Jalan Cinta Perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Novel Sang Pangeran & Janissary Terakhir


Cover buku Sang Pangeran dan Janissary Terakhir


Dihantam sampai limbung oleh tulip dari Turki Utsmani, ditikam sampai sekarat oleh Pangeran dari Mataram. Kini dengan waswas dia mendengar selentingan bahwa Pangeran Diponegoro dari Dinasti pecahan Mataram di Yogyakarta itu juga dikelilingi beberapa sisa pasukan Janissary dari Turki Utsmani, atau jangan-jangan malah dipersenjatai dan juga didanai. Dalam bentangan angan antara Istanbul dan Yogyakarta, Van de Bosch tahu bahwa musuh sejati kepentingan Eropa serupa saja di mana-mana. Ialah Islam dan ajaran jihadnya. (hlm 85)

Bahasa yang meneduhkan saat membaca "Sang Pangeran & Janissary Terakhir", seakan mengobati jiwa yang sudah lama  gersang, juga pelepas dahaga dari melimpah ruahnya bacaan. Nuansa lokalitas yang kuat, bahasa yang bulat, renyah, penuh hikmah disampaikan Salim A. Fillah dalam novel terbarunya ini.

Salim A. Fillah mengemas kisah perjuangan dalam karya fiksi. Dengan gagasan yang menarik memadukan antara islam, dakwah, dan perjuangan membela tanah air menjadi semakin menarik untuk dibaca. Buku "Sang Pangeran & Janissary Terakhir Kisah, Kasih dan Selisih dalam Perang Diponegoro" merupakan buku pertama dari tetralogi Sang Pangeran.

Kisah dalam novel ini menjelaskan perspektif perjuangan yang berdarah darah, penuh dinamika dan konflik. Kisah uniknya Sultan Diponegoro yang dekat dengan beberapa Basahnya yang cendekia dan berasal dari Kekaisaran Ottoman yang menjadi penasihatnya selalu mengutamakan soal soal keagamaan maupun politik Islam dan hal itu yang menjadi pertentangan bagi londo ireng dan juga Belanda yang merasa terancam kekukuhan kekuasaan kolonialnya.

Orhan dan Murad adalah dua Janissary terakhir bersama Nurkandam Pasha dan Katib Pasha terdampar di kepulauan Nusantara yang sedang mengobarkan jihadnya melawan penjajah.

Dari asal katanya Janissary berarti prajurit baru, merupakan satuan elit militer kekaisaran Ottoman yang terkenal tangguh, disiplin, dan tak kenal mundur, ditakuti di Eropa selama berabad-abad.

Diponegoro seorang pangeran sekaligus ulama dengan pakaian khas jubah putih dan serban putih, kehadirannya ditakuti lawan dan tak sedikit orang-orang terdekatnya ada yang membelot, berkhianat dan memberontak padanya. Di sisi lain Pangeran Diponegoro sendiri tak haus kekuasaan, ia tak fanatik dengan tanah, namun jika dilecehkan agamanya, dihina agamanya, maka ia akan membelanya sampai mati daripada berdamai dengan para kafir laknat.

Ia memilih mengasingkan diri dari pergaulan Keraton di Purinya yang asri di Tegalrejo. Biasanya Para Pangeran, kerabat Keraton, pejabat tinggi, hingga ulama sering berkumpul pula disana dan membahas berbagai persoalan Negara.

“Para penguasa Jawa yang ingkar terhadap agama harus dilucuti dari kekuasaannya demi terciptanya suatu tatanan baru. Tatanan keadilan dan kemakmuran yang berlandaskan nilai-nilai kebenaran peparing dalem Gusti Allah dan Kangjeng Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam.” (hlm 325)

*
Novel Salim A. Fillah ini merupakan novel yang saya tunggu-tunggu karena di samping ingin tahu mengenai sejarah Pangeran Diponegoro, dan kehebatan Ulama dalam menegakkan kemerdekaan di tanah Jawa --yang selama ini hanya bisa kita lihat dalam foto-foto para pahlawan ketika zaman SD banyak yang disandingkan dengan pahlawan-pahlawan tanah air lain seperti Tjoet Nyak Dien, Pangeran Pattimura, dan lain-lain-- maka ketika ada novel sejarah yang membahas ini tentu saya tertarik.

