Review Buku Buya Hamka: 4 Bulan di Amerika

Tuesday, September 10, 2019

Cover buku Buya Hamka: 4 Bulan di Amerika

Dalam buku ini Buya Hamka menceritakan perjalanannya saat ke Amerika, negeri adidaya, dikenal dengan 'Hollywood'. Saat membaca buku ini, kita seperti tengah berada di Amerika dan terbawa hanyut dalam diksi penuh makna.

Saat membayangkan hollywood, maka kita akan langsung teringat dengan aktris aktris yang selalu menjadi acuan seluruh negeri. Pada masa Buya Hamka dituliskan aktris pada masanya, "Hollywood khayali itu tidak dapat engkau lepaskan dari jiwamu lagi. Gadis-gadis di seluruh dunia pun disuruh "gila" dengan kumis Clark Gable, Errol Flyn, Turhan Bey, Robert Taylor, Alan Ladd, dan lain-lain. Bidang dadanya, senyumnya, tekanan ciumnya, lenggok dansanya yang membawa perempuan yang melihat, terbang dalam angan-angan, membumbung tinggi, walaupun hidup sendiri penuh dengan serba-serbi kegagalan." (hlm 54)

Hamka diajak ke tempat pembuatan film layaknya sebuah kota. Ibarat sebuah kota tersendiri, saya menjadi takjub membacanya.
"Perusahaan film itu besar dan hebat M.G.M, Fox, Universal, Paramount, Warner Bros, 20 th Century, dan lain-lain jika hendak dikunjungi semua, tidaklah akan cukup satu hari untuk satu perusahaan. Sebab itu, dicukupkan saja satu dan dikiaskan saja yang satu kepada yang lain. Kami datang ke Universal International.

Hollywood, kota tersendiri dan industrinya 

"Sebuah 'kota' kecil sendiri layaknya mempunyai pagaran kota dan dijaga oleh polisi sendiri. Sebagian adalah tempat berdirinya pejabat-pejabat dengan segala macam cabang dan bagiannya yang berpuluh-puluh: bagian perancang, bagian pembuat, dan bagian penyiar. Masing-masing terbagi kepada bagiannya pula: bagian pengarang, bagian pengatur, bagian pengambil gambar, bagian pencuci dan pemberi warna, penyusun suara, bagian pengatur pakaian dan make up, bagian pertukangan dan pembentuk background (latar belakang) film."

"Semua bagian mempunyai ratusan orang. Tukang-tukang entah berapa pula banyaknya untuk membuat bentuk negeri atau kota yang akan dilukiskan dalam film. Setelah susunan kantor-kantor, kita bertemu bukit-bukit, gunung-gunung, sahara, Paris di zaman Napoleon, sebuah hutan lebat di Sumatra, sebuah kota Amerika sebelah barat sebelum pecah Perang Saudara. Sebuah gudang untuk  menyimpan kapal perang, kapal api 60 tahun yang lalu, perahu meriam, dan lain-lain."(halaman 57)

Perbincangan Hamka dengan artis juga menunjukkan bahwa peran artis menjadi populer merupakan sesuatu hal yang diinginkan. Hamka diabadikan dengan Piper Laurie. Untuk menjadi sebuah film yang ‘wah’, maka mesti menunggu setahun lagi barulah dapat dipertunjukkan. Dipilih dulu gambar yang bagus, kemudian disesuaikan dengan pengambilan film dengan suara dan lain-lain.

Alkohol, dansa, dan sikap Buya Hamka

Minum alkohol dan dansa dengan hati baik telah dapat saya atasi. Bangsa Amerika atau bangsa Barat umumnya memang bangsa beradab, bangsa sopan, bangsa yang pandai bergaul, bangsa yang pandai ilmu jiwa, bukan bangsa "kurang ajar". Setidak-tidaknya selama di Amerika, kebetulan saya hanya bergaul dengan orang yang sopan santun, bukan dengan orang yang kurang ajar. Belum pernah saya diajak orang minum alkohol selama dalam perjalanan.

Jika kebetulan dalam suatu majelis orang minum alkohol dan kepada saya hendak disuguhkan karena mereka tidak tahu, saya beri tahu dengan hati baik. "Sorry, saya tidak minum alkohol." Dengan segera mereka minta maaf dan menarikan Coca ola atau orange crush.

Belum pernah saya bertemu dengan orang "kurang ajar" yang mengejek, menyindir, atau mencibir sebab saya tidak minum. Hal yang begini hanya saya pernah saya derita di Indonesia sendiri, di kalangan orang Indonesia yang katanya international minded. (hlm 242)

"Senantiasa orang mengusahakan supaya jiwa agama terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Agama jangan memberati, tetapi meringankan kenaikan jiwa. Hidup kebendaan jangan menjauhkan diri dari Tuhan." (hlm 95)

Kegembiraan hidup orang Amerika

Bab Kegembiraan Hidup, menjelaskan bahwa umumnya hidup orang Amerika gembira. Humor, yakni senda gurau di dalam batas kesusilaan adalah kekayaan dalam pergaulan.

