Profil Ustadzah Halimah Alaydrus: Memetik Hikmah di Setiap Fragmen Kehidupan

ustadzah halimah alaydrus

Semua orang menganggap kalau ... banyak uang itu keren. Baru bisa bahagia kalau banyak uang. Sedih banget iya. Banyak di luar sana yang ngga banyak uang, tapi mereka bahagia kok. Kenapa bisa? Karena ada Allah di hatinya.  

 

Awalnya lihat di reels yang bertebaran di instagram, dan lanjut menyimak ceramahnya di youtube. Pernah datang ke Bandung, mengisi di Masjid Al Jabbar dan dihadiri oleh ribuan orang. Tak mau didokumentasikan, tidak mau difoto dan tidak ada yang memfoto beliau saat mengisi. Ya siapa lagi kalau bukan Ustadzah Halimah Alaydrus. 

Masya Allah menyimak ceramah Ustadzah satu ini terasa relate, dan sangat berkesan bagi para moms, ibu rumah tangga dan juga muslimah. 

Dengan bahasa yang ringan, penyampaian yang tegas, tidak bertele-tele dan jujur membuat para audience-nya dapat menangkap ceramahnya dengan mudah. Pemisalan kisah Ustadzah Halimah Alaydrus dan rumah tangganya membuat pendengarnya dapat lebih mencerna dengan mudah; karena tak banyak public figure yang mau menceritakan permasalahan keluarga, terutama Ustadzah.    

Pemisalan kisah Ustadzah Halimah dalam kehidupan pesantren juga sering diceritakan dalam ceramahnya seperti kisahnya saat di kota Tarim, Yaman. Selain itu kita dapat melihat dari sudut pandang seorang muslimah yang ideal itu seperti apa. 

Usianya baru 45 tahun, tapi pengalamannya luar biasa. Lulusan pesantren Daruz Zahra, Tarim, Yaman. Yaman sebagai kota Nabi, disana juga terdapat banyak sekolah yang bisa jadi tujuan untuk pesantren. Biasanya yang sudah pesantren di Tasik atau berbagai daerah, kalau mau kuliah yang bagus dan linear ya ke Al Azhar Kairo atau bisa satu ini, ya di Yaman. 

Mendengar Ustadzah Halimah Alaydrus jadi mengingat diri untuk beramal lebih banyak. Bangun malam, untuk shalat tahajud. 

Banyak quote beliau yang bagus 

"Semakin kecil nilai dunia di hatimu maka akan semakin besar nilai Allah di hatimu." -Ustadzah Halimah Alaydrus

ustadzah halimah alaydrus

Pada saat di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman Ustadzah Halimah senang karena orang tarim sangat mudah dan akrab. 

Dari luar rumah sederhana. Dari dalam rumah paling sederhana. 

Tapi meski begitu Ustazah melihat, kalau Kami boleh miskin, tapi kami bahagia. Kami miskin dan kami bahagia.

"Itu ngajarin saya sesuatu yang aneh. Kayak ada pertempuran di hati," kata Ustadzah Halimah. 

"Berbeda dengan di Indonesia kan kalau kaya baru bahagia, padahal ngga." 

"Kamu nggak harus kaya---kalau kamu bahagia... apalagi faktanya kita punya Allah." ucap Ustazah Halimah.

Kalau kamu merasa hidupmu hampa, itu karena ngga ada  Allah di hatimu. Kamu merasa hidup sengsara? Itu karena kamu  menjauhkan Allah dari hatimu. Ngga ada Allah di hatimu saudara-saudara sekalian.

Bukan pada ... kalau saya punya suami saya bahagia. 

Bukan pada ... kalau saya punya anak, saya akan bahagia. 

Bukan pada ... kalau saya punya banyak harta, saya akan bahagia. 

Bahagia itu ada, ketika ada Allah di hatimu. 

*

Kelahiran Indramayu, tahun 1979 ini, beliau menceritakan pengalaman beliau ketika shalat tarawih di kota Tarim, Hadramaut, Yaman banyak yang datang nenek-nenek, dan hanya Ustadzah Halimah sendiri yang muda. Jadi berasa nenek ketemu cucu. 

Mereka kemudian ngetes Ustadzah Halimah tentang cara baca Iftitah, Al Fatihah, sampai Tahiyat. Awalnya bingung kenapa disuruh dan di tes baca ini itu ternyata mereka ngetes biar Ustadzah Halimah jadi imam. Hahaha...

Akhirnya Ustadzah Halimah disuruh jadi imam bagi para nenek-nenek disana. Hehe.. Masya Allah.

Lalu beliau menceritakan momen  lebaran ketemu Ustazah Zainab urusan sejarah islam, beliau berbahasa arab halimah kamu ingin ke luar lebaran bisa ke rumah saya.

