Terkoneksi dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb Sang Pencipta

Sahabat, pernahkah kita merasa benar-benar terkoneksi dengan Allah Swt.?

Saat sedang senang atau saat sedang terpuruk?

Pernah ingatkah saat itu pernah terjadi di hidup kita? Saat kapan?

Koneksi kita dengan Allah Swt. berkaitan erat dengan hubungan kita dengan Allah (hablumminallah). Saat kita hendak melakukan hablumminallah, erat kaitannya dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Biasanya justru kita akan merasa terkoneksi saat sedang terpuruk, berdoa penuh kekhusyukan dan penuh harap.  Bener gak, sih? 

Banyak cara mendekatkan diri kepada Allah, agar jaringan tetap kencang, koneksinya kencang maka dibaratkan dengan ibadah kita harus baik dan kualitas kuantitasnya pun lebih banyak.

Menunaikan hak-hak Allah Swt. dengan mentauhidkan dan tidak menyekutukan-Nya, menjalankan syariat seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain.

Hablumminallah adalah hidup taat melaksanakan perintah Allah Swt., hidup bergantung kepada Allah Swt., berdoa dan berdzikir mengandalkan pertolongan Allah Swt. 

Innal insāna khuliqa halụ'ā iżā massahusy-syarru jazụ'ā

wa iżā massahul-khairu manụ'ā illal-muṣallīn allażīna hum 'alā ṣalātihim dā`imụn wallażīna fī amwālihim ḥaqqum ma'lụm  

Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.”

Yang terpenting adalah seimbang antara hablumminallah dan hablumminannas. 

Bila hablumminallah adalah hubungan manusia dengan Allah, maka hablumminannas adalah akhlak terhadap sesama manusia yang ditunjukkan dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang yang dalam perjalanan dan hamba sahaya.

Ayat yang menunjukkan pentingnya hablumminallah dan hablumminannas adalah QS An Nisa ayat 36.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”

Sehingga hablum minallah dan hablum minannas selalu berdampingan dan tidak boleh dipisahkan. Tidak boleh pula berat sebelah, salah satunya saja. Sehingga jika seimbang, kita akan menjadi mukmin yang kaaffah.

Maka dari itu dalam beragama tidak selalu mementingkan aspek ibadah mahdhoh saja, tetapi juga menganjurkan ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib-nasib orang lemah.

Bila hidup kita selalu terkoneksi dengan Allah, maka hidup kita akan terarah. Shalat menjadi cara agar kita terhubung dengan Allah Swt.

Shalat menjadi cara agar kita terhubung dengan Allah Swt.

Tentu kita selalu berharap agar hati kita terhubung dengan Allah Swt. Saat hati terhubung, maka segala tidak ada sekat lagi, semua dapat kita percayakan kepada Allah Swt. 

Kita hanya berharap kepada Allah Swt. Kita bersihkan hati kita dari segala kotoran, dan semua itu bisa dibersihkan dengan Shalat. Shalat adalah saat kita terkonek dengan Allah Swt. 

Mungkin kita ingat bahwa di Mekkah dan Madinah, ketika orang-orang begitu mendengar azan, mereka segera bergegas menutup toko-toko mereka, ramai orang muda dan tua, wanita, pria dan anak-anak bergegas untuk mendapatkan shaff terbaik.

Membaca Al Quran menjadi cara agar kita terhubung dengan Allah 

Mungkin kita ingat bahwa menghidupkan Al Quran dalam keseharian kita di rumah, bisa mendapat ganjaran pahala yang besar. Hal itu juga bisa menjadi cara agar kita terhubung dengan Allah. 

Saat membaca Al Quran, hati kita akan menemukan ketenangan dan kedamaian saat mengingat-Nya. Lebih baik lagi kita punya waktu khusus untuk membaca Al Quran. Misalnya setelah shubuh atau sesudah Maghrib.

KETIKA HATI TIDAK TERKONEKSI LAGI DENGAN ALLAH…

Hati-hati juga ketika kita sudah mulai hambar, bosan, dan malas. Itu adalah godaan setan yang membahayakan kita. Bagaimana awalnya mungkin tidak akan terasa. Namun kelama-lamaan menjadi hal biasa dan hati kita tidak terkonek lagi dengan Allah Swt. 

Menjadi malas beribadah, menunda ibadah, menganggap remeh dosa. Kemudian kesenangan duniawi menjadi prioritas anda dan dosa-dosa tertentu menjadi kebiasaan yang tidak dapat anda hilangkan, sampai anda merasa tidak punya tujuan dalam hidup. 

“Ada seonggok daging di dalam tubuh. Jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik. Dan jika ia buruk, maka seluruh tubuh menjadi buruk. Sesungguhnya daging itu adalah hati.” (Sahih Muslim).

Sedang agar hati kita terhubung dengan Allah Swt. yakni senantiasa ingat bahwa ketika kita terhubung dengan Allah Swt. Allah Swt. Maha Melihat. Kita akan merasa takut karena semua hal kita lakukan tentu Allah tahu, karena Allah Swt. Maha Melihat. 

Ibarat kita memiliki handphone yang punya kuota, kita bisa terkoneksi dengan siapapun. Ketika kita tidak punya sinyal saja, terkurung misalnya di tempat yang susah sinyal, kita merasa mati gaya. 

Tapi justru ketika kita tidak terhubung dengan-Nya lah kita menjadi tak tentu arah. Kita tak bisa apa-apa jika kita tidak terkoneksi dengan Allah Swt. Misal kita belum melakukan shalat wajib, atau tidak melakukan amal shaleh yang lain. Tentu ada yang kurang. Jangan sampai kita merasa baik-baik saja ketika kita tidak berhasil terhubung dengan Allah Swt. karena berarti iman kita sedang turun.   

Hal yang harus diperbarui ketika kita agar terus online,  terhubung dengan Allah Swt yaitu: berzikir, mengingat-Nya, senantiasa menanamkan tauhid hubungan dengan Allah Swt. kemudian Ubahlah dirimu “Inna shalaati wa nusuuki wa mahyaya wamama tilillahi rabbil ‘alamin.” Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah kerana Allah, Tuhan seluruh alam. 

Karena iman terus naik turun maka harus memperbarui niat, dan meningkatkan iman dengan ketakwaan. Turun karena maksiat. Nauzubillah. Semoga kita terus dapat meningkatkan iman kita. 

Dan point yang terakhir adalah mengikuti sunnah Rasul-Nya yakni dengan menjalankan shalat sunnah dhuha, puasa senin kamis, shalat tahajud, berkumpul dengan orang shaleh, merecharge hati dengan mengikuti kajian tazkiyatun nafs, perbanyak tilawah, tadabur ayat, dan lainnya. Niscaya hati akan terhubung dengan Allah Swt. 

Yuk, kita mulai perbaiki hati kita dengan amalan-amalan yang shaleh, berzikir mengingat-Nya, mengerjakan sunnah-Nya, dan meluruskan tujuan hidup ini untuk bekal akhirat kelak. 

No comments