman pangan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan mutu gizi makanan dengan pola konsumsi yang lebih beragam atau usaha untuk lebih menganekaragamkan jenis konsumsi dan meningkatkan mutu gizi makanan rakyat dalam rangka meningkatkan taraf kehidupannya. Sehingga dalam hal ini fokus pangan tidak pada beras saja.

Dari buku Entang Sastraatmadja, berjudul “Kebangkitan Petani” bahwa pengertian penganekaragaman pangan dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, penganekaragaman horizontal, yaitu upaya untuk menganekaragamkan konsumsi yaitu dengan memperbanyak macam komoditas pangan dan upaya meningkatkan produksi dari masing-masing komoditas tersebut. Sebagai contoh, pengaturan komposisi makanan sehari-hari kita di samping beras, juga umbi-umbian, sagu, kacang-kacangan, sayur, buah, dan lain-lain.

Kedua, penganekaragaman vertikal, yaitu upaya untuk mengolah komoditas pangan terutama non beras, sehingga mempunyai nilai tambah dari segi ekonomi, nutrisi, maupun sosial. Misalnya mengolah jagung menjadi corn flake, ubi kayu diolah menjadi berbagai macam makanan, baik makanan pokok maupun jajanan, seperti misalnya keripik (cassava chips).

Sumber pangan favorit

Di sisi lain hal ini menjadi dilematis karena jika ditanya makanan favorit apa yang bahan bakunya berasal dari hutan, maka saya akan menjawab beras. Alasan mengapa menyukai beras, simpel saja karena mudah dipadukan dengan makanan apa saja seperti dengan ayam goreng, ayam bakar, atau ikan juga sudah mantap rasanya. Beras yang sudah diolah menjadi nasi pun dipadukan dengan sayur juga maknyus rasanya.

Saya termasuk BISA tidak makan roti, singkong, jagung, atau umbi-umbian, tapi kalau belum makan nasi, pasti dalam sehari saya akan makan nasi. Jadi saya sering menganggap roti,olahan singkong, jagung atau umbi-umbian itu hanya cemilan, tapi tetap makanan utama saya nasi.

Sejak usia menginjak 30-an, saya mulai mencoba mengurangi nasi, terlebih di Jawa Barat ini setiap hari Rabu saja gerakan tidak makan nasi, meski saya belum bisa, saya mencoba mengurangi karbo, dan mulai menyantap makanan dengan tidak dalam bentuk goreng-menggoreng, namun dengan merebus, atau mengukus sehingga lebih sehat.

Adapun manfaat yang saya dapat rasakan dari mengkonsumsi beras yaitu: sebagai sumber energi, sehingga saya jika sudah makan nasi, porsi untuk mengemil tidak begitu banyak dibandingkan dengan porsi saat tidak makan nasi. Pernah saat tidak makan nasi seharian, saya jatuhnya ngemil terus, dan saya khawatir berat badan semakin naik karena lebih banyak mengemil. Selain itu efeknya tidak kenyang-kenyang. Jadi saya lebih khawatir kalau lebih banyak mengemil.

Mengapa orang harus tahu sumber pangan yang satu ini karena makanan yang bisa diolah dengan lauk apa saja, bahkan nasinya sendiri sudah enak jika dimasak menjadi nasi kuning, nasi goreng, nasi uduk, dan lainnya.

Pada akhirnya hutan sebagai sumber pangan, semua penganekaragaman pangan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Antisipasi atas orientasi dalam pembangunan pangan, yang meliputi:
  1. orientasi dari swasembada beras menjadi orientasi swasembada pangan; 
  2. orientasi pemenuhan kuantitas pangan menjadi orientasi yang semakin menekankan kepada  kualitas pangan; 
  3. orientasi distribusi untuk mengatasi kelangkaan pangan menjadi orientasi pemasaran yang menekankan efesiensi untuk mengatasi kelebihan dan 
  4. orientasi konsumsi karbohidrat menjadi orientasi penganekaragaman pangan untuk memenuhi mutu gizi. (hlm 93) 

Pangan dikerjakan oleh Departemen Pertanian atau hanya perum BULOG semata, serta ketahanan pangan di provinsi maupun kabupaten/kota, dari mulai ketersediaan pangan, distribusi pangan, konsumsi dan keamanan pangan yang membutuhkan koordinasi dan sinergisitas antara unsur pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, dan media massa.

Dalam hutan juga terdapat berbagai jenis tumbuhan seperti jati, rotan, palem, pohon asam, akasia, alang-alang, alba dan sebagainya.

Di hutan banyak tumbuhan yang secara ekonomi banyak bermanfaat bagi manusia. Selain dimanfaatkan untuk industri kayu, hasil hutan yang juga dapat diperdagangkan yaitu rotan, getah, tumbuhan obat, dan bambu. Bambu yang berjenis rumput-rumputan umumnya didapatkan dari tumbuhan liat. Tumbuhan ini dimanfaatkan untuk bahan bangunan, penyangga bangunan, keranjang, tikar, senjata, dan sebagai salah satu bahan baku kertas.

Hingga saat ini, masih ada hutan alam yang terjaga, masih terselamatkan karena nilai–nilai kearifan lokal masyarakat di sekitar hutan.

