REVIEW: BUKU JATUH DARI CINTA - BENNY ARNAS

Friday, August 11, 2017


Kata orang bijak, bila kau merindukan seseorang, sejatinya orang itu pun merasakan hal yang sama.
Bahasa yang meneduhkan saat membaca Jatuh Dari Cinta, seakan mengobati bacaan selama ini yang rumpah ruah. Nuansa lokalitas yang kuat, bahasa yang bulat, renyah, tidak bosan membacanya, disampaikan Benny Arnas dalam kumpulan cerpennya.

Selebihnya kumpulan cerpen ini mengisahkan orang-orang yang telah jatuh dari cinta. Cerpen-cerpen realis digambarkan dengan nilai estetis, menggunakan sudut pandang kau- akuan, berawal dari sastra koran yang ia kumpulkan menjadi lima belas cerpen.

Bila orang-orang mengatakan pernah jatuh cinta atau bila sedang menyukai seseorang menggunakan diksi ‘jatuh’, maka dalam kumcer ini mengisahkan pembenaran jatuh dari cinta.

“Suara-Suara yang Menciummu”, menggunakan sudut pandang aku setan. Kisah yang sangat inspiratif. Saya sempat berpikir kalau tokoh lelaki saleh itu akan ikut arus oleh dia perempuan yang begitu agresif menggodanya. Namun lelaki saleh tersebut lantas tersadar bahwa ia telah terhanyut oleh dosa. Ia lantas menyetir mobil, ingin sampai di rumah segera, menunaikan salat dzuhur, dan memohon ampun kepada Tuhan.

Sesalmu juga belum luruh ketika gadis itu berteriak histeris. Truk yang ada di depan kalian mengerem mendadak, dan… kau tak tahu apa yang harus dilakukan dengan sesegera, bahkan untuk menginjak pedal rem sekalipun.

Aku pergi sekarang. Sudah cukup aku menemanimu. Mulai detik ini kau bukan lagi urusanku. Setelah Izrail mengunjungimu biarlah Raqib dan Atid bermusyawarah dulu untuk menempatkanmu di mana. Tapi, menurutku, tak mungkin apa-apa yang telah kaulakukan sepanjang hari ini akan diputihkan begitu saja….

Selanjutnya kisah Kekerasan dalam Rumah Tangga hingga perceraian yang diungkap dalam cerpen “Natnitnole” dan “Keluarga Sempurna”, meskipun nasib dalam cerpen tersebut bercerai, Benny Arnas mengungkapkannya dengan baik dan kesedihan pada tokoh-tokohnya, agaknya ada yang hilang bagi suami istri tersebut.

Sebuah buku usang terbuka halaman tengahnya. Di sana terbaca sebuah paragraf.
Natnitnole adalah nama bunga yang selalu jatuh berserakan di taman-taman kota. Hatna Hatnareb saban pagi. Orang-orang yang lalu lalang di jalan setapak taman bagai bersicepat menginjaknya. Makin remuk mahkota dan kelopaknya, makin menyebarlah bau-bau harum yang bersumber dari kotak sarinya yang pecah.
Makin hancur bunga itu, makin semerbak wanginya.
Makin dibunuh cinta itu, makin hiduplah ia.
Hingga cinta yang menyimpang, seperti pada cerpen “Bumi Itu Bulat, Cinta” mengisahkan jatuh cinta dengan sesama jenis. Juga cinta yang berakibat pembunuhan pun diungkap dalam Cerpen “Yang Mencintai Yun Karena Yin”. Yun adalah orang yang ingin berbalas budi pada Yang, sosok pahlawan bagi dirinya, karena pernah menolongnya dari segerombolan berandalan yang hendak menodainya beberapa tahun silam. Hingga Yang dan Yun pun menikah.

Namun menjadi persoalan karena Yang sebenarnya mencintai Yin. Tetangganya banyak berkata kalau Yang kasar, preman pada Yun dan lagi-lagi Yun masih menganggap Yang tidak seperti yang mereka katakan. Sampai akhirnya Yun menyerahkan diri ke kantor polisi di Kecamatan. Orang kampung mengiringinya bukan karena apa-apa. Mereka bila jadi Yun pun akan melakukan hal yang sama: memelintir leher Yin dan menancapkan pisau ke ulu hati Yang. Sebuah suspens dibangun disini dan tampak pada akhir cerita. Sebuah kisah yang mungkin kerapkali kita temui di televisi.

Cerpen “Anak-anak yang Kembali” dan “Kabut”, cerita keduanya mengisahkan pertemuan kakak beradik yang pulang ke tempatnya dibesarkan, melepas kepergian Ibu untuk selama-lamanya, dan Benny  memasukkan unsur konflik batin yang membuat pembaca ikut terhanyut di dalamnya.
Tulisan Benny Arnas sepintas berbeda dengan tulisan FLP lainnya. Lewat bentuk cerita yang baik.
Cerita “Anak-anak yang Kembali” menceritakan tokoh Ibu Tua yang tertusuk rindu tak berujung pada putri-putrinya yang telah ‘dibawa’ para menantunya. Hingga akhir hayat Ibu Tua wafat karena dimamah bara berwarna arang berbaju abu, putri-putrinya tidak mengetahuinya. Sementara cerpen “Kabut” tentang sebuah penyesalan dan belum tertunaikannya keinginan Ibu oleh putra-putrinya.

Tanpa penekanan menggurui, pembaca dapat membaca sisi baik cerita ataupun sebaliknya. Sehingga tetap mengayakan diksi, imajinasi dan cerita bagi pembaca.

Kisah-kisah dalam cerpen ini menjelaskan perspektif cinta yang rumit, ketidakpastian, kesedihan, dan seperti cerpen realis lainnya: akrab terjadi di sekitar kita dan selalu ada hal yang bisa digali. Semakin kompleks kata cinta, kisah cinta, bukan lagi sekadar jatuh cinta. Tapi jatuh dari cinta. []

Judul: Jatuh Dari Cinta
Penulis: Benny Arnas
Cetakan: I, Mei 2011
Penerbit: : Penerbit Grafindo
Tebal: 216 halaman

ISBN: 978-602-84-5842-2


#odop11
#bloggermuslimah                                                                                                                                   

You Might Also Like

5 komentar

  1. Sukaa gaya nulis resensinya, jd pengin bisa nulis resensi juga.. kiatnya apa ya mba, apa harus gabung pelatihan nulis resensi gitu ya??

    ReplyDelete
  2. Saya belajar dari mentor nulis saya di FLP Bandung dulu, mba 😊 caranya sering baca cara orang lain nulis resensi, nanti makin lama kita juga bisa, insyaAllah

    ReplyDelete
  3. Buku yang menarik dengan review yang cantik sekali, Mbak. Suka banget cara Mbak Sri menuliskan tulisan ini. Bikin makin penasaran dengan bukunya.

    ReplyDelete
  4. Resensinya lengkap kak.. ^^
    Oya, quotes pertama itu, benarkah?

    ReplyDelete

KEB

#

Blogger Perempuan

#

Blogger Muslimah

#