Di rumah Ustadzah Zainab, ada Hubabah tiflah senyum, meski beliau buta (tidak melihat). Ketika menyapa, banyak doa yang diungkapkan oleh Hubabah Tiflah. 

"Semoga Allah tidak akan pernah menyengsarakanmu, semoga Allah tidak akan pernah menyusahkanmu.Ya Allah jangan pernah susahkan hidupnya, sengsarakan hidupnya."

"Ya Allah jangan susahkan anak ini dari hidupnya." 

Ketika beliau doa diulang-diulang. 

*

Ustadzah Halimah menjelaskan dalam ceramahnya bahwa, "Pikirkan keadaanmu di akhirat nanti. 

Kalau ada pertanyaan, "Bagaimana saat suamiku cemberut Ustadzah? Biarkan saja sebab saya akan dihisab Allah karena perlakuan saya kepada suami. Sedangkan suami akan dihisab untuk dirinya sendiri dan juga kita sebagai istrinya. 

"Buatlah diri perlakukan suami yang menyenangkan ketika dipandang. Ya Allah, jadikanlah diri ini istri shalihah bagi suami. Jagalah lisanku sehingga lisan ini tidak mudah menyakiti suami. Agar tidak ada tingkah laku yang tidak menyenangkan suami." 

Selajutnya kata Ustazah Halimah adalah "Usahakan cinta yang lebih besar adalah cinta terhadap suami "lebih besar' dibanding cinta kepada anak, kita cinta ke diri sendiri, karena kalau kita liat dia apa yang sudah dia beri kepada kita 

Bab Suami 

Terkadang kita sering ingin dinomor satukan oleh suami. Sebagai istri. Suami menyayangi istri. Tapi bagaimana dengan kita? Terkadang kita urusannya saya saya saya. karena kita terlalu mencintai fisik. Kalau doanya diri sendiri juga. Padahal kita bisa mendoakan yang baik-baik untuk suami. 

"Ya Allah kuatkanlah rezeki suami sehingga dia bisa ngasih banyak ke saya. Baguskanlah akhlak beliau sehingga dapat berbuat baik kepada saya." 

Ustadzah Halimah Alaydrus juga berkata, "Cintai anak-anakmu lebih daripada dirimu sendiri. Cinta Allah, karena itu bisa lebih mudah jadi istri sholehah." 

Kemudian di hadapan suami: Yang menyenangkan dipandang, yang rapi keadaannya, yang wangi, jangan hanya mau kondangan. 

Kita bisa melakukan dua hal: Jangan langgar aturan Allah, tapi jangan sakiti suami juga. 

"Misal ada suami melarang istri berkunjung ke orang tua, kita tetap dapat berbakti kepada suami, tanpa menyakiti hati suami dengan berbakti kepada keluarga kita. Kita masih bisa kirim uang untuk keluarga kita. Jangan bentrok-bentrokin taat!" Tegas Ustadzah Halimah Alaydrus. 

"Kalau bisa kita lakukan dua hal: Suami atau keluarga. Dua-duanya. Suami taati dan orang tua bakti."

"Kita diberi akal oleh Allah untuk dapat berpikir. Lihat lihat kondisinya. Ibu lagi sakit, minta ditemenin di RS. Anterin ke RS. Jangan segala-gala dibentrokkan  kan suami. Mau-maunya malaikat menulis dosa dalam dirimu." tegas Ustadzah Halimah.

Ustadzah Halimah Alaydrus juga telah menulis beberapa buku seperti Bidadari Bumi, Tutur Hati, Pilar Cahaya, Muhasabah Cinta, Akhlak Kita (translation of “Khuluquna” by Al Habib Umar bin Hafidz), Wahai Anakku (translation of “Ayyuhal Walad” by Imam Al Ghazali, Bidadari Bumi 2-9 Kisah Wanita Shalehah dan Kata Kita-Kumpulan Catatan Penerang Jiwa. 

Untuk tahu update beliau bisa dilihat di akun Instagram beliau akun @halimahalaydrus followernya mencapai 2.4M follower. Sementara channel youtubenya 677ribu subscriber dengan jumlah video sebanyak 1,200 video. Untuk dapat selalu terhubung di saat senggang, bisa diisi dengan mendengar ceramah-ceramah beliau.

Selanjutnya menurut teman-teman siapa lagi ya yang mesti saya kupas dan simak ceramahnya. Masih banyak juga Ustadzah panutan gen Z seperti Ustadzah Nabilah Abdul Rahim, Ustadzah Oki Setiana Dewi, Ustadzah Syifa Nur Fadilah, dan juga Ustadzah Haneen Akira, istri dari Ustadz Hanan Attaki. Terima kasih sebelumnya.

No comments