Resensi Buku: Novel Nyala Semesta Farah Qoonita

Novel Nyala Semesta - Farah Qoonita (dok. pri)

Cerita tentang keluarga Khalid, pejuang Palestina yang berpindah-pindah dari satu persembunyian ke persembunyian lainnya, paling lama tiga hari.

Khalid Hamad berada di daftar orang paling dicari Israel. Jika posisinya diketahui, dengan mudah sebuah drone tanpa awak akan dilesatkan, dan meledakkan tubuhnya. (hlm 46-47) 

Setting cerita terjadi di tahun 2014-2019, dan kita akan mendapatkan suguhan semangat menghidupkan Palestina di hati kita. Tentang pejuang Palestina yang belajar dari semangat Syekh Ahmad Yassin yang duduk di kursi roda, namun berhasil menciptakan generasi pencari Syahid, dan menganggap kematian adalah bertemu kehidupan abadi.

Dalam novel "Nyala Semesta", diceritakan Khalid dan pasangannya Hannah, memiliki anak bernama Mush'ab, Yusuf, Ahmad, dan Maryam. 

Salah satu anaknya, Mush'ab harus memilih tempat berkuliah dan dia memilih Turki. Tak menyangka justru saat kuliah di Turki itulah dia menemukan teman-teman yang menjerumuskan dan melupakan tanah kelahirannya, terutama untuk berjuang di Palestina. 

Dia seperti mahasiswa lain yang ikut organisasi kepalestinaan, dan lainnya. Namun Mush'ab dijebak saat minum-minum, dan ada foto-foto saat dia tidak sadar, dan dia sangat marah terhadap orang yang melakukannya. 

Namun mereka berjanji tidak akan membongkar hal tersebut, asal Mush'ab mau melakukan apa saja yang orang Israel perintahkan. 

Mush'ab sangat marah dengan hal itu. 

Dalam novel ini, saya merasa dibawa ke Tanah Palestina dan ikut merasakan kepedihan saudara-saudara kita yang hari-harinya selalu dalam rasa "tidak aman".

Ada suara tembakan rudal, bom, dan lainnya yang membuat mereka harus tetap terjaga. 

Qoonit mengemas dengan cerdas, bagaimana perlawanan rakyat Palestina dan tentara Israel yang selalu menggerogoti mereka. 

Saya yakin riset yang penulis lakukan tidak main-main. Sebagai aktivis yang berkecimpung di dunia Palestina, Qoonit dapat dengan "mendalam" mengetahui sisi lain Palestina yang tidak orang awam ketahui, dan ini penting dalam novelnya ia memberi informasi yang penting. Terlebih untuk orang islam dan mempertanyakan mengapa harus peduli dengan Palestina. 

Saya bahkan bisa tahu bahwa ada "Pelajaran Menjadi Orang Palestina" setelah membaca novel "Nyala Semesta" ini. Bagaimana mereka orang Israel berusaha menjadi "Seperti" orang Palestina dengan dandanan mereka harus memakai jilbab rapi, dan mendapat hukuman jika salah menyebut Rukun Iman. Saya bahkan tersenyum getir sendiri. 

Bahkan bisa saya katakan, orang Islam sendiri belum tentu seketat itu dan tahu semua tentang apa itu Rukun Islam dan bertukar dengan Rukun Iman. 

Sudah sebelas bulan lamanya mereka mengikuti Akademi Mista'rivin. Dalam bahasa Hebrew, Mista'rivin artinya "Menjadi Orang Arab". Tiga puluh siswa terbaik, berperawakan Arab, dilatih menjadi mata-mata oleh Mossad. Nantinya, mereka akan menjadi Tim Sayaret Matkal, tim pengintai, menjadi orang Palestina. Berbaur bersama mereka, lalu menusuk mereka dari dalam. 

Ini berlangsung lima belas bulan, yakni sebelas bulan pelatihan militer, dan empat bulan sisanya pelatihan budaya, bagaimana bertingkah laku seperti orang Palestina. 

Ada kelas shalat. "Salat adalah ritual yang sangat sakral. Kalian harus tetap menunduk, berkonsentrasi, dan membaca bacaan salat apa pun yang terjadi." Simulasi salat dilakukan. Siswa pria diajarkan bisa Azan. "Kalau kalian tak bisa azan, kalian mati!" terang pelatih. "Anak umur lima tahun saja sudah bisa azan." 

Saat mereka melakukan simulasi salat, pelatih mulai menembakkan peluru ke udara. 

Dor! Dor! Dor! 

Seorang siswa reflek merunduk ke tanah. "Tak ada gerakan selain salat!" Seisi kelas dihukum push up dua puluh kali. Simulasi diulang sampai tak ada kesalahan. 

Seorang siswa yang tengah membawa nampan makanan dicegat oleh seorang pelatih. "Sebutkan lima rukun islam!" 

Siswa yang ditanya gelagapan. Ia berusaha mengingat pelajaran dalam kelas, "Percaya kepada Allah, percaya kepada malaikat, percaya kepada kitab ..." jawabannya terpotong. 