Betapa juga saya bisa merasakan Pangeran Diponegoro hidup di hati masyarakat.

Besarnya sambutan rakyat atas Diponegoro memperkuat apa yang diduga De Kock selama ini. Betapa pun tampaknya kian sedikit rakyat yang membantunya untuk berperang, cinta di dalam hati mereka untuk Diponegoro luar biasa kukuh. Inilah yang barangkali membuat para pejabat Keraton di daerah-daerah yang kesemuanya berpihak pada Belanda selama perang pun turut mempersembahkan berbagai makanan ran hadiah hadiah ketika rombongan Sang Pangeran melintasi daerah mereka dalam perjalanannya dari Bagelen Barat ke Menoreh. Padahal Diponegoro sendiri telah mengumumkan sejak semula bahwa dia tidak sudi bertemu dengan para pejabat yang dia sebut sebagai "kafir murtad" antek-antek Belanda. (hlm 583-584)

Membaca novel ini tidak bisa dibandingkan dengan membaca novel populer yang lain, karena novel ini spesial dengan tema “sejarah” yang kuat, maka membacanya pun tidak bisa sekali duduk. Awal membacanya perlu beberapa waktu untuk masuk ke cerita novel, dan memahami gaya bertutur Ustadz Salim A. Fillah dalam novelnya, tapi begitu sudah masuk beberapa bab, dan percakapan-percakapan Jawa, membuat saya jatuh cinta dan terhanyut di dalamnya.

Ketika awal menggenggam buku dan membaca sinopsisnya, saya masih agak berkerut ketika membaca Kyai Gentayu. Baru tahulah saya kalau Kyai Gentayu adalah kuda kesayangan Pangeran Diponegoro, kuda hitam yang gagah dengan warna putih di ujung keempat kakinya, merupakan hadiah dari eyangnya ketika beliau dikhitan.

Sedang menengok covernya, saya sudah tertarik dengan fokus gambar sampul buku ada pada keris Pangeran Diponegoro yang fenomenal itu, yang juga menjadi salah satu saksi sejarah Perang Diponegoro (1825-1830).

Buku ini pula dilengkapi juga dengan nama-nama tokoh sejarah terkait Sang Pangeran dan Janissary Terakhir, sangat membantu saya ketika ingin mengulang dan menelisik lebih dalam tentang karakter dan detail tokoh di dalamnya.

Entah kapan terakhir kalinya saya bisa menikmati novel yang sangat terasa filmis ini seperti film Gunung Merapi, namun bedanya novel ini semakin kaya dengan banyaknya karakter yang di dalamnya, penokohan, juga setting tempat yang banyak baik dalam maupun luar negeri. Perbendaharaan kata dari bilingual di Jawa, Belanda, Turki menambah kosaka baru sebagai pembaca.

Penulis yang mengangkat tema sejarah dalam tulisannya masih bisa dihitung jari. Penulis Islam yang mengusung sastra profetik dalam novelnya selain Salim A. Fillah, ada Tasaro yang terlebih dulu telah menerbitkan buku tetralogi Muhammad, Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad: Para Pengeja Hujan, Muhammad: Sang Pewaris Hujan, Muhammad: Generasi Penggema Hujan yang menjadi istimewa adalah Ustadz yang juga penulis, saya mengenal beberapa ulama yang juga penulis yakni Buya Hamka yang tulisannya banyak sudah dibukukan, Ustadz Adian Husaini dengan novel KEMI-nya, dan Ustadz Habiburrahman el Shirazy yang novelnya sudah banyak diangkat ke layar lebar.

