Tentang Meluapkan Emosi Marah, Stress, dan Membuang Depresi


Cara meluapkan emosi, marah, stress

Senangnya bisa dapat ilmu baru tentang Manajemen Emosi dari pakarnya langsung. Kali ini saya nonton dari channel Youtube 5iTV. Disana banyak juga materi materi lain yang bisa diaplikasikan. Sangat terbantu sekali dengan materi materi yang ada di 5itv. Yuk subscribe channel Youtubenya! 


Tak terasa kurang lebih 8 bulan sudah pandemik Corona menyerang seluruh dunia, termasuk tanah air Indonesia. 

Saat sebelum pandemik orang-orang terbiasa biasa ngantor, sekarang WFH. Selain itu anak-anak juga sebelumnya terbiasa pergi berangkat ke sekolah, saat ini hanya belajar online/daring di rumah. Sebelumnya sering pergi ke berbagai daerah atau liburan, saat ini di rumah aja.  

Akhirnya potensi stress terjadi dimana-mana. Bagi Ibu Rumah tangga biasanya pekerjaan domestik harian, kini ditambah harus stand by mengajar anak dan menemani anak mengerjakan tugas di rumah. Tugas LOAD menumpuk. Kalau tidak disikapi dengan manaj yang baik tentu bisa stress. 

Bagi suami istri juga potensi berantem bisa tambah lebih besar karena biasanya ngantor ini di rumah, dan tak sedikit yang dirumahkan di PHK –termasuk suami saya. Doakan dapat lagi yang lebih baik. 

Di China, selama pandemik ini kasus perceraian meningkat. Di Indonesia juga kasus perceraian karena dampak Covid juga banyak. Sehingga berpotensi menimbulkan stress.

Butuh persiapan fisik dan mental yakni menyiapkan spiritual dan emosi. Beban-beban emosi yang dihadapi, : anak tugasnya banyak, sehingga menimbulkan ransel emosi PENUH. Jadi gampang marah karena sumbu pendek.

*

Manusia dipengaruhi 3 timeline yakni: pertama, masa lalu yang masih nyangkut dan harus diselesaikan. Kedua, masa kini, secara perekonomian luar biasa, dan ketiga masa depan kehawatiran tentang masa  depan. 

Menurut Pak Dandi Birdy, Psi, ciri orang stress adalah orang yang banyak pikiran. Tapi ada stress yang bikin negatif dan ada stress yang positif. Kalau stress yang negatif ada distress,  gampang lupa, bengong, konsentrasi terganggu.   Kalau yang positif Youstress. 



Pegal-pegal juga bisa dari beban emosi

Beliau juga mengungkapkan bahwa Beban emosi misalnya dari leher jadi pegal-pegal, diare. Gejala psikosomatis jadi asma itu juga bisa berasal dari beban emosi atau banyak pikiran istilah mudahnya.

Asma secara kedokteran allergen ada pemicunya yaitu debu dan alergi dingin. Tapi kalau asmanya kumat bukan karena keduanya, berarti bisa dipastikan itu stress. Ada juga yang larinya ke gatal.  

Ada juga tipikal orang yang gak bisa makan atau malah sebaliknya makannya banyak kalau lagi stress.

Penyakit Fisik diawal Penyakit Psikis

"90% penyakit fisik diawali oleh penyakit psikis. 6 dari 10 pengidap kanker bermasalah dengan memaafkan. Kalau selama pelatihan ada orang konsul ke kami, mereka rata-rata yang mengalami kanker bermasalah dengan marah-marah atau memaafkan. Dan perilaku marah marah selama 2 jam itu berpotensi menjadi penyakit stroke. Maka masalah yang harus diselesaikan adalah penting mengelola emosi." Kata Pak Dandi lagi. 


Selain Fisik kelola kita sehat secara lahir, mental juga gak kalah karena mental itu pengaruhnya spiritual dengan emosional.

Siapakah aku di era Covid 19?

Zona ketakutan – Zona Belajar – Zona Bertumbuh – Zona Beriman 

Hikmah Ini cobaan dari Allah. 


Mengatasi Depresi dengan Memiliki Mental Awareness

Yang sering menjadi permasalahan kita adalah kita harus memiliki mental awareness. Jangan sampai kita depresi. Kalau kita punya mental awareness kita sebagai pribadi, harus produktif. Setelah itu ia bisa share, berbagi, itu kebahagiaan bagi dirinya baik materi atau non-materi.

