Anwar Sang Eksekutor dalam Novel "Sang Eksekutor"- Tere Liye

Novel Sang Eksekutor

Cerita realis Tere Liye saat rakyat muak dengan penegak hukum. Saat Menteri Bacok meninggal di atas pesawat, dengan tangan terkepal dan tidak ada tanda-tanda pembunuhan atau luka di tubuhnya. Didiagnosis serangan jantung. Kemudian Kapolri ditemukan meninggal, Hakim Agung ditemukan meninggal di kursi ruangan konser meringkuk dengan tangan terkepal. Sebagian netizen justru bersorak 'merayakannya'. Berlanjut Jaksa Bu Pinangka dan juga Pengacara Hotma Cornelius yang juga ditemukan meninggal dengan diagnosis serupa. 

*

Jika membaca buku biasanya ada jeda, atau beralih, diam, tidak lanjut. Saya tidak menemukannya dalam buku ini. Buku "Sang Eksekutor" menyihir saya untuk terus membaca tanpa berhenti. Total 368 halaman membaca dalam 4 hari saja (diseling pekerjaan domestik ibu), ya! (^-^)/

Novel yang dikemas ringan di novel "Sang Eksekutor" yang menyedot perhatian adalah karakter Anwar Van Rijn. Sepertinya Tere Liye mampu menangkap karakter unik di sekitar. Saat mungkin orang awam menganggapnya biasa-biasa saja, Anwar karakter menarik karena orang yang gak ribet jika kita bepergian bingung dengan bawaan baju ganti, perlengkapan kerja seperti laptop atau kamera, Anwar tidak. Saat bepergian, dia hanya membawa baju yang dipakai dan beberapa barang saja. Dia orang yang merdeka! 

Dia hanya membawa baju yang dipakai saja saat bepergian. Jika di kota tujuan dia perlu baju, dia cukup membeli baju lagi. 

Anwar karakter yang suka menggoda temannya, kerap menjahili, orang yang senang pamer pada Julia tentang kehebatannya bisa berenang tanpa pengaman, punya banyak uang bisa menginap di hotel kelas Suite dan juga. 

Dalam novel ini dengan Julia wartawan lokal, mereka berdua menemukan kasus-kasus pembunuhan di depan mata. 

*

Cerita layaknya Conan yang bertanya mengapa setiap ada Conan ada kasus pembunuhan juga ada dalam buku ini, karena sosok Anwar selalu ada dalam kasus pembunuhan. Tapi kita dibuat penasaran sampai akhir dan menganggap itu hanya kebetulan saja. Toh, saat kejadian Anwar juga sedang mengadakan podcast dengan narasumber tokoh yang terkenal dalam bidang bisnis. 

Kasus pertama dikisahkan kasus pembunuhan Menteri Bacok yang meninggal di atas pesawat dalam keadaan duduk, tidak berdarah dan tangan mengepal.

Saat Anwar diundang ke kantor kepolisian untuk bersaksi saat berada di atas pesawat, lagi-lagi ada kasus meninggalnya Kapolri di kantor kepolisian. 

Jika saya ingat, jika di film-film akan diulik saat masa lalu korban pembunuhan dan latar belakangnya dan saya mendapatinya dalam novel "Sang Eksekutor" ini. Bahwa biasanya saya membaca tokoh yang jadi sorotan adalah protagonis, tapi di buku ini yang menjadi sorotan adalah tokoh yang jahat. 

Lihainya seorang penulis melihat secara detail dalam sudut pandang orang ketiga. Kita dibawa melihat Menteri Bacok, Kapolri dan pembaca dibuat penasaran siapakah pembunuhnya?

novel sang eksekutor

Maka, sesaat saya pun tertarik ingin menulis genre seperti ini. Diantara ketiga orang yang meninggal kasus pembunuhan dengan riwayat jantung, saya sangat kesal saat membaca Hakim Drajat yang meninggal, bukan karena cara dia meninggal, tapi kesal dengan mudahnya seorang hakim bisa membebaskan kriminal jadi tidak mendapatkan hukuman.

Dalam buku Tere Liye ini tidak ada bahasan bahwa nanti semua akan mendapatkan ganjaran yang telah diperbuatnya di dunia. Tapi banyak sekali rakyat yang merasa marah dengan tindakan tidak adilnya seorang pejabat publik yang seharusnya punya moral luar biasa. 

Latar belakang seorang hakim yang tidak amanah itu sejak kecilnya sudah punya potensi sesat. Kala Hakim Agung pernah menjadi OB, pernah membakar kertas-kertas ---membakar bukti pejabat yang korup.

Tahun 1997, pemerintah mengeluarkan Inpres tentang OPSTIB, alias operasi tertib, Presiden menunjuk Pangkopkamtib sebagai pelaksana operasional, lantas ketua OPSTIB terdiri dari Kapolri, Jaksa Agung dan para Irjen. Itu tim yang kuat, bagai 'avengers', nyaris semua penegak hukum ada di sana. Operasi ini menertibkan pungli di jalanan, di pelabuhan, di kantor-kantor, menyasar aparat di pusat daerah departemen. 

Sejak lama ketua pengadilan disebut melakukan pungli atas  kasus yang dia adili. Celaka, dia menyimpan banyak dokumen 'rahasia' di ruangannya. 

Drajat memang ketahuan oleh tim OPSTIB sedang membakar dokumen-dokumen itu di belakang kantor. Dia sempat diperiksa, lantas dijebloskan masuk penjara. Tapi karena Drajat memasang 'wajah polos' mengaku tidak tahu itu dokumen apa, 'hanya staf' bersih-bersih, dia dibebaskan seminggu kemudian. 