Baca juga : Review Novel Sejarah: Muhammad Sang Pewaris Hujan Tasaro GK Bagian I 

Kini Salim A. Fillah merambah menulis novel dengan nafas yang panjang yakni 632 halaman. Novel digambarkan dengan nilai estetis menggunakan sudut pandang orang ketiga, namun di bab terakhir bagian epilog menggunakan sudut pandang Aku dari sudut pandang juru tulis, Basah Katib. Bukan suatu hal yang tidak mungkin nantinya novel ini akan dialihbahasakan ke lebih dari 5 negara kelak, atau dijadikan film.

Dari segi plot, novel ini mengalami alur maju mundur ke setting tahun 1825-1837. Tanpa penekanan menggurui, pembaca dapat membaca sisi baik cerita ataupun sebaliknya. Sehingga tetap mengayakan diksi, imajinasi dan cerita bagi pembaca.

Terdapat banyak hal yang tidak mungkin, terjadi pada masa itu, yakni karamah orang shalih seperti ditolong harimau melawan Belanda juga diceritakan. Bagaimana pangeran Diponegoro juga diperlihatkan hal-hal yang mustahil manusia biasa merasakannya.

Sedang bumbu-bumbu kisah cinta syair-syair Basah Katib kepada Siti Fatmasari yang membuat Nuryasmin yang terluka hatinya pun dikisahkan menarik.

Nuansa lokalitas tanah Jawa begitu kuat. Saya bisa merasakan suasana keraton, dan dialog Jawa serta bumbu-bumbu ledekan khas Legowo dan Prasojo.

"Kang Prasojo!" tiba-tiba Basah Katib berteriak. "Dapat tidak ikannya?" 
"Belum, Gusti... Ini dari tadi digangguin terus sama Si Legowo..." 
"Wah, alasan... Lha wong dari tadi sudah tidak saya ganggu, tapi tetap belum dapat-dapat itu, Gusti..." (hlm 139)

Suasana makan malam itu begitu akrab dan syahdu. Seperti biasa, Prasojo dan Legowo terus saja meributkan hal-hal kecil di sekitar mereka. Prasojo mengutarakan keberatannya tentang nasi buatan Legowo yang terlalu lembek. Legowo balas berkata bahwa temannya itu tidak bisa memanggang ikan sehingga hasilnya gosong di luar tapi masih mentah di dalam. Prasojo mengatakan bahwa nyatanya Nurkandam dan Basah Katib menyukai ikan hasil masakannya. Kata Legowo, itu karena mereka terlalu lembut hati dan tak tega menyampaikan hal yang sebenarnya. (halaman 147)

Pikiran saya lalu terlempar ke era awal 2000-an yakni ketika saya dan adik menemani Ayah yang tiap malam biasanya menonton film laga setting Jawa seperti kisah Gunung Merapi dan Mak Lampir yang menarik itu. Saya masih ingat tokoh Sembara, atau Basir yang mengocok perut.

Buku terbitan Pro-U Media ini layak dibaca semua kalangan usia, dan semakin mewarnai perbukuan tanah air. Di dalamnya terdapat banyak nilai baik dari sisi sejarah islam, sisi nasionalisme, dan patriotisme. Di satu sisi menghibur pembaca di tengah banyaknya genre tulisan, di sisi lain bisa memetik hikmah dari peperangan yang terjadi, Perang Sabil; ada  hal yang bisa digali, termasuk hal yang terjadi di Keraton, semakin pelik kisah, kasih dan selisih dalam Perang Diponegoro, semakin erat jalinan yang bisa dirajut bab cinta, dakwah, dan perjuangan membela tanah air. []

Judul      : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis   : Salim A. Fillah
Cetakan : Pertama, 2019
Penerbit : Penerbit Pro-U Media, Yogyakarta
Tebal : 632 halaman
ISBN : 978-623-7490-06-7

14 comments

  1. Waahh baca reviewnya bikin saya teringat masa kecil, dulu saya paling suka baca-baca buku sejarah, terus takjub saat pertama kali ke Surabaya, bisa melihat langsung peninggalan sejarah.

