Novel "Laut Bercerita" diawali konflik Biru Laut yang di ujung hidupnya berjalan dan dia merasakan sekelilingnya ada suara desiran ombak, dan dia bersiap diri diteriaki untuk melompat di tebing laut--setelah mengalami penyiksaan, ditangkap oleh sekelompok orang yang tak pernah Laut lihat, karena sejak ditangkap pertama dan sampai saat itu dia diikat dan (dengan) kondisi mata tertutup.
Nasib yang harus dihadapi oleh orang tua korban dari penculikan adalah kehilangan. Buku mengupas pengalaman pahit orang-orang yang menentang pemerintahan, mereka harus mengalami penyiksaan yang kejam dan bertubi-tubi. Dalam buku diceritakan macam-macam hal yang membuat mereka lelah. Alasan menangkap tak penting, diinterogasi, ditempeleng, disetrum, disiram air, ditelanjangi.
*
Kemudian cerita dengan alur mundur, saat Laut dan teman-temannya menemukan ruangan kosong di tengah hutan. Tempat tersebut bisa jadi basecamp meski rumahnya tak terurus. Mereka bahkan membuat bahasa yang mudah semacam kode, kalau ada yang tanya.
Daniel mempersoalkan bagaimana bisa mencapai rumah hantu itu jika mengucapkan arah jalan saja sudah makan waktu 15 menit. Bagaimana caranya kami mendapatkan dana untuk merenovasi dan mengecat, serta memperbaiki kamar mandi yang berantakan itu.
Bagaimana caranya kami bisa menyampaikan informasi kepada kawan-kawan bahwa kini diskusi dan sekretariat mahasiswa Winatra sudah pindah ke tengah hutan Desa Pete? Daniel mengucapkan itu seperti seorang aktor teater yang tengah membacakan monolog di atas panggung. (halaman 15)
Ada cerita-cerita tentang mahasiswa yang menggandakan beberapa bab novel Semua Anak Bangsa, bahkan novel-novel terlarang pada zaman itu yang bisa menyebabkan mahasiswa ditangkap juga ada. Gaya penceritaan dengan sudut pandang pertama.
Mengapa kuliah di Yogya daripada UNS? Anak mahasiswa semester 3 Fakultas Sastra Inggris, Biru Laut. Ayahnya seorang wartawan Harian Solo. Ibu bekerja dan mengurus rumah. Pekerjaannya sekaligus dia lakukan.
Kasih Kinanti, aktivis para pers mahasiswa di kampus sudah tahu nama Biru Laut juga dari beberapa tulisannya di koran mahasiswa Aulagung.
Semula berpikir ada hubungan apa antara Kasih Kinanti dan juga Biru Laut. Ternyata plot twist yang punya hubungan dekatnya justru Laut dan Anjani. Begitupun Amara adik dari Laut suka dengan Alex, sahabatnya.
Tokoh utama dalam buku ini bernama Laut. Orang dengan POV tokoh utama Laut. Jelang akhir cerita POV berganti menjadi POV Mara, Asmara, adik dari Laut.
Pembaca dapat merasakan ikut berdebar saat akan ketahuan pihak aparat. Pernah saat bersembunyi di rumah salah satu rumah warga malah sempat mengecoh dengan melepas sapi (baca: SAPI), dan agar tak ketahuan mereka semua harus berjalan di lumpur dalam kondisi gelap gulita --tak ada yang boleh menyalakan senter- alhasil perjalanan terseok sampai melewati sawah membuat mereka dalam keadaan berlumpur.
Semula merasa kaget karena sudah melewati rintangan satu dan naik bis eh.. di stop sama mobil polisi. Sudah deg-degan jilid 2 tapi alhamdulillahnya kondisi basah kuyup lumpur, polisi tidak menaruh curiga.
Part yang paling saya ingat adalah bagaimana mereka berjuang Sunu, Bram, Kinan, Julius, tapi ada satu pembelot atau intel diantara mereka. Hal itulah yang membuat mereka kadang selalu gagal saat hendak merencanakan sesuatu.
Pengkhianat yang dimaksud adalah Gusti.
"Aku bertemu Gusti, mengenakan kemeja batik, dengan kamera dan blitznya sibuk memotretku selama aku disiksa."
Pernah disetrum, diinjak dengan sepatu bergerigi, disuruh tiduran di atas balok es berjam-jam, luka bekas gebukan dan tendangan menyebabkan perih. Seruangan dengan Daniel, Alex, Julius dan Sunu. Mereka berderap, mata mereka ditutup kain hitam.
Penulis pandai mengecoh semula terpikir Naratama adalah pengkhianat? Ternyata bukan. Ada penjahat-penjahat lelaki Sabu, Manusia Pohon.
*
Buku dengan latar tahun 1998 yang kala itu menjabat presiden dalam masa jabatan 30 tahun, menimbulkan segelintir orang "berontak" yang ingin perubahan membentuk mereka dalam kelompok-kelompok diskusi.
Tak menyangka ada oknum atau intel juga yang menyusup ke dalam kelompok-kelompok tersebut mengintai, bahkan lebih tahu detail dan mendalam.
Mereka biasa keluar masuk penjara, dilepas, masuk lagi, dan seterusnya. Pada saat keluar, Laut sempat bertemu dengan.
Setiap orang memiliki pola pelepasan yang berbeda. Nanti kita bandingkan dengan Naratama. Dalam cerita diceritakan Alex lebih dilepas terlebih dulu, sedangkan Ayah Ibu Laut berharap --entah berharap Laut kembali meskipun hal itu tidak pasti.
Dalam cerita Biru Laut tumbuh dari Solo, kuliah di Yogya dan mereka berangkat bersama-sama ke Jakarta. Mengingat masa itu banyak juga "orang hilang" yang tak jelas kini statusnya.
Adapun yang berhasil selamat itupun mereka tidak boleh macam-macam dalam cerita dijelaskan Alex pada saat akan dipulangkan, dia naik pesawat dan di depan ada orang tua di belakang ada pasangan lansia mengintai, dan seterusnya.
Ternyata ada saksi hidup yang kemudian menjadi ide bakal cerita dari film Leila S. Chudori.
Ada penemuan tulang-tulang yang kalau dipikir ya kali tulang apa? Tulang manusia? Berarti mereka korban orang hilang pada jaman 1980-an.
Beberapa hari kemudian Presiden menyatakan mengundurkan diri dari jabatan kepresidenannya.
Latar Indonesia secara harfiah sudah merdeka tapi ada sisi gelap
Alex termasuk yang jago menyelam, sih. Hal tersebut membuat mereka di ambang harapan. Salah apa hingga nyawa mereka dan mereka juga harus hilang dan dipukuli massa seperti itu?
Cerita sederhana yang disulap menjadi utuh. Saat semua makna kebebasan diberangus, dan kala kemerdekaan rasanya belum utuh. []
DATA BUKU
Judul : Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Cetakan: ke-64, Juli 2023
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: x + 379 halaman
ISBN: 978-602-424-694-5





No comments