"Suatu majelis hendaklah senantiasa gembira. Seberat-berat urusan, janganlah dihadapi dengan muka kerut. Kerut muka itu sendirilah menambah kerutnya pekerjaan. Apabila Tuan pandai membawakan sedikit senda gurau dalam batas susila, Tuan akan jaya bergaul dengan orang Amerika." (hlm 168)


Mulai saya bergaul dengan orang Amerika, sehari dua saya masih membawakan apa yang saya sangka “susila Timur”. Kuranglah meriahnya. Kemudian sikap itu saya longgarkan sedikit karena beberapa kali saya ditanya, “Tidakkah Tuan mempunyai sedikit humor?”

Saya menjumpai Sekretaris Federasi Gereja-Gereja Protestan di Washington. Lalu kami bercakap-cakap tentang agama-agama dalam cara yang agak filosofis. Sehabis bercakap mendalam itu, beliau bertanya, “Adakah Tuan mempunyai sedikit humor sebab saya mendengar dari Departemen Luar Negeri Tuan seorang pemuka Islam, pemimpin perserikatan Muhammadiyah, penasihat dari partai politik yang terbesar di Indonesia, Masyumi, dan penasihat di Kementrian Agama. Tidakkah ada waktu Tuan untuk bergurau?”

Lalu saya jawab, “Saya mengarang, memberi nasihat, dan tafakur. Setelah itu bekerja melakukan titah Tuhan memperbanyak jumlah manusia, sembilan anak saya. Setelah itu duduk tersenyum-senyum dengan ibunya!” Dia tersenyum dan sangat gembira, dan segala urusan pun lancar. (hlm 169)

Baca juga: Review Buku "Ayah," Kisah Buya Hamka 

Dalam jamuan makan di rumah Tuan Fran N. D Buchman, pembangun dari pergerakan Pembangun Budi Pekerti, kami berbicara sampai kepada urusan poligami.
“Agama Islam mengizinkan poligami. Istri Tuan berapa?”
“Hanya satu,” jawab saya.
“Kenapa hanya satu?” tanyanya.
“Saya baca peraturan Muhammad saw. tentang poligami dengan sangat saksama. Dia berkata boleh beristri satu, dua, tiga atau empat. Namun, kalau takut tidakkan adil, hendaklah pegang satu orang saja. dalam perintahnya yang lain dikatakannya, kamu tidakkan sanggup adil walau bagaimanapun kamu coba. Artinya, dalam perintah itu lebih banyak berbau larangan daripada keizinan. Sebab itu, saya mundur dengan teratur!”
Semua tertawa.
Seorang nyonya berkata, “Tentu istri Tuan sangat cantik!”
“Maaf nyonya dan maaf nyonya-nyonya yang lain. Bagi saya tidak ada perempuan secantik dia di dunia ini. Bertambah saya jauh mengembara di Amerika yang menjadi sarang orang cantik ini, bertambah saya teringat kepadanya!” Tertawa meriah majelis itu. (hlm 169)

Sehingga dapat dikatakan Buya Hamka ini seorang yang sangat setia, dan mencoba masuk ke orang Amerika tanpa lebur ke dalamnya.

Jika di zaman dahulu, Nabi Muhammad saw. pernah mengatakan ketika beliau hidup di padang pasir Arabia bahwa musafir adalah sepotong dari siksaan. Sekarang, jadilah musafir itu sepotong dari kesenangan. Betapa tidak, padahal di setiap kamar hotel itu ada alat pendingin di musim panas dan ada alat pemanas di musim dingin. (hlm 198)

Membawa budi Islam dimanapun berada

Buku 4 Bulan di Amerika dicetak pertama kali tahun 1952

Buya Hamka berkelana ke Timur dan Barat, Al Quran belum lepas dari tangannya. Apabila tertumbuk pikiran beliau melihat kecepatan kemajuan dunia ini, buntu jalan yang ditempuh, tidak ada tempat mengadu dan bertanya, melainkan Al Quran.

“Dan milik Allah timur dan barat. Kemana pun kamu menghadap disanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah, 2: 115)

Sebagai seorang Muslim, ketika Buya Hamka pergi ke negeri yang bukan Islam, beliau membawa budi Islam yang diajarkan Nabi saw. “Wakhaalikin naasa khulukin hasanin” (berbudilah kepada sesamamu manusia dengan budi yang baik). Tidak peduli apakah dia Islam atau bukan. Apakah dia orang Belanda, orang Amerika, orang Australia, atau orang Negro sekalipun. (hlm 254)

Judul: 4 Bulan di Amerika
Penulis: Buya Hamka
Cetakan: Pertama, 2018
Penerbit: Gema Insani
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-250-512-9

You Might Also Like

0 komentar

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#