Quote Buku Falsafah Hidup Buya Hamka

Wednesday, May 22, 2019

Falsafah Hidup Buya Hamka

Berikut cuplikan tulisan dari Buku Falsafah Hidup Buya Hamka yang saya suka dan ingin saya simpan. Selamat menyimak.

Agama Islam dari sumbernya yang asli yaitu Al Quran adalah pembela filsafat. Dalam kitab suci Al Quran, senantiasa disesali orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. 
“Tidakkah kamu gunakan akalmu?” 
Tidakkah kamu pikirkan?” 
“Ambil perbandinganlah hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” Dan lain-lain lagi berates-ratus ayat untuk mengetuk pintu kesadaran pikiran. 

Apakah mereka tidak melihat kepada unta, betapa ia dijadikan, dan kepada langit, betapa ia diangkatkan, dan kepada bukit-bukit, betapa ia ditancapkan, dan kepada bumi, betapa ia dihamparkan. (QS Al Ghassiyyah, 88: 17-20)

Akal menyuruh manusia menjaga dirinya dan mengatur peri kehidupannya, jangan meniru orang lain sebelum dipikirkan apakah yang ditiru itu cocok dengan dirinya. Yang lebih utama menurut akal adalah mengukur bayang-bayang diri, mengenal siapa diri, dan berusaha memperbaiki mana yang telah rusak.

Seorang bintang film, seorang pemain sandiwara, berkali-kali mengadakan latihan untuk menyesuaikan dirinya dengan lakon yang akan dijalankannya, maka kita seluruh manusia ini lebih berhak melatih diri kita supaya menjalankan lakon yang akan kita jalani pula di dalam lakon hidup dan sandiwara kehidupan ini. (halaman 10)

Mahkota dan mahligai, pangkat dan kehormatan, kekayaan atau kemiskinan, dan sebagainya, hanyalah barang pinjaman yang tak kekal adanya. Tetapi yang tak akan terpisah daripada manusia, yang ditanggung tidak akan meninggalkan manusia atau ditinggalkan ialah sifat batin dan kekayaan batin. Walaupun uang pergi dan datang, pangkat naik dan jatuh, namun kekayaan jiwa itu tidaklah akan meninggalkan diri. Umpamanya adalah ilmu, hikmah, budi, bahasa, insaf dan sadar. (hlm 11)

Jalan yang dilalui anak tidak sama dengan jalan yang dilakui si Ayah dahulu. Semuanya itu terjadi karena perbedaan kesanggupan tegasnya perbedaan akal.

Maka sebelum kita maju dalam menentukan tujuan hidup, hendaklah kita pandai memilih mana yang cocok buat diri, jangan mana yang disukai saja. Anak muda kerapkali tidak insaf akan hal ini, karena darahnya masih muda dan panas. Ada anak muda melihat orang lain senang makan gaji, dia hendak makan gaji pula; padahal yang lebih cocok dengan dia bukan makan gaji, tetapi berniaga.

Ada pula yang melihat orang menjadi wartawan dan pengarang, dia hendak jadi wartawan atau pengarang pula, padahal yang lebih sesuai dengan dirinya jika ia jadi petani. Ada pula pemuda yang dibentuk oleh ayahnya menurut maunya saja, mau menurut kelayakan yang cocok dengan anak itu, ada pula yang karena pengaruh orang lain hilang timbangannya. (hlm 11)


Hamka menjelaskan jangan sampai seorang mubaligh pandai menyeru, pandai mengabarkan, menceritakan, mempidatokan, laksana orang banyak dan memperingatkan hendaklah mereka datang ke dunia ini sebagai orang yang berdagang atau sebagai orang yang singgah, tapi ketika turun mimbar ditanyai apa makna dan arti hidup, ia tidak dapat menjelaskan, karena apa? Karena pidatonya itu barang yang dihafalnya, bukan dipahamkannya.