    Jadi kepo ih ama novel ini, sarat cerita bermakna banget :)

    ReplyDelete
  2. Belum pernah baca buku2 karyanya salim A.Fillah.. tapi kelihatannya menarik yaa.. apalagi tentang sejarah yang dikemas dlm bentuk novel. pasti lebih menarik banget untuk dibaca dibandingkan baca buku sejarah langsung ya kann.. hehe..

    jadi penasaran sama ceritanyaa..

    ReplyDelete
  3. Ini pure novel atau berdasarkan fakta juga ya? Kadang-kadang kalau dibalut sejarah ntar kalau baca dikiranya beneran, padahal ada yang difiksikan dan tidak ada di dalam rangkaian sejarahnya. Btw, bakalan menarik juga nih mengikuti kisah Pangeran Diponegoro ini. Aku sama sekali belum pernah baca kisah beliau. Asyik nih dikemas dalam bentuk novel seperti ini ya.

    ReplyDelete
  4. Kisah pangeran Diponegoro digambarkan jelas di novel ini. Seharusnya bisa jadi buku bacaan siswa siswi dalam mempelajari sejarah, supaya mereka lebih tahu dalam tentang sosok pahlawan terdahulu dan mengambil suri tauladannya

    ReplyDelete
  5. Wah salut...saya kalau baca buku berat begini bisa berhari2 padahal sebetulnya bagus ya menambah pengetahuan seputar sejarah, budaya, dan agama 😊

    ReplyDelete
  6. Duh, dulu aku suka baca buku-buku kek gini Mba. Sekarang, jangan kan buku seperti ini, komik ringan aja gak kebaca. Mesti dipecut lagi nih minat baca bukuku, huhu

    ReplyDelete
  7. Mengenal sultan diponegoro dri sekolah dlu dan udah kagum karena ke pendek kawanannya..


    Kayaknya menarik buat dibaca lebih lanjut inu bukunya.. Sekalian utk mengenal sisi sejarah islam tempo dlu

    ReplyDelete
  8. Wah.. buku yang menarik untuk dibaca, khususnya bagi menikmat sejarah ya.. kalo waktu jaman sekolah kita hanya hapal tanggal lahir dan sedikit perjuangannya dalam membela tanah air, tapi melalui buku ini kita bisa mengenal sosok diponegoro lebih jauh dan lebih luas ya..

    ReplyDelete
  9. Huaaa...langsung pingin baca.
    Buku ini sebenarnya selalu lewat di linimasa saya, bahkan ada Anies Baswedan yang ikut promosiin tapi saya pikir itu buku terlalu berat kali. Nah, setelah baca reviewnya saya jadi tertarik. Makasih yah sudah berbagi.

    ReplyDelete
  10. Aku belum baca nih novelnya. Kemarin titip sama suami tapi belum sempat dibeliin. Mana harus PO kan ya ini novelnya

    ReplyDelete
  11. Kalau dipikir-pikir aku sudah lama banget nggak pernah baca buku sejarah. terakhir itu waktu jaman SMA. jadi tertarik membaca buku ini soalnya sista satu ini mengulas nya Keren banget jadi penasaran

    ReplyDelete
  12. Sepertinya menarik Mbak bukunya. Tentang perjuangan dan jihad ya ini.

    ReplyDelete
  13. waaahh Ustdz Salim A Fillah sekarang menulis novel berbau sejarah ya, pasti keren deh.
    tapi baca ini saya bisa roaming deh kayaknya karena banyak bahasa/istilah Jawa nya :D

    ReplyDelete
  14. Buku dengan cerita yang mengangkat nilai sejarah aku senang banget mbak, beberapa karangan juga aku pernah baca dan berharap bisa baca buku ini juga.

    ReplyDelete