Saat kita mengalami depresi, maka kita Pertama harus forgiveness therapy dan Kedua Butterfly Hug.

Pertama terapi memaafkan yakni maafkan orang yang pernah menyakiti kita. Kemudian Butterfly hug ini peluk diri kita sendiri dengan posisi tangan menyilang ke bahu. Hal ini bisa dipastikan akan membuat kita merasa nyaman dan menyayangi diri kita sendiri. 

Apa yang terjadi ketika kita emosi?  Secara negatif, secara energi fisik cape tapi secara psikis kita nabung jengkel seliter. Kemudian 2 liter. Kemudian kesel itu numpuk ditahan. Sehingga marah anger out. 

Kalau anger out ini marah tapi ke orang lain.  Yang rusak siapa? orang lain.

Tapi kalau anger in apa? diredam, dipendam. Yang rusak siapa? dirinya yang tidak mengeluarkan emosi. 

Dan itu adalah harusnya gak gitu.

 

Cara mengelola emosi

Penting mengalirkan emosi, dan ada beberapa point untuk mengalirkan emosi, yakni:

  1. Aware: sadar bahwa kita sedang marah, dan kita marah pada siapa, marah karena alasan apa/
  2. Accept: menerima saya sedang marah, “Saya tuh marah. Bahwa ini perasaan marah.”
  3. Allow: Boleh marah di sesi therapy harus dibedakan marah dan marah-marah, yang harus dikendalikan itu marah-marah dan tingkah laku dari marah-marah.
  4. Away yakni membiarkan rasa negatifnya mengalir keluar.

Penting Mengelola logika: “Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah.  Karena bisa jadi setengah jam kemudian kita menyesal.” 

Teringat dengan kata Ali bin Abi Thalib tentang ‘Malu dan Penyesalan’ bahwa "Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan." 

Selain itu dalam buku ‘Purification of the Heart milik Hamzah Yusuf’  bahwa Pintu setan/iblis masuk lewat marah. (Imam Al Ghazali, hlm 138-139) 

An Nawawi berkata Rasulullah saw. mengatakan jangan marah. maksudnya bukan jangan marah dalam arti implisit, tapi kendalikan marah, janganlah amarah  menguasai seseorang tapi dilatih dengan membuatnya tidak sampai kehilangan tata krama. 

Harus sinkron antara ucapan, tingkah laku, dan lintasan hati. 

  • Me-review hidup masa lalu, mengadu pada Allah. Karena kalau kita emosi, itu menimbulkan efek somatif di badan sampai panas di badan.  Ada  titik marah. Selain itu juga terekam di memori (kognitif)
  • Saat kita sedang marah, self talk 
  • Menasihati diri sendiri. Sayangi diri sendiri. “Ada satu orang yang harus peduli dengan diri sendiri yaitu diri kita sendiri.”   
  • Terapi forgiveness orang yang menyakiti kita, kita maafkan. 
  • Berpasrah pada Allah, dan 
  • Berdoa pada Allah. Orang yang pernah menyakiti kita doakan ia, dan juga doakan kita yang terbaik untuk kita.  Selain itu juga therapy al fatihah harus dihayati. Pilar kognisi harus positif thinking sama Allah. Banyakin positif thinking, cari informasi yang membantu kita mencari solusi. 
  • Spiritual dekatkan hati kita dengan Allah
  • Perbanyak bersyukur saat mau tidur maafkan 

Ada teknik meluapkan emosi juga yakni dengan Tulis kekesalan semua gak yang positif, gak masalah, karena kita sedang menerapi diri kita sendiri. Setelah selesai bakar dan buang. 

Kalau kita curhat ke orang tentang permasalahan kita, maka hal tersebut  menyakiti kita lagi karena mengingatkan memori itu lagi. Kalau kita curhat ke 100 orang saja, 100x kali kita merasa sakit hati.  Jadi memaafkan itu adalah kebutuhan kita. 

Lalu bagaimana kalau menasihati orang lain? Kewenangan kita mengingatkan dengan cara santun. Doakan. Tapi kalau melemb utkan hati, itu kuasa Allah.  

No comments