Seperti pembiasaan seorang tukang batu yang telah bekerja selama 20 tahun dengan sungguh-sungguh, lebih dipercaya daripada anak sekolah teknik yang baru pulang membawa diploma. Sebab ijazah, seorang yang telah bekerja 20 tahun ialah bekas tangan-tangannya, bukan segulung kertas. (hlm 48)

AKAL
“Akal itu terbagi kepada 3 bagian, sebagian untuk mengenal Allah, sebagian untuk taat kepada Allah, dan sebagian lagi untuk sabar (dapat menahan hati) daripada maksiat kepada Allah. (Sabda Nabi saw)
“Iman itu masih bertelanjang, pakaiannya adalah takwa, perhiasannya adalah malu, hartanya adalah iffah, buahnya adalah ilmu.” (Buya Hamka)

Akal selalu menimbang antara buruk dan baik, lalu memilih mana yang baik. Sedang hawa dan nafsu, yang jahatlah yang dipilihnya. Akal selalu mengingat dan menahan, sedang hawa nafsu selalu ingin lepas. Akal selalu membatasi kemerdekaan, hawa nafsu ingin merdeka dalam segala perkata.

Bagi Aristippos, perangai yang utama adalah alat. Gunanya untuk mengekang syahwat, sebab syahwat itu selalu menyerang (ofensif). Kalau tidak dikekang, dia akan membawa pada kesakitan.

PENGHAMBAT DALAM KEBAIKAN
Apa yang menghambat kita mengerjakan kebaikan? Dalam buku Falsafah Hidup, Buya HAMKA menjelaskan bahwa, pertama, halangan. Kedua, takshir (kelalaian)

Halangan tersebab sakit, lapar, miskin dan seumpamanya. Adapun takshir tersebab 4 perkara.
Pertama, lantaran tidak dapat membedakan mana yang hak dengan mana yang batil atau diantara yang baik dengan yang buruk. Obatnya mudah saja yaitu belajar.

Kedua, sudah tahu, tetapi tidak dibiasakan mengerjakan yang baik, sehingga dirasakan bahwa mengerjakan yang jahat itu baik juga. Menghilangkannya tidak semudah yang pertama, berkehendak kepada latihan.

Ketiga, telah disangka bahwa yang jahat itu baik dan yang baik itu jahat. Karena telah terdidik dari kecil lebih sukar mengobatinya harus mendapat pendidik atau guru yang lapang dada, yang sabar.

Keempat, di dalam kejailannya dan kerusakan didikan hatinya busuk pula. Ia berpendapat mengerjakan kebaikan itu sia-sia saja.

Yang pertama namanya bodoh, yang kedua namanya bodoh dan sesat. Yang ketiga namanya bodoh, sesat dan fasik. Sedangkan yang keempat namanya bodoh, sesat, fasik dan jahat.

Dan kerapkali orang miskin  mencoba hendak hidup seperti orang kaya. Gaji kecil, belanjanya lebih besar dari gajinya. Pendapatannya rendah, borosnya lebih tinggi dari modalnya.

Sebab itu kepada bapak-bapak kita serukan supaya, janganlah anak-anak dibunuh waktu kecilnya. Sehingga hanya badannya yang tinggal sedang “jiwanya” yang sejati telah terbang, karena diajar oleh ayahnya yang pengecut. Tiap-tiap anak hendak menyatakan perasaan, dihalangi. Anaknya diajar takut kepadanya atau kepada orang lain. Dihardik kalau dia hendak menyatakan pikiran. Disumbat mulutnya kalau dia bertanya. (hlm 263)

Hidup mempunyai cita-cita. Atau hidup itu ialah cita-cita. Cita-citalah yang menjadikan manusia berjuang mencapai yang lebih sempurna. Manusia tidak mau mencukupkan keadaannya yang ada sekarang saja. ia bercita-cita ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Sebab itu hanya manusialah yang senantiasa beroleh kemajuan, binatang tidak. (302)

Orang yang tahu harga diri tidak sombong. Dia rendah hati, mudah dalam pergaulan. Tidak lekas tertawa ketika senang dan tidak lekas marah ketika tersinggung.