Atas jasa Drajat, ketua pengadilan menawarinya sekolah. 

~Miris ... Gelar "Hakim Agung" tapi pernah menjadi seorang narapidana. 

membaca novel Sang Eksekutor

Pembaca awam jadi tahu ternyata peran kecil begitu berpengaruh dan kadang underground, mereka ini tidak tersorot kejahatannya merugikan negara, korup, tapi tak ada ganjaran yang setimpal sehingga korup malah tumbuh subur di negeri tersebut. 

Kejahatan kriminal sama besarnya dengan kejahatan pungli, dan seterusnya, mengeruk uang rakyat hingga rakyat sering terinjak dengan pakaiannya sendiri. 

Membaca buku Tere Liye kali ini ikut merasakan kemarahan pembaca, dan ikut terpikir apa yang seharusnya bisa diperbuat agar hal ini tidak terjadi. 

Keadilan? Keadilan yang mana? Apa rakyat merasakannya? 

Apa rakyat sering menjerit, menangis karena terhimpit ekonomi yang sulit? Dimana pemimpin berada?

Sepuluh tahun itu, Hakim Drajat tercatat tujuh kali membebaskan terdakwa korupsi, lima kali membebaskan terdakwa terkait pengusaha dan keluarga penting. Bahkan dia 'santai saja' pernah membebaskan anak seorang pengusaha yang membunuh orang lain, padahal bukti-bukti beredar luas. Keputusan itu memcu tuduhan jika Hakim Drajat disuap, dan dia diperiksa internal. Dia sempat dinonaktifkan dari hakim hakim menjadi staf biasa. Hanya setahun, saat orang-orang lupa, dia kembali menjadi hakim, malah diganjar promosi menjadi hakim di pengadilan tinggi, ibukota provinsi. (halaman 165) 

Amanah sebagai seorang qadhi atau hakim itu adalah tertinggi. Bagaimana dia bisa berlaku adil pada terdakwa sehingga menimbulkan jera dan tidak mengulangi kesalahannya lagi di masa mendatang.

Latar tempat dalam novel "sang Eksekutor" ini sangat kaya menurut saya. Kita diajak berjalan-jalan naik pesawat, kemudian ke Bali, ke ke Malang, ke Surabaya, Jakarta, ke New York bahkan keseruan saat macet Anwar ditinggal Julia yang turun mobil dan memilih naik ojek karena mengejar berita. Seru sekali membaca novel ini karena kita juga bisa sampai seperti sedang menonton konser Louis Davis, ke acara pernikahan, tapi di luar gedung sedang ada demonstrasi. Semua cerita dibuat suasana sangat dramatis dan filmis. 

Bisa ditebak saat ada kematian orang ketiga, lagi-lagi ada Anwar dan Julia di tempat kejadian. Jaksa Agung Pinangka bedanya Bu Pinangka berasal dari orang berada. Dan lagi-lagi tidak ada pengumuman fundamental kalau itu adalah karena pembunuhan berantai. Tetap kabarnya karena serangan jantung. 

*

sinopsis sang eksekutor

Membaca buku Tere Liye kalau tidak bertanya sesuai briefing dimaki-maki tolol. Julia lulusan S2 yang telat ikut briefing tapi bertanya pada sesi pertanyaan, kemudian dimaki oleh aparat. sampai dia terpikir, bukankah kebebasan dalam bertanya?

Profesi jurnalis punya syarat penting lainnya juga yaitu pemberani. Saat lantang berkata benar, bukan pesanan atasan. Juga saat di layar kaca, harus biasa menyiarkan berita dengan latar orang berdemo, latar saat lalu lintas padat, atau juga massa yang meneriakkan yel-yel spanduk, poster-poster, juga bendera. 

Keseruan cerita saat Julia mencari tahu detail informasi terkait kasus yang ada di Kediri dan yang menangani kasusnya Hakim Drajat, dan lain-lain. Dengan Grace sebagai orang yang membantunya, terlambat saat Grace tiba di Kediri ada orang yang telah mengambil dokumen dan tersisa hanya catatan di buku registrasi.

Julia jadi tahu bahwa ini juga terkait kasus seorang anak yang meninggal berpuluh tahun lalu, dan seorang kriminal yang tidak mendapat hukuman yang seharusnya. 

Sampai akhirnya Hotma Cornelius meninggal. Saat tidur tangan terkepal. Komplit urutannya tentara, polisi, hakim, jaksa dan pengacara. 

Salut dengan Tere Liye yang mampu membuat novel sebagus ini. Saat memberi tahu bahwa pasangan turis dari Basel, Swiss membagikan bantuan lalu mengadopsi bayi. Ada surat wasiat untuk anaknya kelak. 

Ternyata olahraga fisik yang dilakukan Anwar bukan tanpa alasan, tetapi karena dia memang disiapkan menjadi Sang Eksekutor. Menyelam berpuluh meter selama setengah jam lebih. Berlari 240 KM selama 12 jam, menguasai kemampuan bela diri, mengendalikan orang lain lewat suara. 

Julia pun diajak Anwar bergabung ke Markas The House of the Rijn, di dunia shadow economy yang memiliki markas bergerak. Selamat membaca buku Sang Eksekutor! Terima kasih Tere Liye telah membuat hari liburku terasa produktif! 


DATA BUKU 

Judul: Sang Eksekutor 

Penulis: Tere Liye 

Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara 

Tebal: 368 halaman 

ISBN: 978-634-704-6062

No comments