Perempuan menyatakan cinta bolehkah?
Baru-baru ini saya rewatch film Detektif dan ketika menangani sebuah kasus dan tokoh utama laki-laki terluka, si perempuan menyatakan cinta pada laki-laki yang disukainya.
Setelah lelaki ini sudah berusaha melupakan cinta pertamanya sudah meninggal, lalu datang rekan kerjanya seorang perempuan yang juga menawarkan 2 tiket menonton di bioskop.
Sering menjadi tabu jika seorang perempuan menyatakan cinta. Ini bukan saya banget yaa hahaaha hanya ingin bercerita tentang kisah perempuan yang manly banget berani menyatakan cinta pada seorang lelaki.
Kadang mikir, apakah itu hal yang wajar? Terlebih seorang perempuan kan biasanya menerima pernyataan suka dan lain sebagainya.
Ternyata itu hal yang boleh wajar saja khusus bagi seorang janda seperti Sayyidina Siti Khadijah, tapi tidak langsung "nembak" seperti itu ke Rasulullah saw., tapi dengan perantara Nafisah. Kalau dibingkai dari segi keimanan harus jelas maksud tujuannya ya. Role model Shahabiyah Siti Khadijah juga menyatakan cintanya pada seorang Rasulullah saw. lewat perantaraan.
So, menyatakan cinta bukan untuk pacaran ya ~ihiw. Tapi menyatakan perasaan untuk ke jenjang yang lebih serius yaitu menikah.
Khadijah berani mengajukan diri untuk dinikahi karena kagum dengan sifat dan karakter Rasulullah saw. Hal itu pula yang membuatnya optimis karena Rasulullah saw. usianya jauh di bawahnya, Khadijah memberanikan diri melamar duluan (lewat perantara Nafisah).
Terlebih Khadijah juga secara finansial adalah orang yang banyak secara pendapatannya.
Bagi yang belum pernah menikah sebelumnya, dianjurkan untuk nggak mengajukan diri secara langsung, tapi juga lewat perantara karena menjaga marwah (kehormatan) seorang Muslimah dan juga menjaga diri jika calon yang kita suka menolak.
Dewasa ini, Gen Z mungkin secara general ingin menikah dalam usia yang mapan dan memiliki penghasilan yang cukup. Karena itu banyak dari Gen Z yang menunda menikah, dan menikah di usia 30 tahunan
Tak Cuma Cinta, ini 7 topik edukasi penting sebelum menikah
Mental dan emosional
Menikah bukan perkara mudah, banyak hal yang perlu dipersiapkan agar rumah tangga bisa berjalan harmonis. Hal ini tercermin dalam survei Wedding Insight: How Indonesians Plan Their Big Day yang dirilis Jakpat pada 26–30 Juni 2025. Survei ini melibatkan 907 responden lajang dari berbagai daerah di Indonesia.
Berencana Ikut Kelas Pranikah untuk Bekal Ilmu yang Dipunya
Ada satu temuan menarik yang diungkapkan. Sebanyak 3 dari 5 responden rupanya mengaku berencana mengikuti kelas pranikah. Artinya, ada kesadaran bahwa pernikahan tidak bisa hanya bermodal cinta, tapi juga kesiapan menghadapi tantangan kehidupan bersama. Lalu, apa saja topik edukasi yang dianggap paling penting sebelum mengucap janji suci?
Hasil survei menempatkan kesiapan mental dan emosional di posisi teratas, dipilih oleh 71% responden. Banyak yang menyadari bahwa kestabilan hati dan pikiran menjadi pondasi utama agar hubungan bisa bertahan di tengah badai masalah.
Di urutan kedua ada peran dan tanggung jawab dengan 63%. Publik rupanya ingin lebih siap membagi tugas rumah tangga, peran sebagai pasangan, dan kelak sebagai orang tua. Tak kalah penting, keuangan keluarga menempati posisi berikutnya (56%). Bagi banyak orang, pengelolaan uang bersama sering jadi ujian pertama dalam rumah tangga.
Topik lain yang juga dianggap penting adalah manajemen dan penyelesaian konflik (55%). Survei ini menunjukkan bahwa publik menyadari pertengkaran tidak bisa dihindari, tapi bisa dikelola dengan cara sehat. Sementara itu, nilai, kepercayaan, dan budaya (54%) menegaskan bahwa identitas dan keyakinan masih menjadi landasan penting dalam keluarga di Indonesia.
Dua aspek terakhir adalah kesehatan reproduksi dan kehamilan (46%) serta komunikasi efektif (43%). Walaupun berada di posisi bawah, keduanya tetap krusial. Tanpa komunikasi yang baik, kesalahpahaman mudah muncul. Begitu pula pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang penting untuk pasangan muda.
Secara keseluruhan, survei ini menggambarkan bahwa generasi sekarang semakin realistis dalam memandang pernikahan. Mereka tidak hanya membayangkan hari bahagia, tapi juga menyiapkan diri menghadapi dinamika setelahnya. Pernikahan pada akhirnya bukan sekadar acara satu hari, melainkan perjalanan panjang yang perlu bekal cukup sejak awal.
Pengalaman pribadi saya pernah ikut kelas pra-nikah dulu di Masjid Salman sekitar tahun 2012-an. Ilmunya sangat bermanfaat sekali. Membahas dari sisi psikologi, kesiapan mental calon pengantin, dan lain sebagainya.
Kesimpulan
Bagi seorang Muslimah yang masih single dan ingin menginjak pernikahan dan punya calon sendiri bisa mengkomunikasikannya dengan Ayah sebagai wali nikah kelak. Bila mengajukan hal tersebut dan bisa, insya Allah akan lebih mudah karena ada batas dan perempuan kelak tidak dirugikan. Daripada menghabiskan waktu untuk pacaran yang wasting time, wasting money, lebih baik mempersiapkan diri dengan menabung untuk biaya pernikahan dan juga bisa menjaga diri dan kemaluan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. sampai waktunya tiba saat momen pernikahan yang sakral. Wallahu 'alam bis shawab.
Sumber: https://data.goodstats.id/statistic/tak-cuma-cinta-ini-7-topik-edukasi-penting-sebelum-menikah-lAagq




No comments