Cita-citalah yang membedakan sebagian manusia dari yang sebagiannya. Kita berusaha mencapai cita-cita jadi orang yang mulia, orang berpangkat, pemimpin, pengarang dan orang alim. Tegasnya menjadi seorang yang terhormat. Kita bercita-cita dan berusaha agar cita-cita tercapai sebelum kita wafat.

Pemuda haruslah mempunyai cita-cita yang tinggi supaya hidupnya berarti. Apabila cita-cita tercapai, terutama di hari tuanya, dia akan menekur kembali melihat anak tangga yang dilaluinya dahulu dengan tersenyum. Orang tua dan guru mempunyai kewajiban yang besar dalam perkara ini. Mereka mesti menanamkan himmah yang tinggi kepada murid-murid dan pemuda, supaya terciptalah suatu golongan umat yang duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan umat yang lain.

Himmah yang tinggi berbeda dengan angan-angan yang tinggi; karena angan-angan yang tinggi itu menyebabkan pemuda suka menggantang asap atau melamun. Dia tidur di siang hari di waktu orang lain bekerja keras. Dan berangan-angan hendak membeli mobil model yang laing baru, berangan-angan naik kapal udara ke New York dan bertemu dengan gadis-gadis Amerika yang cantik, terutama di Hollywood. (hlm 306)

Bagaimana dengan kita? Suka membaca buku-buku pemikirankah? Bukan sekadar komik, atau novel hore-hore, tapi coba sesekali –atau sering juga gak apa-apa-, membaca buku "Falsafah Hidup" salah satunya adalah buku yang merenungi makna hidup.
Buya Hamka menulisnya puluhan tahun yang lalu namun isinya sarat hikmah, detail, dan tetap bisa diterima kandungannya untuk persoalan-persoalan masa kini. Ternyata buku yang saya baca ‘Falsafah Hidup’ merupakan buku berseri (serial), dari 4 buku. Tiga buku lainnya, yakni Tasawuf Modern, Lembaga Hidup dan Lembaga Budi.

Jangan kalah kita sebagai generasi muda untuk maju dan gemar menggali ilmu dari sejarah masa lampau. Apa kita gemar nonton Korea? Atau meniru gaya Barat? Terkadang kita menganggap itu adalah keren sehingga kalau ketinggalan kita menjadi kurang update (kudet) atau udik.

Padahal itu bukanlah esensi. Buya Hamka dalam bukunya ‘Falsafah Hidup’ mengungkapkan bahwa, “Hidup secara Barat yang nampak secara lahir serbasenang, tak perlu ditiru bila tidak sesuai dengan kemampuan kita.”

“Tidak sedikit orang berusaha mencari kegembiraan kesana kemari. Di Eropa dan Amerika disediakan kabaret, casino, night club, bioskop dan tempat-tempat dansa, dan ini pada akhirnya pindah pula ke Negara kita, dengan mendirikan club-club, taman bacaan, gedung pertemuan, dan lain-lain. Lalu dijual disana minuman keras, karena dengan minuman keras itu orang lupa pada segala kesusahan.

Diadakan pula perjudian untuk perintang hati, kadang-kadang dibawa kesana istri dan kekasih atau tunangan. Mereka menyangka dengan berbuat demikian timbullah kegembiraan dan datanglah sukacita.” (Falsafah Hidup, hlm 197)

