Farah Qoonita, Penulis Muda & Muslimah Aktivis, Tulisan yang Punya 'ruh'

Farah Qoonita

Adakah penulis perempuan usia muda, pintar, shalihah dan merupakan Muslimah yang menginspirasi hari ini? Jawabannya Ada! Salah satunya Farah Qoonita. 

Jika sudah membaca tulisan-tulisan Qoonit, nama panggilannya, kita akan langsung jatuh cinta karena Qoonit pandai menulis, memiliki diksi-diksi baru yang cantik, dan saya langsung bisa berucap, “Wah, masyaAllah keren nih!” 

Saya sudah memiliki satu buku Qoonit yakni “Seni Tinggal di Bumi” dan ia juga baru launching novelnya “Nyala Semesta”. Pengen deh baca novelnya!

Dalam buku “Seni Tinggal di Bumi” merupakan kumpulan esai terbagi dalam enam tema besar. Pertama, Seni Melangkah di Bumi, Kedua, Tentang Hati yang ingin Dicintai. Ketiga, tentang perempuan. Keempat, Manusia Langit. Kelima, Dunia di Sekitarmu. Keenam, Menapaki Keabadian. 

Qoonit sering memakai analogi dalam tulisannya, dan itu nilai jual yang terasa “ruhiyah”nya berharga. 

Seni Tinggal di Bumi, buku pertama Farah Qoonita

Kepala adalah simbol representasi seorang manusia sekaligus harga dirinya. dimana-mana orang menampakkan kepalanya.


Kepala kita juga asset yang berharga. Di dalamnya ada sebuah fitur paling menakjubkan Maha Karya-Nya yang tiada banding: otak. 

 Di sana tempat kita menyimpan seluruh kenangan. Tempat sebuah software pengatur saraf pusat, dan penggerak manusia dalam kemampuan fisik dan kognitif. Segala emosi, gairah, kemampuan menganalisa, rasa takut, semua diatur dalam kepala kita. 

Lihat? Kepala kita begitu menakjubkan. Tempat kebanggan, kehebatan, eksistensi, dan segala kekuatan diri. Namun, kepala jugalah yang Allah pinta tempelkan ke tanah berulang-ulang dalam sehari. Sebuah gerakan tersungkur, tunduk, kerdil, dan hina, seraya memuja, “Engkaulah Sang Maha Suci, Sang Maha Tinggi.”

Kita diminta berulang kali dalam sehari, mengerdilkan diri, dan mengecilkan semua masalah. Bahwa tak ada yang lebih penting dari-Nya. meletakkan segala gemilang dirimu pada titik nol! Begitu rendah, sejajar dengan tanah. seraya memuja, “Engkaulah Sang Maha Besar.”

Menakjubkannya, saat kepala kita menempel ke tanah itulah, momen paling dekat manusia dengan Sang Pencipta. Maka, jangan terburu-buru menyudahi sakralnya momen ini. Momen saat kau berbisik ke tanah, tapi pintamu akan melesat ke langit tinggi, mengetuk-ngetuk pintu Arsy nan agung.

Pada akhirnya kita sadar, ternyata harga paling mahal dan terhormat sebuah kepala ialah saat ia menempel dengan tanah. tersungkur, tunduk, kerdil, lemah, dan hina. Tak kurang tak lebih.

*

Qoonit menulis esai-esai ini dengan gaya bahasa gaul ala remaja, terdapat analogi dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari juga. Sering sahabat-sahabat Nabi dan shahabiyah juga dimasukkan dalam tulisan dan lebih mengena karena penyampaiannya yang mudah dan tak begitu rumit, karena Qoonit bisa membahasakan, menceritakan lagi dengan lebih sederhana dan gaya bahasa anak muda banget, jadi lebih mengena. Selain diksi yang digunakan juga bagus-bagus. 

Qoonit berhasil mengemas dakwah untuk remaja dengan cara yang menarik, cantik, dan indah. Kata-katanya mendorong untuk selalu mendekat pada Allah Swt. 

Putri dari Ustadz Abdul Azis Abdul Rauf Al Hafizh ini  yang juga lulusan FIKOM Unpad ini menyenangi naik gunung, dan menyenangi dunia desain. 

Baca juga: Nurra Wulan, Hafizh 30 juz Berbagi Tips Menghafal dan Menjaga Hafalan Al Quran 

Jika kita simak di laman sosmed instagramnya, feed Qoonit tidak berisikan foto-foto dan post pribadi seperti kita pada umumnya, melainkan berisi podcast menarik dan menggugah. Didukung dengan desain mumpuni, tiap postingannya selalu mengingatkan kita tentang-Nya. 

Jadi lengkap sudah multi talent ya, Qoonit seorang content creator juga dari mulai bisa desain, bisa buat podcast, dan seorang penulis juga. 

Lewat visual kita dimanjakan dengan tampilan feed IG rapi, terkonsep dan narasi yang bagus lewat pesan suara, podcastnya pun tak sederhana. Terbukti ia serius mengemas konten-konten dakwah. Konsep apa yang ia ingin bagi kepada followernya. 

Luar biasanya, kelahiran 18 Maret 1994 sendiri mengaku untuk mendapatkan konten-konten, ia biasanya menunaikan hak-hak pada Allah Swt. dengan shalat qiyamul lail, baru mulai menulis. 

Ide menulis itu semata-mata bukan karena kehebatan penulis berarti ya. Itu semua mesti kita percayakan dan mintakan kemudahan dalam menulis sejak mencari ide, mengumpulkan ide sampai menjadi sebuah bacaan atau tulisan.

Barakallah untuk Qoonit yang telah menikah sebulan yang lalu 12 Februari 2021 bersama pasangannya Yogi Gustaman. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Aamiin. Terus berkarya dan tetap semangat menebar manfaat dan kebaikan. [] 

No comments