"Salah! Itu rukun iman! Letakkan makananmu! Hapalkan lagi rukun Islam di pojok ruangan!" 

Minum tidak sambil berdiri! Makan dengan tangan kanan! Doakan kawanmu yang bersin! Pakai baju dari lengan kanan! Rambutmu terlihat, pakai jilbab yang benar! 

Qoonit menulis dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Penulis tidak menggunakan aku-an, namun nama orang, seperti Khalid, Mush'ab, Yusuf, dan lainnya. 

Yang mengesankan juga Qoonit menuliskan prajurit Israel dan segala perlengkapan atau amunisi yang lengkap, seakan tahu hal apa saja yang mereka punya. Dan scene yang paling saya suka adalah saat Yusuf dan Amjad yang mencari sebuah penyadap. Orang Israel meletakkan perangkap yang dapat membaca data dan aktivitas orang Palestina. 

Penyadap tersebut bisa mengumpulkan seluruh data dalam telepon seluler kita, tapi mengubah atau mengirimkan informasi palsu. Ini berbahaya. Bisanya juga informasi di Gaza bisa bocor ke tangan Israel. 

Amjad menemukan penyadap itu di bawah tanah. 

"Berderet-deret komputer tim 8200 yang sedang mengarsipkan seluruh data penyadapan seketika berhenti. Layar hitam dengan tulisan dan angka-angka, yang selama sebulan penuh tak henti bergerak, detik itu membeku. Berganti dengan pop up kotak merah bertuliskan. "DEVICE HAS BEEN STOPED!" 

Puluhan cyber attacker dalam ruangan tersebut saling bertatapan. Suasana hening. Sebuah momen yang tak pernah mereka duga terjadi. Mereka tak pernah menyangka, alat penyadapnya akan ketahuan. (hlm 236) 

Saya merasa terkesan sangat sedikit yang concern menulis tentang Palestina, terlebih dalam bentuk novel seperti novel action - thriller ini. Saya dapat merasakan ketegangan saat membacanya, juga sekaligus seru. 

Tak jarang juga saya merasa pilu, terlebih saat Khalid ditangkap dan dipenjarakan oleh orang Israel. 

Perlakuan dan penyiksaan orang Israel menimbulkan trauma dan beban psikologis bagi orang Palestina yang ditahan.

Saya bergidik ngeri tak bisa membayangkan mereka yang dapat tahan dengan siksaan seperti disentrum listrik, duduk namun dengan posisi yang mengerikan, badan mereka tertekuk sehingga perut yang menghadap ke atas di kursi dan tangan mereka diikat. 

Makanannya pun sungguh tak layak. Mereka bersahabat dengan lapar setiap hari. 

Hal yang membuat senang adalah manakala Khalid berusaha ingin punya anak dengan menyelundupkan sperma dan nantinya akan dilakukan program bayi tabung. Di penjara, Khalid berikhtiar agar istrinya, Hannah dapat hamil dan dapat lahir Pejuang Gaza yang baru. Ternyata hal tersebut telah menjadi rahasia umum bagi narapidana, buktinya teman-teman Khalid di penjara pun melakukan hal yang sama. 

Untuk kritik teknis menulis, hal yang disayangkan karena dalam novel terkadang masih terdapat salah ketik, eyd pemenggalan kata yang kurang tepat, lebih enak tidak ada pemenggalan kata, terlebih tidak ada tanda strip (-) sebelumnya. Dan sayang belum terdaftar ISBN-nya. Moga segera didaftarkan ISBN-nya, ya ...

Quote favorit: "Hal yang paling berbahaya dari serangan Israel adalah jika mereka mampu menghancurkan harapan, mematikan mimpi, melenyapkan semangat kita. Kalau itu hancur, habislah sudah Gaza." (hlm 259)

Ending cerita Khalid Hamad, salah satu petinggi Hamas, dibebaskan dan karena pemerintah Israel dan Palestina bernegosiasi akan hal ini. Orang Israel Leah dan Yonat ditukar dengan 5 tawanan Palestina. 

Hal yang menyesakkan adalah ada mata-mata di Gaza yang tidak lain tidak bukan Mush'ab pindah ke Amerika, dan meminta maaf kepada Khalid. 

Pesan moral pun banyak terdapat dalam novel ini, yakni "Jangan pernah melesatkan batu-batu itu sendirian. Selalu sertakan Allah. Jangan lupakan surat Al Anfal ayat 17 ...." 

"Panjangkanlah tangan kalian dengan kesungguhan, perberatlah batu kalian dengan ilmu, kencangkan daya lesatnya dengan ruhiyah."


DATA BUKU 

Judul: Nyala Semesta Gaza Menyala, Menginspirasi Semesta 

Penulis: Ahmad Tohari 

Cetakan: 2, September 2020 

Penerbit: KANAN Publishing, Jakarta Timur 

Tebal: 283 halaman 


No comments