Setelah Indonesia merdeka, kita berkenalan lebih dekat dengan bangsa-bangsa lain, terutama bangsa Barat. Kita mulai mengenal “jalan hidup orang Amerika” (American Way of Life). Kita kagum melihat, lalu setengah orang ingin meniru. Tetapi yang ditirunya hanya kulit. Dia tidak hendak tahu, apakah isi yang menimbulkan kulit itu. Orang Amerika itu telah mulai jalan ratusan tahun yang lalu, mereka membangun dari bawah dan merdeka waktu yang lama, hingga bisa mencapai kejayaan teknologi, dan sebagainya. Padahal kita, saputangan, dasi, dan kaus kaki pun masih membeli dari luar negeri. Bagaimana dapat meniru Way of Life orang Amerika, dan tidak hendak membuat ‘Indonesian Way of Life’ sendiri. (Falsafah Hidup, hlm 199)

Buya Hamka pun menjelaskan betapa penting hidup sederhana. “Tidak ada orang yang dapat mengingkari bahwasannya keperluan hidup amat banyak, kemauan manusia berbagai ragam. Sebab itu manusia perlu berusaha. Perlu memperbanyak mata pencaharian, mencari usaha yang baru. Perlu duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan orang lain di masyarakat. Kalau tidak ada mata pencaharian, awak akan dilecehkan orang.”

Beliau pun melanjutkan lagi, “Hidup di dalam rumah tangga yang berbahagia tidak perlu mesti rumah bagus, yang perkakasnya amat banyak memenuhi rumah sejak dari beranda muka sampai ke dapur. Itu bukan menjadi tanggungan, sebab lebih banyak rumah tangga orang yang beruntung padahal hanya sebuah pondok kecil. Kemudinya ialah di hati yang puas tadi juga.”

Yang penting diajarkan kepada remaja dan para aktivis dakwah adalah berani.
“Maka bangunlah kaum muslimin kembali sejak timbul keberanian Sayyid Jamaluddin al Afghani, dan muridnya Syaikh Muhammad Abduh, dan muridnya pula Sayid M. Rasyid Ridha, dengan berani berterus terang menyatakan kebenaran. Mula-mula mereka dikutuk, tetapi dengan diam-diam segala pelajaran mereka diikuti juga.”

“Di Indonesia muncul H. Abdullah Ahmad dan H. Rasul (H. Abdulkarim Amrullah) serta kawan-kawannya di Minangkabau dan Kyai Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya di Yogyakarta. Mereka dibenci, dihalangi, dikatakan sesat. Tetapi dengan diam-diam mereka diikuti juga.”

“Mesti banyak yang seperti Rahmah El Yunusiyah, yang berani hidup menjadi janda, karena memikirkan pendidikan saudara-saudaranya kaum perempuan, dan seterusnya.”

“Mesti timbul kelompok-kelompok muda yang berani menyatakan pendapat, sebab sekarang perhubungan telah mudah, percetakan telah banyak dan penerbitan telah ada.” (Filsafah Hidup, hlm 255-256)

Kita tidak boleh sunyi setiap waktu dari orang yang berani menyatakan kebenaran. Yang meluruskan barang yang condong, memperbaiki barang yang salah, yang tidak peduli pada kebencian dan ejekan orang.

Meskipun benci kepadanya, namun kebenarannya tidak akan dapat ditolak. Orang tidak akan kuasa menolak pendapat itu.

Buya Hamka tegas dan lantang mengkritik Soekarno dan menyatakan haram menikah lagi baginya. Karena tidak suka dengan pernyataannya tersebut, Buya Hamka dijebloskan ke dalam penjara. Apa Buya Hamka marah? Tidak.

Bahkan di dalam jeruji besi, Buya Hamka mampu menyelesaikan menulis Tafsir Al Azhar 30 juz. Pencapaian yang luar biasa! Teringat Rocky Gerung berkata, “Orang HEBAT tidak bisa dihentikan kecuali dibunuh.” Jangan anggap dengan dipenjara orang hebat akan diam.

Di sisi lain, bagi orang awam ada yang mudah menangkap ceramah –disampaikan langsung dalam ceramah, tapi ada juga yang tidak menerima dakwah secara langsung. Sehingga terdapat cara lain untuk berdakwah.

You Might Also Like

0 komentar

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#