Puisi Haji Hasan Mustopa

Haji Hasan Mustopa lahir di Garut, Jawa Barat, Juni 1852 M wafat di Bandung 1930 M. Beliau adalah seorang tokoh tasawuf yang berasal dari kalangan elite pribumi, dari keluarga camat perkebunan di Cikajang, Garut. Ia pernah menjabat sebagai penghulu besar Aceh dan Bandung.

Haji Hasan Mustopa berasal dari keluarga pesantren sekaligus keluarga yang akrab dengan seni budaya Sunda. Beliau merupakan tokoh tasawuf sekaligus sastrawan yang mencurahkan seluruh perasaan batinnya lewat bait-bait puisi atau guritan.

Dari Wiwi Siti Sajaroh, mahasiswa FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2013), tulisannya mengulas Haji Hasan Mustapa dan sebagian karya-karyanya. Seperti berikut yang saya kutip:

Tadi aing nu kapahung 
Tilu puluh taun leuwih 
Dina rasaning kadunyan 
Beurat birit salah indit 
Ayeuna di walagrina 
Indit birit mawa bibit 

Artinya:
Barusan aku yang tersesat
Tiga puluh tahun lebih
Dalam perasaan keduniaan
Malas karena salah pergi
Sekarang merasakan bahagianya
Pergi membawa benih

Dalam syair di atas menggambarkan penyesalan seorang hamba kepada Tuhannya karena telah tersesat atau tak memiliki tujuan hidup selama tiga puluh tahun lebih. Kemudian merasa bahagia karena telah berubah dan telah membawa bibit (hasil).

Kesan membaca syair ini: 

Merasa surprise karena jarang sekali membaca tulisan berbahasa Sunda. Termenung dengan syair tersebut dan jadi evaluasi diri, sudah berapa lamakah hidup di dunia? Sudah cukupkah bibit yang kita bawa? Apakah aku tersesat selama ini? Ingin mendekat dan selalu dekat dengan-Nya.

Puguh angklung ngadu 
angklung 
Bisa uni teu jeung awi 
Balukarna lalamunan 
Mun hiji misah ti hiji 
Ngan kari pada capétang 
Ngawayangkeun abdi Gusti 

Artinya:
Jelas angklung mengadu angklung
Bisa bunyi (indah) dengan bambu
Sebabnya dari lamunan
Kalau yang satu pisah dari yang satu
Cuma sekadar pandai berbicara

Dalam syair di atas, Haji Hasan Mustopa menggunakan benda sebagai metafor. Angklung termasuk alat kesenian Sunda dan saat digunakan terdapat keharmonian saat alat musik tersebut dimainkan. Terdapat penegasan agar tak sekadar pandai berbicara, namun dilaksanakannya. Terdapat doa dan harapan seorang hamba kepada Tuhannya.

Kesan membaca syair ini: 

Terdapat doa dan harapan seorang hamba kepada Tuhannya.

No comments