WALHI, merupakan salah satu dari organisasi lingkungan hidup independen non-profit terkemuka di Indonesia, yang telah genap berusia 39 tahun konsisten berfokus dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan hidup dan mempromosikan kedaulatan rakyat dalam pengelolaan sumber-sumber kehidupan, serta memelopori gerakan lingkungan hidup di Indonesia dan bagian dari gerakan lingkungan hidup global.

Agar tetap terpelihara, hutan harus dilestarikan. Melestarikan hutan merupakan kewajiban bagi semua orang. Usaha untuk melestarikan tumbuhan yang ada di hutan dapat dilakukan dengan cara:
- tidak melakukan penebangan pohon sembarangan
- mencegah terjadinya kebakaran hutan
- mengadakan reboisasi (penanaman kembali).

Ini adalah pemandangan teras rumah saya. Banyak sumber tanaman yang bisa dijadikan bumbu dapur dan ada tanaman serta bunga. Hal yang bisa dilakukan dari diri sendiri untuk lingkungan.

daun jeruk, sereh, lidah buaya, dan jeruk nipis

bermacam-macam bunga dan ada bawang daun, serta menanam strawberry

Sumber bacaan:
  • Kawi, Hendro. 2003. Hutan Tropis. PT. Ikrar Mandiriabadi. Indonesia. 
  • Gianti, Sesya. 2012. Mengenal Lingkungan. PT Graha Bandung Kencana: Bandung. 
  • Sastraatmadja, Entang. 2008. Kebangkitan Petani. Penerbit Masyarakat Geografi Indonesia: Bandung. 
  • Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. 2001. Pangan dan Gizi Ilmu, Teknologi, Industri dan Perdagangan. Penerbit Sagung Seto: Bogor. 
  • https://brainly.co.id/tugas/2273697#readmore

You Might Also Like

15 komentar

  1. Banyak pangan sumber carbo selain beras di negeri ini sebenarnya ya. Kentang, ubi, jagung, sagu. Tapi...ya itu..udah terbiasa sama nasi, perlu usaha juga buat gantiin nasi dengan yang lain

    ReplyDelete
  2. teh itu dimana? bagus masih ada tempat lega gitu. Kalo di kota besar, udah jadi barang mahal deh ruang terbuka hijau gini, kualitas udaranya udah ga terlalu bagus

    ReplyDelete
  3. Saya pernah baca kl karbohidrat itu punya efek menenangkan. Jadi ga heran kl setelah makan nasi terasa sudah makan beneran.

    Saya kl makan roti itu kadang malah jd lapar.

    Duh, orang Indonesia asli. 😆😆😆

    ReplyDelete
  4. Bahan bacaan Mbak dalam menyusun tulisan ini mantap.
    Seram membayangkan bagian ini: Setiap detik, satu daerah di hutan tropis seukuran lapangan bola dirusak. Tak heran kalau sekarang Indonesia memanen banjir di mana-mana, ya. Butuh effort yang besar agar kita masih bisa hidup nyaman.

    ReplyDelete
  5. Iya mbak. Saya termasuk orang yang tinggal di perkotaan, kalau mau lihat sawah atau hutan harus trip dulu ke daerah. Paling gak sekitar bandung dan bogor

    ReplyDelete
  6. saya juga skrg sedang mengurangi nasi mba. lagi suka banget sama pangan hutan seperti umbi2an hehe. Oya seru banget bisa bercocok tanam di rumah ya

    ReplyDelete
  7. Sebenarnya banyak ya pengganti nasi. Tapi susah banget mengganti nasi sebagai sumber karbo :(

    btw, pemandangannya bagus sekali, mbak :)

    ReplyDelete
  8. Sawah dan ladang, jadi pemandangan mewah bagi saya yang tinggal di Jakarta. Gak setiap saat bisa lihat pemandangan seperti itu. Tetapi, suami suka bercocok tanam. Lumayan hijau juga halaman di belakang dan depan rumah kami :)

    ReplyDelete
  9. Senang ke rumah teteh...banyak hijau-hijaunya.
    Seger di mata.
    Memang kebiasaan mencintai lingkungan itu harus dimulai dari diri sendiri yaa, teh...

    ReplyDelete
  10. Iya banget, hutan ini sumber bahan pangan yang sangat beraneka ragam. Dan alami pula ya. Berkatnya kita jadi bisa makan banyak makanan. Dari sumber pangan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Jadinya sangat menyedihkan jika hutan semakin mengecil. :(

    ReplyDelete
  11. Gara-gara masyarakat Indonesia pada umumnya merasa belum makan kalau belum makan nasi kali mbak, makanya kebutuhan beras meningkat, jadi impor deh

    ReplyDelete
  12. Jadi inget rencana mau nulis tentang ini ..kok kelupaan ya..huhu

    ReplyDelete
  13. Saya juga termasuk yang tidak bisa lepas dari nasi, Mbak. Udah makan apapun kalau belum makan nasi seperti ada yang kurang hihii
    Beruntung kita memiliki hutan yang luas ya..sehingga sumber pangan begitu melimpah

    ReplyDelete
  14. Aku nggak bisa makan tanpa nasi heheheh
    nasi bagian dari hidup dan energi saya
    semoga keanekaragaman dari hutan dan alam selalu kita jaga dan terus kita rawat agar tidak punah

    ReplyDelete
  15. Hutan merupakan sumber pangan alami yang mengandung banyak keanekaragaman hayati. Banyak hal yang membuat kita melupakan hutan sehingga kelestariannya terancam.

    ReplyDelete

Kumpulan Emak Blogger

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#